Berita

Taliban mengakui soal adanya ancaman risiko gangguan yang menyebabkan masalah dari ISIS-K/Net

Dunia

ISIS-K, Musuh Bebuyutan dan Ancaman Terbesar Taliban di Afghanistan

KAMIS, 26 AGUSTUS 2021 | 15:47 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ketika ribuan warga Afghanistan yang panik atau pun putus asa memadati bandara internasional di Kabul untuk mencari evakuasi pasca kelompok militan Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul tanggal 15 Agustus lalu, sejumlah pejabat memperingatakan soal ancaman lainnya yang muncul, yakni dari sel kelompok militan ISIS.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden merupakan salah satu pejabat yang memperingatkan hal tersebut. Dia menekankan bahwa ada risiko yang besar dan meningkat dari serangan di bandara yang dilakukan oleh cabang regional ISIS, atau disebut Islamic State-Khorasan atau ISIS-K.

"ISIS-K adalah musuh bebuyutan Taliban, dan mereka memiliki sejarah pertempuran satu sama lain," kata Biden akhir pekan kemarin.


"Tetapi setiap hari kami memiliki pasukan di lapangan, pasukan ini dan warga sipil tak berdosa di bandara menghadapi risiko serangan dari ISIS-K," sambungnya.

Namun, belum ada pihak terkait yang memberikan rincian spesifik tentang ancaman tersebut.

Di sisi lain, Taliban pun mengakui soal adanya ancaman risiko "gangguan" yang menyebabkan masalah dalam situasi kacau tersebut.

Namun, sebenarnya apa itu Islamic State-Khorasan atau ISIS-K?

Beberapa bulan setelah ISIS mendeklarasikan kekhalifahan di Irak dan Suriah pada tahun 2014, pejuang yang memisahkan diri dari Taliban di Pakistan bergabung dengan militan di Afghanistan untuk membentuk cabang atau sel regional ISIS. Mereka berjanji setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

Sel kelompok itu kemudian secara resmi diakui oleh pimpinan pusat ISIS pada tahun berikutnya. Sel kelompok itu kemudian disebut ISIS-Khorasan atau ISIS-K dan berakar di timur laut Afghanistan, khususnya provinsi Kunar, Nangarhar dan Nuristan.


Selain itu, sel kelompok itu juga berhasil mendirikan sel-sel tidur di bagian lain Pakistan dan Afghanistan, termasuk Kabul.

Nama "Khorasan" sendiri adalah nama historis untuk wilayah tersebut, yang mengambil bagian dari apa yang sekarang disebut Pakistan, Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah.

Menurut catatan Dewan Keamanan PBB bulan lalu, perkiraan kekuatan ISIS-K bervariasi. Ada yang menyebut beberapa ribu, namun juga ada yang menyebut 500.

Lantas, apa saja rekam jejak ISIS-K?

Unjuk kekuatan dan kekejaman tanpa ampun juga menjadi ujung tombak dari ISIS-K. Mereka telah bertanggung jawab atas beberapa serangan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir yang terjadi di Afghanistan dan Pakistan.

Bukan hanya itu, ISIS-K juga telah membantai warga sipil di kedua negara, baik di masjid, tempat suci, alun-alun dan bahkan rumah sakit.

Sel kelompok ini secara khusus menargetkan Muslim dari sekte yang dianggap sesat oleh mereka, termasuk Syiah.

Salah satu kasus yang paling menonjol terjadi tahun lalu di mana ada serangan yang dilakukan oleh seorang pria bersenjata yang melepaskan tembakan di bangsal bersalin di lingkungan yang didominasi kelompok Syiah di Kabul. Akibatnya, 16 ibu dan calon ibu meninggal dunia. ISIS-K mengklaim berada di balik serangan itu.

Meski demikian, ISIS-K gagal menguasai wilayah mana pun, baik di Afghanistan maupun Pakistan. Sel kelompok ini juga menderita kerugian besar karena operasi militer yang dilakukan oleh Taliban dan Amerika Serikat.

Menurut penilaian militer Amerika Serikat dan PBB, setelah fase kekalahan berat , ISIS-K sekarang beroperasi sebagian besar melalui sel-sel rahasia yang berbasis di atau dekat kota untuk melakukan serangan tingkat tinggi.

Lalu, apa Hubungan ISIS-K dengan Taliban?

Mengutip AFP, meskipun kedua kelompok ini adalah militan Sunni garis keras, namun keduanya berbeda dalam sejumlah pemahaman mengenai agama dan strategi.

Kedua kelompok itu juga sama-sama mengklaim sebagai pembawa bendera jihad yang sebenarnya. Perselisihan itu telah menyebabkan pertempuran berdarah di antara Taliban dan ISIS-K di masa lalu. Taliban muncul sebagai pemenang setelah tahun 2019, ketika ISIS-K gagal mengamankan wilayah seperti yang dilakukan kelompok induknya, ISIS, di Timur Tengah.

Salah satu indikasi permusuhan antara dua kelompok itu, ISIS bahkan secara terbuka menyebut Taliban "murtad".

Kemudian, dengan kemenangan Taliban di Afghanistan saat ini, bagaimana reaksi ISIS?

ISIS tidak menyambut baik situasi saat ini. ISIS sendiri sangat kritis terhadap kesepakatan tahun lalu antara Amerika Serikat dan Taliban yang mengarah pada kesepakatan untuk menarik pasukan asing. ISIS menuduh Taliban mengabaikan tujuan jihad.

Setelah Taliban mengambil alih Afghanistan, sejumlah kelompok militan di seluruh dunia memberi selamat kepada mereka, tetapi ISIS bukan salah satunya.

Bahkan, SITE Intelligence Group, yang memantau komunikasi militan, dalam sebuah komentar pasca Taliban menguasai Afghanistan, ISIS menuduh Taliban mengkhianati jihadis dengan kesepakatan penarikan Amerika Serikat. ISIS juga bersumpah untuk melanjutkan perjuangannya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya