Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

InsideOver: Lewat BRI, China Mengekspor Kebiasaan Korupsi ke Negara Lain

RABU, 29 DESEMBER 2021 | 14:34 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Proyek ambisius China, Belt and Road Initiatives (BRI), dinilai sia-sia lantaran penuh dengan korupsi, utang, hingga kerusakan lingkungan.

Sebuah laporan dari media InsideOver yang dikutip ANI News pada Rabu (29/12) menyoroti cara yang dilakukan oleh para pejabat dan perusahaan China untuk mendapatkan keuntungan.

Pada 2018, sebuah studi menemukan 270 dari 1.814 proyek terkait BRI memiliki masalah terkait utang, standar ketenagakerjaan dan lingkungan, keamanan, transparansi, dan korupsi.


Sementara dalam survei McKinsey pada 2017, disebutkan 60 persen hingga 80 persen perusahaan China di Afrika mengaku membayar suap untuk mendapatkan kontrak.

Lebih lanjut, perusahaan-perusahaan China mencetak skor kedua dari terakhir di salah satu Indeks Pembayar Suap Internasional Transparansi di Benua Eropa.

Dalam proyek-proyek BRI, beberapa kasus korupsi telah muncul dalam pola yang identik, seperti negosiasi dan kesepakatan yang dilakukan secara tertutup dan diam-diam.

Selain itu, secara umum, biaya yang dikutip sangat tinggi jika dibandingkan dengan biaya yang berlaku di pasar.

Dalam banyak kasus, biasanya, para pejabat tinggi di negara-negara target BRI terlibat dalam pengalokasian proyek ke perusahaan China. Pada tahap awal, proyek-proyek tersebut disebut-sebut sangat bermanfaat bagi penduduk lokal dan negara peserta, tetapi pada akhirnya proyek tersebut belum membuahkan hasil.

"Dengan adanya proyek-proyek tersebut, perusahaan China dan pejabatnya telah mengekspor korupsi ke negara BRI dengan menyuap otoritas lokal atau pemerintah dalam mengamankan sumber daya mineral, termasuk mineral tanah yang jarang di negara-negara Afrika," tulis laporan tersebut.

Sehingga proyek-proyek tersebut dirancang untuk menghasilkan keuntungan bagi para pejabat dan perusahaan China dengan mengorbankan sumber daya alam atau rakyat negara tersebut.

Bahkan dalam banyak kasus, negara-negara yang korup dalam proyek-proyek tersebut akhirnya gagal membayar kembali pinjaman ke China dan terjebak debt trap.

Salah satu contoh paling mencolok dari salah urus China adalah proyek , Kereta Api Nairobi-Mombasa di Afrika Timur. Proyek tersebut dikenal sebagai SGR atau Standard Gauge Railway mengalami kegagalan tata kelola yang signifikan dan korupsi.

Pada 2018, pihak berwenang Kenya juga menangkap tujuh pejabat dari China's Road and Bridge Corporation sehubungan dengan upaya penyuapan yang dimaksudkan untuk menggagalkan penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap korupsi SGR.

Masih tahun yang sama, otoritas Kenya menangkap beberapa pejabat tinggi atas korupsi dan penipuan, termasuk Ketua Komisi Pertanahan Nasional Kenya dan Managing Director Kenya Railways Corporation.

Para pejabat ini diduga bersekongkol dengan skema pengadaan tanah penipuan senilai 2 juta dolar AS, di mana mereka secara ilegal memperoleh tanah milik pemerintah dan kemudian menjualnya di bawah proses kompensasi yang dimaksudkan untuk membayar mereka yang tanahnya berada di jalur kereta api baru.

Di Afrika, banyak negara yang berpartisipasi dalam BRI secara luas menghadapi kesenjangan tata kelola publik dan keterputusan antara insentif elit pemerintahan dan insentif masyarakat pada umumnya.

Untuk itu, transparansi dan akuntabilitas perlu dipulihkan di negara-negara BRI.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya