Berita

Kelompok Taliban/Net

Dunia

Pengamat China: Setelah Penarikan Pasukan AS, akan Banyak Masalah yang Dihadapi Afghanistan

SELASA, 31 AGUSTUS 2021 | 17:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pesawat C-17 yang membawa pasukan terakhir Amerika Serikat mengangkasa di langit Afghanistan, pada Senin malam (30/8), menandai akhir resmi dari perang terpanjang dalam sejarah AS.

Dengan kepergian pasukan AS dan Barat, Afghanistan kini harus menghadapi ketidakpastian yang lebih besar dengan meningkatnya kekhawatiran apakah Taliban dapat memutuskan hubungan dengan terorisme, apakah ia mampu membangun kembali negara itu, dan apakah dapat memenuhi janji kepada masyarakat internasional.

Bagi Perwakilan China untuk PBB, Geng Shuang, kepergian AS dari Afghanistan tidak serta-merta mengakhiri tanggung jawab terhadap negara yang mereka tinggalkan dengan kekacauan tersebut, melainkan awal dari refleksi dan koreksi bagi Washington.


"Kekacauan Afghanistan baru-baru ini secara langsung berkaitan dengan penarikan pasukan asing yang tergesa-gesa. Tetapi penarikan diri bukanlah akhir dari tanggung jawab tetapi awal dari refleksi dan koreksi," kata Geng, seperti dikutip dari Global Times, Selasa (31/8).

Geng mengatakan, negara-negara terkait harus mengambil pelajaran dari masa lalu. Mereka perlu menghormati dengan sungguhp-sungguh kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Afghanistan serta hak rakyat Afghanistan, untuk secara mandiri menentukan masa depan dan nasib mereka sendiri.

"Menjatuhkan sanksi atau menerapkan kekuatan secara serampangan adalah salah dan tindakan mendominasi," kata Geng.

Analis mengatakan bahwa ada banyak masalah ke depan untuk Afghanistan, misalnya, bagaimana Taliban akan mempromosikan rekonsiliasi politik dalam negeri untuk membangun pemerintahan yang inklusif, bagaimana mereka akan menghadapi ancaman dari Negara Islam dan kemungkinan peningkatan serangan teror.

Selain itu ada juga kekhawatiran tentang bagaimana Taliban akan menangani hubungan dengan AS dan negara-negara regional saat mencari pengakuan internasional.

"Meskipun Taliban telah membuat janjinya, komunitas internasional tetap bersikap menunggu dan melihat untuk tindakan selanjutnya," kata mereka.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya