Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Dangdut, Musikalitas, dan Komoditas

SENIN, 14 MARET 2022 | 07:51 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BERGOYANG! Alunan musik dan suara gendang, disertai lantunan syair sang biduan, menjadi magnet yang menarik banyak peminatnya untuk turut larut berdendang bahkan bergoyang. Dangdut telah bertransformasi menjadi bentuk komoditas tontonan.

Lebih jauh lagi, panggung dangdut menjelma menjadi ruang kepentingan yang beragam rupa. Dangdut yang pada awalnya merupakan representasi orkes melayu, kemudian beradaptasi dengan berbagai bentuk baru sesuai lokalitas masyarakat di mana musik tersebut dihidupkan dan bersenyawa.

Dangdut kemudian dimaknai sebagai musik yang lahir dari kreativitas lokal, memiliki akar tradisi yang berbeda dari berbagai jenis genre sebelumnya. Musikalitas dangdut, bahkan sebelumnya diasosiasikan dekat dengan kalangan kelas bawah, bercampur baur di area kumuh secara sosial, beralih rupa menjadi hiburan untuk semua.


Tapi begitulah dangdut berangsur memperoleh segmen peminatnya secara meluas, mulai dapat diterima semua kalangan. Lintasan orbit musik dangdut berubah, mengalami fenomena naik kelas, seolah naik status bahkan naik derajat. Sejatinya musik adalah sarana relaksasi manusia, untuk menjadi manusia.

Dangdut yang dipertontonkan melalui orkes keliling, kemudian mulai mendapatkan ruang pentas, masuk ke industri rekaman, hingga menjadi suguhan yang menyedot perhatian khalayak pemirsa melalui tayangan media. Sebuah fase industrialisasi budaya tercipta.

Tahap kesejarahan dangdut, ikhwal, dan bagaimana musik ini mengalami perkembangan terungkap melalui hasil penelitian Rubiyanto, 2022, "Dangdut dalam Cengkraman Televisi". Dalam temuannya, musik dangdut telah menjadi sebuah komoditas, mata uang baru di dalam era modern.

Proses komodifikasi, perubahan nilai guna dangdut menjadi nilai tukar komoditas, menyebabkan modifikasi tidak hanya pada terjadi pada konteks selera audiens, tetapi juga pada bagaimana media membentuk suatu budaya baru yang terindustrialisasi, dalam format yang interaktif.

Dangdut yang mengakar dari kehidupan masyarakat, sebelumnya ada di ruang budaya keseharian publik, kemudian tercerabut menjadi sebuah nilai yang diperdagangkan. Pentas dan panggung hingga berbagai acara tontonan yang bertajuk dangdut berupaya mengejar pasar -market, rating dan share audiens.

Problemnya semakin kompleks, dangdut kemudian diidentifikasi sebagai sarana penarik massa dalam jumlah besar. Panggung dangdut kemudian ditautkan dengan kepentingan politik. Kini terasa tidak lengkap bila sebuah kampanye politik, bila tidak disertai dengan konser dangdut.  

Musik yang merakyat dengan musisinya, lantas menjadi alat propaganda politik. Para tokoh dangdut kemudian secara bersamaan terafiliasi dengan partai politik, tidak hanya menjadi penghibur tetapi sekaligus ditempatkan menjadi fungsionaris kepartaian, akibat daya tarik popularitas musik dangdut.

Peran media dan musik dangdut berinteraksi secara saling bergantung. Posisi dangdut mendapat tempat yang cukup dominan di media, manakala ukuran kuantitatif pasar terpenuhi. Disini letak pelik dari potensi keberlangsungan musik dangdut, ketika telah dieksploitasi dan tidak lagi menarik bagi industri.

Pecinta dan artis dangdut harus berhadapan dengan realitas bahwa sesungguhnya dalam proses komodifikasi musik dangdut, telah menempatkan mereka sebagai objek komoditas.

Karena itu, upaya untuk tetap mempunyai posisi tawar yang lebih baik di dalam situasi tersebut adalah i) membangun kekuatan berhimpun organisasi musisi dangdut secara profesional, ii) di tengah kemajuan teknologi, harus terdapat upaya untuk menjalin interaksi langsung pada khalayak -prosumer.

Dangdut tentu tidak hanya akan menjadi tontonan yang menarik lengkap dengan goyangnya, sekaligus dapat menjadi tuntutan dengan nilai dasar hiburan secara relevan sesuai dengan konteks laku jaman. Ayo tarik bang gendang!

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya