Berita

Tawfik Hamid/Net

Dahlan Iskan

Benci Sayang

SABTU, 18 SEPTEMBER 2021 | 05:01 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

KASIH sayang itu jiwa asli manusia yang dibawa sejak lahir. Kebencian itu datang akibat pendidikan dan lingkungan.

Itu bukan kata-kata ciptaan saya. Itu saya gubah dari salah satu isi grup WA. Saya diikutkan di dalamnya.

Lebih 10 grup WA yang saya ikuti setiap hari. Ada yang sangat oposisi. Ada yang sangat pro. Ada pula yang memperjuangkan sikap moderat.


Tentu ada juga grup WA yang sangat pribumi. Saya ada di dalamnya. Tapi saya ikut dalam grup yang sangat Tionghoa.

Soal kalimat-kalimat yang saya sadur tersebut dari grup WA yang memperjuangkan sikap moderat. Banyak kiai di dalamnya. Banyak juga profesor dan doktor.

Saya tidak mempersoalkan apakah kredo tersebut benar. Juga tidak bertanya: apakah itu didasarkan pada penelitian ilmiah.

Setidaknya itu memberikan gambaran baru bagi saya. Yang sejak kecil sudah mendapat penjelasan: semua sifat yang melekat pada manusia itu warisan sejak Nabi Adam. Termasuk unsur kebencian dan kejahatannya.

Memang, kalau saya ingat, saya pernah terpengaruh orang tua: membenci Pak De, kakak ibu saya. Sampai-sampai salah satu tanamannya saya tebang. Secara sembunyi-sembunyi –tapi ketahuan.

Orang tua saya sebenarnya tidak mendidik saya untuk membenci Pak De. Orang tua selalu mengajarkan untuk menghormati orang yang dituakan. Tapi saya pernah mendengar –sebagai anak kecil– orang tua yang sedang ngobrol dengan kakak saya yang sudah dewasa: betapa ibu saya menderita akibat Pak De.

Pun itu hanya cerita. Obrolan. Semacam rerasan –mungkin disebut curhat di zaman sekarang. Atau kelasnya lebih rendah dari curhat. Mungkin hanya karena tidak ada bahan omongan lain. Padahal orang itu kalau lagi duduk-duduk harus saling bicara. Di desa duduk-duduk memang bisa lebih banyak dari sibuk-sibuk.

Baik mana: lebih banyak bisa duduk-duduk yang membuat keluarga berinteraksi atau lebih banyak sibuk sampai tidak bisa memperhatikan keluarga?

Dalam kasus mengobrolkan Pak De itu jelas pengaruhnya pada saya: jadi membenci Pak De. Padahal orangtua saya sendiri, dalam kehidupan sehari-hari, saya lihat, bersikap sangat hormat pada Pak De.

Hanya saja ayah saya selalu merasa tidak enak di setiap bulan puasa. Ia harus menggantikan Pak De jadi imam shalat tarawih –karena hafalan ayat-ayat kitab sucinya lebih banyak. Dengan demikian di 27 rakaat itu –unit gerakan dalam shalat– bisa selalu menampilkan surah –kumpulan sejumlah ayat– yang berbeda.

Isi obrolan yang didengar anak kecil pun bisa menimbulkan dorongan perbuatan menumbangkan tanaman.

Itu baru obrolan. Yang didengar secara tidak sengaja.

Masih ditambah obrolan sesama teman. Atau buku pelajaran.

Pengajaran di sekolah yang berulang-ulang lebih dahsyat lagi. Jadinya, ketika remaja, begitu banyak yang harus saya benci: Yahudi, Kristen, orkes melayu dari desa tetangga, Bani Ummaiyyah, Abu Jahal, pemain voli dari sekolah sebelah, tikus yang pernah makan kulit tumit saya sampai berdarah –saat saya tidur lelap di atas tikar.

Saya juga membenci cangkul yang pernah membuat satu jari kaki saya hampir putus. Saya kencingi luka itu –begitulah salah satu cara pengobatan di sawah– sebelum meneruskan mencangkul lagi.

Setelah dewasa saya ke makam Pak De. Saya minta maaf di makam itu. Saya sudah berubah dari benci ke yang lebih netral.

Dari benci ke netral bisa juga karena pendidikan –termasuk pergaulan yang lebih luas, bacaan yang lebih bervariasi dan sikap kritis kepada apa saja.

Minggu lalu saya membaca artikel seorang dokter asal Afghanistan di Wall Street Journal: Tawfik Hamid. Yang sudah lama menjadi warga negara Amerika. Yang di Amerika bergiat di gerakan mengurangi sikap ekstrem di kalangan Islam.

Salah satu metode yang ia pakai adalah: membawa gelas warna-warni. Ia tidak yakin berhasil: kebencian dilawan dengan kebencian.

Salah satu penyebab ekstrem, katanya, adalah sudut pandang. Di bidang apa pun. Termasuk sudut pandang terhadap bunyi satu ayat di dalam kitab suci. Tafsir. Sudut pandang dari penafsir. Yang bisa saja berbeda dengan penafsir yang lain. Apalagi di zaman yang beda. Dan di bangsa yang tidak sama.

Air Zam-Zam pun –air yang tidak pernah habis dari sumber yang letaknya sekitar 33 langkah dari Kabah– warnanya sama.

Tapi tuangkanlah air Zam-Zam itu ke gelas yang warnanya berbeda. Lalu lihatlah air itu. Warna gelas akan membuatnya tampak berbeda.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya