Berita

nggota Komisi III DPR RI, Taufik Basari (Tobas)/Net

Politik

Over Capacity di Lapas Berasal dari Kasus Narkotika, Tobas: Harusnya Mereka Tak Dipenjara tapi Direhab

KAMIS, 09 SEPTEMBER 2021 | 23:57 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Jumlah narapidana narkotika yang dipenjarakan menjadi penyebab kapasitas di Lapas Indonesia berlebih atau over capacity. Di mana jumlah mereka sekitar 30 persen lebih.

Anggota Komisi III DPR RI, Taufik Basari mendapati kebanyakan narapidana narkotika yang dipenjara ialah mereka yang masuk kategori pengguna atau pecandu.

Sementara menurutnya, kebijakan hukum kasus narkotika di Indonesia sudah mulai menempatkan diri bahwa pengguna atau pecandu adalah korban dari kejahatan narkotika. Karena itu seharusnya golongan ini dilakukan rehabilitasi, bukan dihukum pidana seperti dikirimkan ke lapas.


"Oleh karena itu maka kebijakan ini harusnya dijalankan secata konsisten dan ini yang harus dimiliki paradigmanya oleh aparat penegak hukum," ujar Taufik Basari dalam diskusi series Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk 'Duka Terbakarnya Lapas Tangerang', yang disiarkan Kantor Berita Politik RMOL, Kamis sore (9/9).

Sosok yang kerap disapa Tobas ini berpendapat, untuk kebijakan penanganan penyalahgunaan narkotika tidak bisa semata dilakukan hanya melalui pendekatan hukum, melainkan juga pendekatan kesehatan.

Sehingga, Legislator dari Fraksi Nasdem ini mendorong setidaknya tiga aspek yang harus dilalui para penegak hukum, untuk melakukan dan mengaplikasikan kebijakan hukum kasus narkotika.

Tiga aspek tersebut yakni supply redaction, demand redaction dan harm redaction.

"Pengirimnya kita minimalisir, kita tutup. Permintaannya kita kurangi dan dalam rangka mengurangi permintaan ini kita harus menyembuhkan membuat harm redaction, menyembuhkan orang-prang yang menjadi korban dari penyalahgunaan narkoba," tuturnya.

Dia menambahkan, para pecandu narkoba jika tidak disembuhkan dengan cara rehabilitasi tapi justru dipidanakan, maka permasalahan over capacity di seluruh lapas tanah air tidak akan selesai.

"Setelah keluar mereka masih jadi pecandu maka mereka tetap menjadi pasar dari para produsen narkoba. Maka mereka yang harus disembuhkan agar tidak menjadi pencandu kembali. Nah ini paradigma yang harus kita bangun," tandasnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Berkunjung ke USS Missouri

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:08

Legislator PDIP Minta Pemerintah Gercep Atasi Titik Panas di Sejumlah Wilayah

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:48

Menakar Arah Pemerataan Lewat Pelayaran Perintis

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:20

TNI Kirim Satgas Kompi Zeni dalam Misi Perdamaian PBB di Kongo

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:58

Pemerintah Didorong Segera Bentuk Badan Rempah dan Herbal Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:38

PBB Dukung Penuh Pemerintahan Prabowo dan Bidik Kemenangan 2029

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:18

Ancaman Industri Hasil Tembakau dan Agenda Global

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:59

BRI Gelar KKB Expo Hadirkan Kemudahan Layanan Pembiayaan Kendaraan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:45

Data Pengungsi Papua Harus dapat Dipertanggungjawabkan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:20

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selengkapnya