Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pernah Mesra Tapi Juga Pernah Musuhan, Bagaimana Hubungan Iran-Taliban Setelah Afghanistan Jatuh?

JUMAT, 27 AGUSTUS 2021 | 11:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seperti halnya negara lain, Iran ikut prihatin dengan peristiwa terbaru di Afghanistan. Negara Islam itu dengan hati-hati menilai tindakan Taliban dan bersiap mengembangkan konsep baru untuk hubungan bilateral di masa depan.

Iran adalah rumah bagi komunitas Afghanistan terbesar di dunia yang jumlahnya diperkirakan sekitar 2,5 juta orang. Ini menjadi salah satu prospek hubungan dua negara berjalan lebih lanjut termasuk hubungan ekonomi.

Presiden Iran Ibrahim Raisi mencatat bahwa Teheran siap bekerja sama dengan semua kekuatan politik Afghanistan yang ditujukan untuk perdamaian dan stabilitas politik di negara itu.


Lalu bagaimana prospek hubungan lebih lanjut antara Iran dan Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban?

Hubungan Teheran dengan Taliban sangat ambigu. Salah satu momen paling menyedihkan dalam sejarah diplomasi Iran terjadi pada tahun 1998, ketika 11 diplomat Iran tewas dalam peristiwa pengepungan konsulatnya di Mazar-i-Sharif, di Afghanistan yang diduga keras terjadi dengan persetujuan Taliban, dan Taliban membantah.

Perang tiga jam pun terjadi pada 8 Oktober 1998 sebagai aksi balas dendam. Taliban menyerang sebuah pos perbatasan Iran di Saleh-Abad, wilayah Torbat-e-Jam di sebelah utara propinsi Khorasan, dengan senapan mesin dan mortir.

Sampai tahun 2002, Iran memandang Taliban sebagai musuh.

Namun, sebuah peristiwa kemudian menjadikan semuanya berbalik.

Tahun 2001, Unit pasukan khusus Iran 'Al-Quds' ikut membantu pasukan Amerika Serikat selama invasi ke Afghanistan dan ikut menggulingkan Taliban.

Kerja sama itu kemudian berubah menjadi permusuhan ketika Presiden ke-43 Amerika Serikat, George W. Bush memasukkan Iran dan Irak ke dalam 'poros kejahatan' global. Gedung Putih menyamakan Iran --yang selama itu bekerja sama dengan Amerika menggulingkan terorisme-- dengan Taliban.

Mau tidak mau Iran terpaksa harus menghadapi sikap Washington. Sama dengan Taliban, Iran kemudian memusuhi AS, bahkan menciptakan korps Ansar khusus yang berbasis di Masyhad untuk proyek Afghanistan.

Setelah Mahmoud Ahmadinejad berkuasa di Iran pada tahun 2005, sentimen anti-Amerika semakin menyatukan Kabul dan Teheran.

Pada 2014, IRGC membuka pusat komando untuk Taliban di Mashhad, di mana mereka dilatih dan bahkan diduga menerima dana. Menurut The Wall Street Journal, komandan tingkat menengah di Afghanistan diduga menerima senapan, amunisi, dan gaji 580 dolar AS per bulan dari Iran.

Pengamat politik Rusia, Vladimir Danilov, yang secara khusus bekerja pada media NEO, mengatakan dalam artikelnya bahwa penarikan pasukan AS dari Afgjhanistan adalah bagian dari tujuan yang dikejar Iran di Timur Tengah.

Iran memandang Washington telah menciptakan masalah yang jauh lebih besar bagi Republik Islam.

"Pertama-tama, ini menyangkut reaksi tak terduga terhadap peristiwa Afghanistan hari ini di pihak kelompok teroris DAESH (yang dilarang di Rusia), dan peran spesifik apa yang akan dimainkan oleh 'cabang Afghanistan' dalam redistribusi kekuasaan di negara itu," ujar Danilov.

"Toh, masalah sosial ekonomi dan agama di Afghanistan, yang menjadi penyebab munculnya DAESH, belum juga hilang," lanjutnya.

Kemudian ada kekuatan tertentu yang mencoba menggunakannya untuk mencegah tren kerjasama antara Teheran dan Kabul.

Kedua negara saat ini berada di ambang konflik diplomatik karena publikasi Jomhouri-e Eslami, yang menggambarkan situasi di Afghanistan.  

Surat kabar resmi Iran itu mengklaim bahwa seluruh organisasi militan Syiah Afghanistan diduga tumbuh di wilayah itu untuk menghadapi militan gerakan Taliban.

Secara khusus, dilaporkan bahwa intensifikasi tindakan ofensif oleh Taliban menyebabkan mobilisasi tajam penduduk Syiah Afghanistan, terutama setelah puluhan kabupaten Afghanistan menyerah kepada 'mullah yang marah'.

"Orang tidak boleh lupa bahwa mayoritas penduduk Afganistan menganut Islam Sunni, dan sebagian besar Syiah adalah Hazara yang didukung oleh Iran," kata Danilov.

Informasi media Iran itu menarik perhatian pemerintahan Presiden Ashraf Ghani, yang menyebutnya sebagai upaya kepemimpinan Iran untuk mengorganisir kudeta nyata di Afghanistan. Bahwa ribuan gerilyawan Syiah yang berperang di Suriah di pihak Presiden Bashar al-Assad kini kembali ke rumah dan dapat membuat pusing Afghanistan.

Dan sumber dari kantor berita Saudi Asharq al-Awsat di lembaga keamanan Afghanistan kemudian menarik perhatian pada fakta bahwa Hazara Syiah yang pernah direkrut oleh perwira Iran dapat menjadi alat politik yang dapat digunakan Iran untuk memperkuat posisinya di Afghanistan.

Di tengah embusan konflik itu, muncul pernyataan perwakilan resmi Kementerian Luar Negeri Iran yang menyebut kelompok teroris Taliban sebagai 'Imarah Islam', menggunakan interpretasi Taliban sendiri. Lalu baru-baru ini, pejabat Teheran menyebut Taliban tidak lain adalah organisasi teroris.

"Dengan kenyataan yang ada sekarang ini, orang dapat berasumsi bahwa posisi otoritas Iran terhadap Taliban selalu berubah secara signifikan," tutup Danilov.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya