Berita

Situasi di Bandara KabulNet

Dunia

Wanita Afghanistan Kisahkan Pengalamannya yang Sempat 'Diculik' Taliban Saat akan Menuju Bandara

SELASA, 07 SEPTEMBER 2021 | 16:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seorang perempuan muda Afghanistan mengisahkan kembali pengalaman pahitnya sempat 'diculik' oleh kelompok Taliban, ketika mencoba melarikan diri dari negara itu.

Marwa Koofi melarikan diri dari Afghanistan bulan lalu, pada hari yang sama ketika ledakan bom mematikan yang merenggut puluhan nyawa di bandara Kabul.

Dalam wawancara eksklusifnya dengan media Australia, 9News, Koofi yang saat ini sudah berada di London mengatakan bahwa dia pergi ke bandara beberapa hari sebelumnya, bersama keluarganya, ketika anggota Taliban mengenali ibunya sebagai anggota parlemen.


"Sayangnya, Taliban yang berdiri di sana mengenali wajah ibuku, mobil kami tertahan di sana," kata Koofi.

"Kami mendengar orang lain berkata, 'Mereka adalah anggota parlemen! Mereka adalah anggota parlemen!'," lanjutnya.

Tak lama, Koofi mengaku melihat sekitar 20 anggota Taliban mengepung mobil-mobil yang ada di dekat bandara. Di situlah ia merasa keselamatannya dan keluarganya terancam. Ia begitu takut.

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kami menunggu sekitar 30 menit, 40 menit, salah satu dari mereka datang, mereka mengeluarkan pengemudi, dia duduk di dalam mobil dan mulai mengambil alih kemudi," ujarnya.

Koofi mengatakan salah satu pria yang membawa mobilnya itu bersenjata.

"Dia membawa pistol di sana. Dia berkata 'Shh, diam! Kami akan membawamu ke tempat yang aman,'" kenangnya.

"Itu tidak aman, ketika Taliban membawa Anda (ke suatu) tempat, apakah itu aman? Tidak, Anda tidak bisa percaya," lanjutnya.

Koofi mengatakan ada anak kecil di dalam mobil dan mereka memohon kepada Taliban untuk membawa mereka pulang.

Berhasil. Permintaannya dengan suara yang bergetar itu berhasil membuat mereka berhenti. "Mereka akhirnya menurunkan kami, mengambil telepon saudara ipar kami. Mereka memeriksa orang-orang itu, mengambil telepon mereka," kata Koofi.

Setelah menyita telepon semua orang di dalam mobil, kelompok itu kemudian pergi meninggalkan Koofi dan keluarganya di pinggir jalan. Mobil pun ikut dibawa pergi.

Setelah mereka pergi, Koofi dan keluarganya menangis lega. Mereka saling berpelukan. Meskipun mereka ditelantarkan di pinggir jalan, setidaknya mereka kini telah aman. Pikiran-pikiran buruk bahwa orang-orang itu akan membunuh keluarganya, perlahan hilang.

Setelah hati mereka tenang dan kekuatan kembali muncul, mereka memberanikan diri berjalan ke Bandara Internasional Hamid Karzai.

Mereka tiba di bandara itu ketika bom bunuh diri meledak di dekat bandara.

Koofi mengenang peristiwa itu mengerikan itu. Suatu kali dalam hidupnya ia merasa hampir saja mati.

Wanita muda itu berasal dari keluarga yang sangat politis. Ibunya adalah seorang anggota parlemen, begitu juga bibinya. Koofi mengatakan para wanita di sekitarnya telah membesarkannya untuk menjadi kuat dan mandiri. Dia khawatir hal itu tidak mungkin terjadi bagi perempuan muda di Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban.

"Orang-orang yang akan tinggal di sana, mereka akan mengalami masa-masa sulit," kata Koofi.

Orang-orang, terutama wanita di Afghanistan yang berada di bawah Taliban saat ini, tidak akan memiliki masa depan.  

"Saya tidak melihat apa pun di bawah pemerintahan Taliban. (Kehidupan) yang kita miliki (selama) 20 tahun terakhir, terutama enam tahun terakhir, ada peningkatan besar bagi wanita," kata dia lagi.

Kelompok itu tidak pernah menghormati wanita, menurut Koofi. Perlakuan kelompok itu terhadap ibu dan keluarganya yang kebanyakan wanita saat membawa mereka pergi dan mencuri mobilnya, menunjukkan bagaimana perilaku mereka.

Kini, semua telah berlalu, setidaknya untuk sementara untuk keluarganya. Koofi mengaku saat ini hidupnya lebih tenang, meskipun ia masih sering memikirkan nasib wanita lainnya yang tertinggal di Afghanistan.

"Jika Anda bertanya kepada warga Afghanistan yang meninggalkan negara itu, mereka akan memberikan jawaban yang sama persis," ujarnya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya