Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Peneliti RANS: Pada Akhirnya, AS adalah Pihak yang Mempersenjatai Taliban

SABTU, 28 AGUSTUS 2021 | 07:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketika Taliban menguasai Afghanistan, kelompok itu juga menguasai seluruh perangkat perang yang dipasok Amerika Serikat untuk memperkuat militer Afghanistan. Foto-foto propaganda yang tersebar di media sosial menunjukkan bagaimana Taliban mempertontonkan persenjataan hasil rampasan itu dalam sebuah pawai di jalan-jalan Kota Kabul.

Seorang juru bicara Departemen Pertahanan AS mengkonfirmasi bahwa peralatan militer AS itu jumlahnya sangat besar. Selama dua dekade, pasokan senjata terus dikirim. AS telah menggelontorlan 83 miliar dolar AS hanya untuk mengembangkan dan mempertahankan Angkatan Darat serta pasukan polisi Afghanistan.

"Ini paradoks, tetapi benar: miliaran dolar yang dihabiskan oleh Amerika Serikat untuk mempersenjatai tentara Afghanistan dalam melawan Taliban, justru sekarang malah menjadi milik Taliban," ujar peneliti dari Russian Academy of Natural Sciences, Viktor Mikhin, dalam artikelnya.


Taliban kini menguasai sejumlah besar senjata, amunisi, helikopter, pesawat terbang, dan banyak lagi. Mereka juga menyita peralatan militer canggih dari pasukan pemerintah, yang bahkan tidak mampu mempertahankan pusat-pusat regional negara itu.

Taliban telah menjadi penerima manfaat utama dari investasi persenjataan Amerika tersebut.

"Ini diikuti, antara lain, oleh perampasan pesawat tempur ketika Taliban merebut ibu kota dan pangkalan militer di seluruh provinsi negara itu dengan kecepatan yang mencengangkan," tulis Mikhin.

Ini mungkin akan menjadi pertanyaan hingga bertahun-tahun mendatang tentang ketidakmampuasn AS menciptakan tentara Afghanistan yang siap tempur yang menyebabkan Afghanistan runtuh dengan cepat.

Para prajurit di Afghanistan yang dilatih oleh tentara Washington dilengkapi dengan senjata yang unggul, tetapi sebagian besar tidak memiliki komponen terpenting dalam motivasi pertempuran.

Sekretaris Pers Pentagon dan Wakil Menteri Pertahanan John Kirby menyimpulkan kekurangan tentara Afghanistan dengan mengatakan, bahwa, “Uang tidak bisa membeli semangat juang. Anda tidak bisa membeli kepemimpinan.”

Doug Lute, pensiunan letnan jenderal angkatan darat yang membantu memimpin strategi perang Afghanistan selama pemerintahan George W. Bush dan Barack Obama, mengatakan bahwa Afghanistan telah menerima banyak dalam hal materi, sayangnya mereka tidak bisa memanfaat itu semua. Salah satu alasan runtuhnya pasukan Afghanistan adalah tidak adanya moral dalam barisan mereka.

"Prinsip perang harus tetap berdiri, tapi faktor moral seharusnya mendominasi faktor material. Moral, disiplin, kepemimpinan, kesatuan unit, lebih menentukan dibandingkan jumlah pasukan dan peralatan," kata Doug Lute.

Sebaliknya, gerilyawan Taliban, yang jumlahnya lebih sedikit dan dengan persenjataan yang kurang canggih dan tanpa angkatan udara, terbukti menjadi kekuatan yang lebih unggul, menurut Mikhin.

Badan intelijen AS sebagian besar telah meremehkan besarnya keunggulan ini. Dan bahkan setelah Presiden Joe Biden mengumumkan pada bulan April bahwa dia menarik semua pasukan AS, dinas intelijen tidak memperkirakan akan adanya serangan terakhir Taliban.

Beberapa elemen tentara Afghanistan memang berjuang keras, termasuk pasukan komando. Namun secara keseluruhan, pasukan keamanan yang diciptakan oleh Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya merupakan 'house of cards', mudah rapuh, yang keruntuhannya didorong oleh kegagalan para pemimpin sipil AS sebagai mitra militer mereka.

Jatuhnya Afghanistan, menyisakan trauma bagi sebagian dari mereka yang telah berjuang keras.

Mikhin mengatakan, setelah  Sindrom Jepang dalam bentuk Pearl Harbor, kemudian muncul Sindrom Vietnam, dan sekarang mungkin akan segera lahir Sindrom Afghanistan yang telah menghancurkan masyarakat Amerika.

"Seperti kata pepatah, jika sistem rusak, maka retakan mulai berjalan ke segala arah," tutup Mikhin.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya