Berita

Dari kiri ke kanan: Megawati Soekarnoputri, Rizal Ramli, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama/RMOL

Publika

Manipulasi Publik Opini oleh PollsteRP

MINGGU, 27 FEBRUARI 2022 | 06:41 WIB | OLEH: DR. RIZAL RAMLI

SURVEI opini publik itu hal yang lumrah, bagus dan bermanfaat jika dilaksanakan secara objektif. Hasilnya bisa jadi “guide” untuk kebijakan publik.

Tapi bisa jadi malapeteka jika survei tidak dilakukan secara objektif dan digunakan untuk manipulasi opini berbayar.

Contoh manipulasi opini: ketika barang-barang langka, harga naik, pengangguran tinggi dan daya beli merosot. Kok bisa hasil survei kepuasaan 73%?


Ini teori ekonomi baru, kayaknya pantas untuk calon hadiah Nobel tahun 3000?

Inilah contoh manipulasi opini publik dengan melalui SurveyRP oleh PollsteRP.

Dalam upaya manipulasi publik opini itu, PollsteRp tidak berkerja sendiri, tapi sering secara bersama-sama, rombongan in-tandem, mereka tidak kompetitif bahkan sering berkerja secara kartel (5-9 PollsteRp) yg dibayar untuk merekayasa (spin) opini publik demi kepentingan yg bayar.

Contoh lain dari manipulasi opini berbayar yg dilakukan PollsteRp:

1. “Effek Jokowi” pada Pilpres 2014. Kartel, terdiri dari 9 PollsteRP, disewa untuk memompa rating capres Jokowi. Mereka secara simponi menyatakan kalau Mbak Mega jadi Capres pasti kalah.

Tapi kalau PDIP mencalonkan Jokowi sebagai Capres, Jokowi pasti menang, dan PDIP akan dapat bonus dari “Effek Jokowi” naik mencapai 34%.

PollsteRP dalam kartel yg sama menjanjikan kesimpulan yang sama hanya “Effek Jokowi” beda-beda tipis, 32% sampai 35%. Pilpres 2014, Jokowi memang menang, tapi PDIP hanya naik dari 14,3% menjadi 18,95% tahun 2014.

Kesalahan perkiraan PollsteRp 15%, atau 7,5 kali  Margin of Error (2%)! Ini penipuan publik opini luar biasa.

2. Pilkada Gubernur 2017, team Ahok menyewa 7 PollsteRp untuk memompa rating Ahok. Rombongan PollsteRp berbayar itu, menyimpulkan Ahok akan menang lawan Anies.

Menjelang Pilkada, saya menyatakan kepada Jokowi di istana bahwa Ahok bakal kalah double digit.

Saya mengatakan kepada Jokowi, “Saya tidak punya perusahaan polling. Tetapi ketika naik taxi, bajay, dan Gojek, terus melakukan random survey, dan simpulkan Ahok bakal kalah double digit”.

Jokowi jawab,”Mas Rizal, hasil ke 7 pollster, Ahok akan menang 2-4%.”  

Ternyata Ahok kalah 15%. Kesalahan perkiraan rombongan PollsteRP 17 sampai 19%, atau 8,5 sampai 9,5 kali Margin of Error. Keteledoran manipulatif  yang luar biasa!

PollsteRP membela diri dengan selalu mengatakan bahwa survei-survei mereka dilakukan dengan berlandaskan methoda akademik dan statistik. Metode survei itu sudah standard dan kalau dilakukan secara benar, kesalahan perkiraannya hanya akan +/- Margin of Error, bukan berkali-kali Margin of Error!

Jawaban responden terhadap pertanyaan survei akan sangat tergantung pada framing atau arah pertanyaan. Framing umum, apakah Anda puas, cendrung akan dijawab “ya”.

Tetapi framing lebih khusus: misalnya apakah Anda puas dengan kenaikan harga dan kelangkaan, cendrung dijawab “tidak puas”.

Pertanyan yang lebih spesifik tentang ekonomi, sosial, pajak, JHT, wajib kartu BPJS dsb akan memberi jawaban yang berbeda.

Dalam banyak kasus, PollsteRp juga bertindak sebagai konsultan politik, bahkan sampai door-to-door campaigning.  Tidak ada transparansi dan independensi.

Walaupun umumnya pemilihan responden dilakukan dengan “stratified sampling” (sekitar 1.200 orang).  Tapi sering tidak ada perubahan responden selama bertahun-tahun. Statis dan banyak yang kena “Stockholm Syndrome” yang membuat mereka semakin tidak independen.

Apakah yang bisa dilakukan agar survei-survei opini publik objektif dan tidak manipulatif dan membajak demokrasi:

1. Harus ada transparansi siapa yang membiayai survey itu.

2. Hasil survei hanya boleh diumumkan jika +/- 1 kali Margin of Error.

3. Perlu transparansi teknik sampling dan apakah responden statis dan dibayar?

4. Pollster tidak boleh merangkap sebagai konsultan, apalagi door-to-door campaigning.

5. Media disarankan untuk tidak memuat hasil Pollster secara verbatim, tapi disertai info siapa yang bayar, track record Pollster, dan review oleh analis independen.

Metodologi survei penting, tapi lebih penting lagi etika dan moralitas intelektual surveyor. Biases  secara sengaja dan sistematis merupakan bentuk dari penghianatan intelektual.

Penulis memiliki pengalaman riset sosial-ekonomi  di berbagai sektor dan daerah di Indonesia selama 17 tahun.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya