Berita

Robert F. Kennedy berbicara kepada para pekerja kampanye beberapa saat sebelum ditembak di Los Angeles pada tahun 1968/Net

Dunia

Pembunuh RFK : Saya Menyesal, Jika Saya Bisa Mengingatnya Itu adalah Perbuatan yang Mengerikan

SENIN, 30 AGUSTUS 2021 | 08:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pembunuh Senator Robert F. Kennedy (RFK) menyatakan penyesalan yang mendalam atas pembunuhan yang telah dilakukannya pada 53 tahun lalu.

"Saya menyesal, saya tidak akan pernah menempatkan diri saya dalam bahaya lagi," katanya sesaat setelah sidang pembebasan bersyaratnya pada Jumat (27/8).

Di depan dua orang panel yang merekomendasikan pembebasan bersyaratnya, Sirhan Bishara Sirhan mengatakan, selama puluhan tahun berada di dalam penjara San Diego, ia telah membenahi kehidupannya seperti tidak minum alkohol lagi dan berusaha menjadi orang baik.


“Senator (Robert F) Kennedy adalah harapan dunia dan saya terluka. Saya telah menyakiti mereka semua, dan itu membuat saya menyesal sekali. Jika saya bisa mengingatnya, itu perbuatan yang mengerikan," katanya.

Sirhan mengaku ia sudah tidak ingat lagi bagaimana kronologis peristiwa itu tetapi ia menyadari bahwa ia masih harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

Pembebasan bersyarat untuknya diajukan oleh panel dan didukung penuh oleh mantan Jaksa Agung dan dua putra RFK yaitu Robert F. Kennedy, Jr. dan Douglas Kennedy. Mereka menganggap Sirhan layak mendapat kebebasan bersyarat.

Ini seharusnya menjadi kemenangan besar bagi Sirhan. Namun, Sirhan mengaku bahwa ia masih harus menjalani sisa hukumannya.

"Saya masih bertanggung jawab untuk berada di sana atas seluruh insiden ini, yang terjadi melalui senjata saya sendiri," katanya.

Sirhan, seorang militan Palestina yang saat ini berusia 77 tahun, menembak mati Robert F. Kennedy, senator Amerika Serikat yang juga adalah adik dari  John F. Kennedy, di Ambassador Hotel di Los Angeles, California, pada 5 Juni 1968.

Dia awalnya menghadapi hukuman mati tetapi hukumannya diubah menjadi seumur hidup setelah negara secara singkat melarang hukuman mati pada tahun 1970-an.

Robert F. Kennedy Jr. dan Douglas Kennedy menyatakan belas kasihannya saat melihat sosok Sirham yang menua dengan baju tahanan berwarna biru dan selembar tisu yang terselip di kantungnya yang ia gunakan sesekali untuk menyeka matanya yang berair karena haru

Putra-putra RFK sebelumnya menyatakan keraguan bahwa Sirhan bersalah. Bahkan, mereka mengatakan yakin ayahnya juga mungkin akan memberikan belas kasihan kepada Sirhan.

Dalam sebuah wawancara dengan The Times Jumat malam (27/8), Kennedy Jr. mengatakan dia sangat senang Sirhan telah direkomendasikan untuk dibebaskan.

Paul Schrade, mantan ajudan RFK yang juga terluka dalam insiden penembakan 1968 itu, mendukung apa yang dikatakan Kennedy Jr, bahwa Sirham kemungkinan tidak bersalah.

Departemen Kepolisian Los Angeles dan  beberapa anggota masyarakat menentang pembebasan bersyarat Sirhan.

Keputusan itu sendiri belum final, masih harus menunggu keputusan dari Gubernur Gavin Newsom, yang saat ini tengah berada dalam pertempuran kampanye untuk menghadapi pemilihan ulang pada 14 September mendatang.

53 tahun lalu, Robert F Kennedy tewas ditembak di bagian kepalanya. Malam itu, 5 Juni 1968, RFK baru saja merayakan kemenangannya di pemungutan suara calon presiden bagian California, Amerika Serikat.

Tiga peluru mengenai tubuh RFK sementara peluru keempat menyerempet bahu jasnya. Selain RFK, ada lima orang lainnya yang terkena peluru termasuk ajudannya Paul Schrade. Sayang, RFK yang terluka paling parah tidak bisa diselamatkan.

Tidak lama setelah penembakan, polisi menangkap pria berusia 24 tahun yang bernama Sirhan Sirhan.

Motif serangan diduga kuat karena dukungan RFK kepada Israel. Sebab, diketahui Sirhan merupakan imigran yang berasal dari Palestina.

Penembakan yang terjadi di dapur Ambassasor Hotel tidak tertangkap kamera. Sirham sendiri mengaku tidak terlalu ingat lagi peristiwa itu, dan walaupun iaa mengaku bertanggungjawab tetapi dia menyesal bahwa ada banyak tuduhan tidak berdasar terhadapnya.

"Saya tidak setuju dengan mereka secara langsung," katanya, menambahkan bahwa ia bersyukur lepas dari hukuman mati.

Pembunuhan RFK merupakan penembakan kedua yang terjadi di keluarga Kennedy. Lima  tahun sebelumnya, tepatnya 22 November 1963, John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat sekaligus kakak dari Robert juga tewas tertembak saat melakukan iring-iringan bersama istrinya, Jacqueline Bouvier Kennedy.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya