Berita

Menteri Luar Negeri Antony Blinken/Net

Dunia

Amerika Jatuhkan Sanksi untuk Pejabat China atas Pelanggaran HAM dan Penindasan

SELASA, 22 MARET 2022 | 06:55 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah sanksi dijatuhkan Departemen Luar Negeri AS kepada para pejabat China pada Senin (21/3).

Sanksi dimaksudkan untuk menghukum Beijing atas dugaan penindasan, intimidasi, dan pelecehan terhadap aktivis hak asasi manusia dan pembangkang, baik di China dan di seluruh dunia.
Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengutip “genosida” terhadap Uighur dan penindasan di Tibet dan Hong Kong sebagai contoh pelanggaran.

"China berusaha untuk mengintimidasi, melecehkan, dan menindas para pembangkang dan pembela hak asasi manusia di dalam dan di luar,” kata Blinken, seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/3).

"China berusaha untuk mengintimidasi, melecehkan, dan menindas para pembangkang dan pembela hak asasi manusia di dalam dan di luar,” kata Blinken, seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/3).

Ia menambahkan, pelaku pelanggaran hak asasi manusia harus menghadapi konsekuensi.

"AS menolak upaya pejabat (Republik Rakyat China) untuk melecehkan, mengintimidasi, mengawasi, dan menculik anggota kelompok etnis dan agama minoritas, termasuk mereka yang mencari keselamatan di luar negeri, dan warga AS, yang berbicara atas nama populasi yang rentan ini," lanjut Blinken.

Washington mendesak Beijing untuk mengakhiri "genosida" dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung di Xinjiang, kebijakan represif di Tibet, tindakan keras terhadap kebebasan mendasar di Hong Kong, dan pelanggaran lainnya di tempat lain.

Pengumuman sanksi muncul setelah percakapan telepon pada Jumat (18/3) antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping, di mana Washington mengancam China dengan berbagai sanksi, kecuali jika China ikut menghukum Rusia atas invasinya ke Ukraina.

China adalah negara berdaulat yang menentang sanksi sepihak dan berhak membela kepentingannya.  Xi mengatakan kepada Biden bahwa China berdiri untuk perdamaian dan melawan perang dan mendukung solusi diplomatik dari konflik Ukraina.
 
“Semua pihak perlu bersama-sama mendukung Rusia dan Ukraina dalam melakukan dialog dan negosiasi yang akan membuahkan hasil dan mengarah pada perdamaian,” demikian pernyataan China usai percakapan kedua pemimpin berlangsung.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Iran Ancam Gunakan Segala Cara untuk Hadapi Agresi AS

Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:01

Serangan Israel Luluhlantakkan Gudang Obat Rumah Sakit Gaza

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:25

GP Al-Washliyah Dukung Kapolri Jadikan Semangat Hoegeng Budaya Kerja Polri

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:12

Kemensos Terbitkan Kartu Penyandang Disabilitas Virtual

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:04

PM Thailand Dijadwalkan Kunjungi Indonesia pada 3-4 Agustus

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:45

Bea Cukai Bongkar Dua Kontainer Berisi 7,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Sulsel

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:43

BRI Peduli Bantu Peternak Sapi Perah Malang Naik Kelas Lewat Klaster Unggulan

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:33

AS Terapkan Deposit Visa untuk 50 Negara hingga Rp360 Juta

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:22

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Berawal dari Keresahan, Rabundo Tembus Pasar Nasional Berkat Pendampingan BRI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:03

Selengkapnya