Berita

Ilustrasi

Dahlan Iskan

Sanksi Isolasi

JUMAT, 04 MARET 2022 | 04:52 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SUDAH tiga hari saya tidak bisa menghubungi kenalan di Kiev, ibu kota Ukraina. WA saya pun tidak dibalas. Bahkan tidak dibaca. Saya bisa menduga mereka sudah tidak di Ukraina lagi. Kartu telepon Kiev-nya tentu sudah tidak berfungsi lagi di area lain.

Saya masih berharap mereka mau kirim nomor baru ke saya. Dari mana pun tempat mereka yang baru. Tapi harapan itu tidak muncul pun sampai tadi malam.

Saya pun menelepon Sasha (Aleksandra Klintsevich) mahasiswi Belarusia yang kuliah di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS): apakah sehari kemarin Sasha masih bisa menelepon teman-teman di Ukraina? Dan apakah mereka masih bisa menonton TV Ukraina?


Sasha menjawab: "Saya masih bisa menelepon mereka tadi. Mereka juga masih bisa menonton TV Ukraina."

Berarti Kiev masih terkontrol oleh tangan pemerintahan Presiden Zelenskyy.

Kemarin Anda sudah tahu: hari kedelapan perang di Ukraina. Masih datar-datar saja.

Kalau sampai hari ke-10 besok Kiev belum juga jatuh ke tangan Rusia apa yang akan terjadi?

Mungkin juga tidak terjadi pembalikan keadaan. Kelihatannya tidak akan ada bantuan militer dari luar Ukraina. Atau pun peralatan tempur yang canggih.

Ukraina akan bertahan dengan apa yang ada. Inilah perang yang pihak penyerangnya tidak perlu kesusu. Penyerang seperti tidak takut pihak yang diserang sempat konsolidasi. Atau sempat terima bantuan yang hanya telat datang.

Amerika Serikat memang memberikan dukungan penuh pada Ukraina. Seperti yang ditegaskan Presiden Joe Biden di pidato kenegaraan tiga hari lalu. Tapi Amerika sudah pasti tidak akan mengirimkan pasukan ke Ukraina.

Kalau Amerika saja bersikap seperti itu berarti Inggris juga begitu. Apalagi Jerman. Lebih-lebih lagi Prancis.

Kini patriot Ukraina harus berjuang sendiri: bela negara tercinta. Tapi kekuatan Ukraina memang terbatas. Di kota-kota yang sudah ditaklukkan Rusia, tidak terjadi perlawanan yang sesungguhnya.

Kota Kharkiv, Mariupol, dan Kherson sudah kosong dari tentara Ukraina. Kharkiv adalah kota terbesar kedua di Ukraina. Sekitar 500 Km di timur Kiev. Mariupol dan Kherson adalah dua kota pelabuhan di selatan. Dari Kherson pasukan Rusia akan menuju kota pelabuhan terbesar: Odesa.

Seharusnya, negara sekuat Rusia bisa menaklukkan Ukraina dalam satu atau dua hari. Kenyataannya, hari ke delapan lewat begitu saja. Odesa pun belum dimasuki. Apalagi Kiev.

Pengamat militer di Barat pun bertanya-tanya: mengapa begitu. Sudah pasti bukan karena perlawanan yang menakutkan. Memang banyak barikade dipasang di jalan-jalan masuk Kiev, tapi tumpukan pasir dan karung itu tidak ada artinya bagi tank Rusia.

Berarti Rusia memang tidak memilih cara perang kilat. Dan Barat memang lebih fokus pada serangan di bidang ekonomi. Barat akan melumpuhkan Rusia dari kekuatan ekonominya.

Serangan seperti itu sudah terbukti menyengsarakan negara seperti Iran, Korea Utara, dan Kuba. Juga Venezuela. Dan Bolivia.

Negara-negara itu menderita karena diputus saluran darah mereka: negara lain pun kena sanksi bila berbisnis dengan mereka.

Demikian juga perusahaan yang menjalin bisnis dengan negara-negara itu. Pasti takut. Meng Wanzhou, putri pendiri Huawei itu, sampai ditangkap Amerika hanya gara-gara tuduhan anak perusahaan Huawei berbisnis dengan Iran.

Apakah Rusia akan diisolasi sampai sekeras isolasi terhadap Iran? Dan Rusia akan mengalami kesulitan yang sama dengan Iran?

Sejauh ini sanksi pada Rusia sebatas untuk perusahaan-perusahaan Rusia tertentu. Juga untuk tujuh bank Rusia. Termasuk untuk tokoh-tokoh bisnis Rusia yang dianggap dekat dengan Vladimir Putin. Tapi belum ada sanksi kepada perusahaan atau negara yang masih berbisnis dengan Rusia.

Rusia adalah negara besar yang bisa hidup mandiri: energinya cukup untuk ekonomi dan rakyat mereka, sumber pangannya cukup, jumlah penduduknya juga cukup besar untuk memutar perekonomian, wilayahnya sangat luas –daratan maupun lautnya.

Kalaupun Rusia harus –seperti penderita Covid– menjalani isolasi, maka ia akan seperti isolasi di sebuah vila yang besar: yang ada sawahnya, kolam renangnya, lapangan sepak bolanya, dan karaokenya.

Itu mirip Tiongkok. Atau Amerika sendiri. Atau juga mirip Indonesia –kalau saja kita cukup energi dan pangan.

Apalagi kalau Rusia dan Tiongkok akan menjalani isolasi bersama. Itu akan seperti dua villa besar yang dibuka pagarnya.

Itulah yang tidak bisa dilakukan Iran, Korut, dan Cuba. Juga Venezuela dan Bolivia.

Maka kalau pun di hari ke 10 besok Kiev sudah bisa jatuh ke tangan Rusia, perang masih akan terus berlanjut di bidang ekonomi. Kali ini kita akan ikut jadi pelakunya –setidaknya bisa menjadi korbannya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya