Berita

Keakraban Marinir AS dan anak-anak Afghanistan/Net

Dunia

Lenyap Sudah Permusuhan 20 Tahun, Amerika Kini Menjadi Mitra Erat bagi Taliban

SABTU, 28 AGUSTUS 2021 | 15:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Afghanistan belum berhenti dari kekacauan. Perang panjang selama 20 tahun telah membuat negara itu terpuruk dalam penderitaan. Disusul dengan ledakan di bandara Kabul, tragedi paling berdarah yang sama mengerikannya dengan ancaman-ancaman yang selama ini menghantui warga negara itu.

Namun, ada yang menarik di antara duka nestapa itu. Di tengah jeritan tangis orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya dan di antara kekecauan evakuasi warga, terlihat tentara AS menjadi erat dengan anggota Taliban.

Satu dua anggota Taliban terlihat menyemangati seorang anggota pasukan AS. Bahkan, mereka saling menyapa dan menepuk.


Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Kenneth F McKenzie mengatakan dalam siaran persnya bahwa saat ini  pihak AS telah berbagi informasi intelijen dengan Taliban, mencatat bahwa kedua pihak memiliki tujuan yang sama.

Saat ini, pasukan Amerika justru mengandalkan militan Taliban untuk membantu memberikan keamanan di bandara.

Selama 20 tahun AS menginvasi Afghanistan untuk menyingkirkan Taliban. Namun, di hari-hari terakhirnya, dan juga setelah ledakan bandara kabul, AS justru nampak mesra dengan kelompok itu. Bekerja sama dalam menjaga bandara dengan orang-orang yang seminggu lalu masih menjadi target untuk dihabisi.

Yang jauh lebih menarik lagi, sekilas ada yang nampak sama. Di bandara Kabul, anggota Taliban dari unit komando pasukan khusus 313 Taliban mengenakan perlengkapan taktis terbaru yang hampir sama dengan militer AS, dan berpatroli di tempat parkir bandara Kabul yang sama dengan Marinir AS, hanya dipisahkan oleh beberapa gulungan kawat berduri.

Misi utama Taliban di sekitar bandara pada hari-hari terakhir evakuasi yang kacau itu adalah untuk menahan ISIS, sebuah organisasi yang bahkan lebih radikal, setelah ledakan bandara.

"Sebanyak 5.200 pasukan Amerika yang masih berada di Afghanistan menggunakan Taliban sebagai alat untuk melindungi kami semaksimal mungkin,” kata McKenzie.

Pos-pos pemeriksaan yang dijaga Taliban dalam perjalanan ke bandara, telah melakukan koordinasi dengan AS, menyaring warga Afghanistan pernah bekerja dengan pasukan Barat atau di kedutaan, yang sebelumnya dikhawatirkan menjadi target pembalasan dendam Taliban.

McKenzie meyakinkan bahwa Taliban memberikan penjagaan keamanan luar untuk pasukan Amerika. Mengenai pemblokiran jalan yang sebelumnya diduga untuk menahan warga sipil agar tidak berangkat ke bandara, diklaim  McKenzie sebagai permintaan AS untuk memperkuat batas pos pemeriksaan.

Ini kenyataan yang membingungkan dan melahirkan tanya. Apa yang tersisa dari perjuangan selama 20 tahun yang menghabiskan banyak nyawa dan biaya yang sangat besar? Militer AS sendiri telah kehilangan 2.465 tentaranya yang tewas selama invasi itu.

Lisa Curtis, seorang ahli Afghanistan yang bertugas di Departemen Luar Negeri, Badan Intelijen Pusat dan Dewan Keamanan Nasional di bawah Bill Clinton, George W. Bush dan Donald Trump, mengatakan bahwa akhir dari misi 20 tahun pasukan AS berakhir dengan cara yang sulit diduga.

“Misi AS di Afghanistan berakhir dengan cara terburuk yang bisa dibayangkan,” kata Lisa.

Saat ini, ketika Taliban berkuasa atas Afghanistan, mereka sedang mencari pengakuan internasional. Taliban juga memperbarui akses ke sistem keuangan global dan kemungkinan bantuan asing.

Bagi Washington, ada alasan bagus untuk tetap berdialog dengan Taliban bahkan setelah pasukan Amerika terakhir terbang keluar dari Kabul pada 31 Agustus. Operasi kontraterorisme melawan ISIS adalah salah satu prioritas.

Prioritas lainnya adalah tetap melanjutkan evakuasi, sebab masih banyak lagi warga asing dan warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu.

“Ada banyak warga yang masih tertinggal, itu akan membutuhkan beberapa kerjasama transaksional pragmatis dengan Taliban untuk memfasilitasi evakuasi mereka yang tersisa," kata Laurel Miller, yang menjabat sebagai penjabat Perwakilan Khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan di bawah mantan presiden Barack Obama dan Donald Trump.

Sebenarnya 'keakraban' Taliban dengan AS mulai muncul saat perjanjian Februari 2020 di Doha, Qatar, yang mengikat AS untuk menarik pasukannya. Beberapa pejabat pemerintahan Trump berpandangan bahwa tidak ada penyelesaian damai yang mungkin terjadi tanpa persetujuan Taliban, sehingga mereka terlibat dengan para militan dengan harapan mereka akan menyetujui kesepakatan pembagian kekuasaan.

Kontak dekat terus berlanjut sejak saat itu, dengan koordinasi yang memungkinkan pengaturan saat ini di sekitar bandara.

Rupanya, Taliban masih gengsi jika disebut mulai akrab dengan AS. Taliban masih berupaya menyangkal kedekatan itu, seperti yang dikatakan Habibi Samangani, seorang anggota pemerintahan Taliban di Kabul.

“Hanya karena kami memiliki kesepakatan untuk tidak menyerang Amerika sampai mereka menyelesaikan penarikan mereka, bukan berarti kami bekerja sama dengan mereka atau memberikan keamanan bagi mereka,” katanya.

Ia juga menepis tuduhan 'akrab' di bandara.

"Di bandara, mereka ada di satu bagian, kami di bagian lain," katanya.  

Upaya evakuasi yang dipimpin AS sangat bergantung pada dukungan Taliban, maka AS dan pejabat serta aktivis Barat lainnya memohon kepada para pemimpin Taliban untuk membuka penjagaan rahasia melalui Kabul sehingga konvoi bus dapat membawa warga Afghanistan ke bandara.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya