Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Menjadi Manusia yang Manusia

RABU, 05 JANUARI 2022 | 15:45 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BAIK atau buruk? Kita terlahir dalam hakikat yang membawa sifat-sifat baik atau bergumul dengan kehidupan yang buruk. Pertanyaan besar itu menggantung di benak para peneliti, ketika melakukan kajian mengenai manusia. Lalu mengapa perang, kejahatan, dan kebengisan tercipta? Apa penyebabnya?

Kisah sepasang kekasih di Garut, yang mengalami kecelakaan lalu lintas, dan berakhir dengan pembuangan korban oleh pelaku, menyisakan pilu. Bagaimana mungkin hal sekeji itu terjadi? Dalam lintasan kondisi psikologis seperti apa yang menyebabkan situasi tersebut hadir sebagai sebuah realitas?

Pada kenyataannya manusia memang merupakan spesies yang menarik. Dengan segala kemajuan dan modernitas yang dimilikinya, hadir pula keburukan menyertainya. Dengan begitu kehidupan manusia seolah berada di antara dua dunia yang saling bertolak belakang. Satu sisi baik, di sisi lain buruk.


Begitulah laku hidup manusia. Kajian Elizabeth Kolbert, "Di Bawah Langit Putih" 2021, memperlihatkan bagaimana manusia berupaya untuk mencapai taraf peradaban yang mutlak, secara bersamaan menimbulkan situasi kerusakan yang tidak kalah dahsyatnya.

Singkat kata, polusi dan pencemaran udara datang bersamaan dengan keberadaan pembangkit listrik tenaga karbon. Upaya memfasilitasi kehidupan yang lebih baik, berujung pada ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri. Pertahanan alami menghilang, yaitu kewarasan dan kemanusiaan.

Tampak kontradiktif, namun begitulah kenyataan yang ada. Di berbagai dunia sektor korporasi mengejar profitabilitas seolah mengabaikan dampaknya. Sementara itu di tempat berbeda, berbagai kelompok sosial mengelola perbaikan kualitas hidup manusia mereduksi dampak pembangunan yang eksesif.

Seolah kedua kaki manusia berjalan ke arah yang saling berlawanan, meski pada akhirnya sama-sama melangkah. Benarkah keberadaan manusia dibangun dengan saling unjuk kekuatan, landasan utamanya adalah berupaya saling menaklukkan? Rekaman sejarah terlihat abu-abu menjawabnya.

Bagaimana mungkin deklarasi hak asasi manusia, membiarkan terjadinya kelaparan, kemiskinan dan kebodohan serta ketimpangan? Tingkat yang lebih ekstrem secara terbuka, bahkan tercipta konflik perang antar saudara, hingga pengungsian. Benarkah kita makhluk yang beradab?

Peradaban dan kemajuan yang diharapkan berjalan selaras dengan kebaikan, justru membuka Kotak Pandora keseimbangan ekosistem. Pada kisah manusia kemudian hiduplah menjelajah, mencari sumber modalitas baru, mengarungi samudera, memakai metode perang menghancurkan untuk menguasai.

Berbagai kelumit pertanyaan tersebut, dalam kajian CB Kusmaryanto, "Bioetika" 2021, menghadirkan prinsip double effect -efek ganda. Problemnya ditempatkan pada kedudukan keutamaan, yakni memastikan kehidupan sebagai hal yang tidak tergantikan. Perlu dikaji asal muasal urutan kejadian.

Korban pencurian tidak bisa memilih berdiam diri lalu terbunuh, dalam upayanya mempertahankan nyawa dan harta yang dimiliki, maka korban berhak untuk melindungi diri meski menyebabkan si pencuri terbunuh.

Lalu pada kisah perang yang disebut sebagai upaya peradaban? Siapa yang diberi keluasan tersebut? Kematian menjadi diskusi yang tidak menarik dalam situasi konflik.

Padahal manusia memiliki rasionalitas dan nilai moralitas. Hal tersebut membedakan manusia dari binatang, meski tidak bisa sepenuhnya menjadi malaikat. Karena itu kemudian hawa nafsu dan emosi mutlak harus dikendalikan, agar tidak menjadi bersifat destruktif.

Penelitian yang menghadirkan perspektif baru, dari sudut pandang umum berlaku tentang homo homini lupus -manusia yang menjadi serigala bagi manusia lain, mendasarkan diri pada konsep homo socius -makhluk yang bersahabat. Tulisan panjang Rutger Bregman, "Humankind, Sejarah Penuh Harapan" 2020, menyajikan temuan tersebut, tentang manusia yang sesungguhnya baik.

Dalam berbagai kejadian, bahkan dalam momentum perang terhebat umat manusia modern sekalipun sebagaimana perang dunia ke-II, diketahui bila manusia menghindar untuk menyakiti manusia lain secara langsung dan terbuka. Hal itu terlihat aneh, namun begitu faktanya, itulah kemanusiaan.

Hal penting yang menurut Bregman menjadi pemandu dari kewarasan manusia dalam menjaga sifat baik kemanusiaan adalah dengan (i) menghilangkan bias negativitas, (ii) berasumsi baik, (iii) mengupayakan kemenangan bersama, hingga (iv) berupaya memahami dan mencintai manusia lain.

Jelas bukan perkara mudah, kemanusiaan sudah dikotori oleh kompetisi, bersaing untuk menjadi yang berada di puncak teratas, ada ambisi dan nafsu kekuasaan di sana. Kegelapan itu semakin menjadi ketika kita tenggelam dalam gulungan informasi yang salah. Hari-hari ini kita semakin sering melihatnya.

Problem pokoknya, apakah kita mau larut dalam situasi tidak berujung kehilangan rasa kemanusiaan, ataukah kita mulai bersiap untuk mengasah kepekaan kemanusiaan? Pilihan itu di tangan kita!

*Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya