Berita

Terjemahan surat dari Zongli Yamen, atau kementerian luar negeri Kekaisaran Qing, yang ditujukan kepada Tuan Henry Bax-Ironside di Legiun Inggris di Peking/Net

Dunia

Arsip Bersejarah Tahun 1899 Bongkar Fakta Mengejutkan: Kepulauan Paracel Bukan Milik China

JUMAT, 10 SEPTEMBER 2021 | 07:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Klaim China atas Kepulauan Paracel kemungkinan besar akan luruh dengan ditemukannya salinan dokumen semi resmi di Arsip Nasional Inggris.

Salinan itu berhasil ditemukan oleh Bill Hayton, seorang jurnalis Inggris.

Salinan itu menunjukkan bahwa hingga akhir Dinasti Qing, pihak berwenang Tiongkok tidak menganggap Kepulauan Paracel sebagai bagian dari wilayah Tiongkok.


Butuh waktu panjang bagi Hayton untuk menemukan arsip-arsip bersejarah itu.

Surat asli dalam bahasa Mandarin memang belum ditemukan dan kemungkinan besar surat itu telah hilang atau hancur. Arsip semi resmi yang ditemukan Hayton adalah salinannya dan telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Ini menjadi satu-satunya 'bukti' yang ditemukan hingga saat ini.

Salinan tersebut diterjemahkan pada tahun 1899 dari sebuah surat yang dikirim oleh Kekaisaran Qing lewat Zongli Yamen, sebutan bagi kementerian luar negeri pada masa itu, yang isinya memberi tahu pejabat Inggris bahwa pihak berwenang Tiongkok  tidak dapat menerima tanggung jawab atas penjarahan muatan kapal di akhir tahun 1890-an di Kepulauan Paracel.

Surat itu mengacu pada apa yang disebut 'Kasus Tembaga Bellona' di mana kapal Jerman Bellona dihancurkan di kepulauan itu beberapa tahun sebelumnya dan muatan  kargo berisi tembaga  dicuri oleh nelayan Tiongkok.

Pemerintah China menolak kompensasi untuk tembaga yang diasuransikan Inggris karena pulau-pulau itu adalah 'laut lepas' dan bukan wilayah China.

Hayton mengatakan dia juga menemukan transkrip surat yang berbeda dari raja muda Liangguang yang dikirim kepada konsul Inggris di Kanton, Byron Brenan, pada  14 April 1898. Isinya betbicara tentang kasus yang sama.

Raja muda saat itu, Viceroy Tan Zhong Lin, menulis bahwa pihak berwenang China tidak mungkin melindungi kapal karam karena mereka berada di 'laut biru yang dalam', sehingga mereka tidak dapat mengakui klaim kompensasi.

"Ini bukan Smoking Gun," kata Hayton yang terkenal dengan dua buku karyanya, The Invention of China (2020) dan South China Sea (2014).

“Tetapi akan sangat membantu bagi Vietnam untuk membuat kasus bahwa China benar-benar tidak peduli dengan pulau-pulau (Paracel) sampai nanti,” tambah Hayton, seperti dikutip dari Radio Free Asia.

Kasus Tembaga Bellona juga disebutkan dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Jenderal Prancis di Indochina pada 1930. Surat yang ditujukan kepada menteri Prancis untuk koloni-koloni itu mengutip pernyataan raja muda China Kanton yang menyatakan bahwa Kepulauan Paracel adalah 'pulau-pulau yang terbengkalai'.

"Tidak lagi milik China, dan tidak ada otoritas khusus yang bertanggung jawab untuk mengawasi mereka,” isi surat itu.

Pertanyaan tentang catatan sejarah semacam itu tetap sensitif secara politis bagi negara-negara penuntut di Laut China Selatan �" paling tidak karena China membenarkan klaim maritim dan teritorialnya berdasarkan hak historis.

Nguyen Nha, seorang sejarawan Vietnam terkenal, mengatakan surat yang baru ditemukan itu bisa menjadi bukti berharga lainnya bahwa China tidak memegang kepemilikan Kepulauan Paracel sejak dahulu kala.

Vietnam, Taiwan, dan China semuanya mengklaim kedaulatan atas Paracels yang sekarang sepenuhnya berada di bawah kendali China.

Klaim Laut China Selatan yang luas mencakup perairan di dalam zona ekonomi eksklusif negara-negara anggota ASEAN, Brunei, Malaysia, dan Filipina.

Indonesia sendiri mengklaim tidak sebagai pihak dalam sengketa Laut China Selatan, meskipun Beijing telah mengklaim hak bersejarahnya atas bagian laut yang tumpang tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Sejarawan Norwegia dan peneliti Laut Cina Selatan Stein Tonnesson mengatakan surat itu “mungkin mengkonfirmasi sumber lain yang menunjukkan bahwa Kekaisaran Qing pada waktu itu tidak menganggap Paracel sebagai wilayah Tiongkok.”

Unggahan Hayton tentang surat itu di media sosial telah menimbulkan kegemparan, dan beberapa kritikus mengajukan pertanyaan tentang keakuratan terjemahan bahasa Inggris.

Hayton mengatakan dia yakin "akan ada versi transkrip dari huruf bahasa Mandarin di suatu tempat," dan dia bertekad akan mencarinya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya