Berita

Ilustrasi virus corona/Net

Dunia

Zhang Tengjun: Goebbels Effect Modern Diarahkan AS untuk Habiskan China

KAMIS, 26 AGUSTUS 2021 | 14:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gagalnya pihak intelijen AS membuktikan kebocoran lab Wuhan dalam penyelidikan asal-usul virus corona kembali menjadi sorotan, terutama di China yang jadi sasaran utama tuduhan tersebut.

90 hari sudah sejak mei 2021, pemerintahan Biden meluncurkan penyelidikan asal-usul Covid-19. Seperti penyelidikan pertama, semua berakhir dengan kesimpulan yang tidak pasti.

Presiden AS Joe Biden sudah diberitahu tentang temuan itu pada hari Selasa, tetapi publik mungkin harus menunggu beberapa hari lagi untuk mendengar laporan yang transparan.


Media corong pemerintah Global Times mencatat dalam artikelnya pada Rabu (25/8), bahwa AS sedang menggunakan trik 'Goebbels Effect' dalam penyelidikan mereka tentang asal-usul virus corona, yang menurut Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin tidak akan disusun berdasarkan fakta dan kebenaran oleh AS.

Trik Goebbels Effect pertama kali dipopulerkan oleh Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Reich Jerman Nazi dari tahun 1933 hingga 1945. Bunyinya: "Ulangi kebohongan cukup sering dan itu menjadi kebenaran".

Dan Barat, menurut media China, sering menggunakan trik tradisional ini, termasuk dalam penyelidikan asal-usul virus corona.

Dengan membuang-buang uang dan mencoreng China, mereka memainkan peran Goebbels modern. Mereka pertama kali mengklaim bahwa Covid-19 bocor dari Institut Virologi Wuhan (WIV), dan kemudian mereka terus mengulangi kebohongan ini, menurut media itu, menambahkan bahwa pemerintah AS juga telah memanipulasi mesin opini publik, mencoba membentuk informasi yang dapat diterima orang, dan itu dilakukan berkali-kali.

Misalnya, Wall Street Journal secara keliru mengklaim pada bulan Mei bahwa tiga peneliti dari lab Wuhan jatuh sakit dengan gejala yang konsisten dengan Covid-19 dan penyakit musiman umum pada November 2019.

Namun, otoritas kesehatan China mengatakan pada awal Maret bahwa ketiga kasus tersebut bukan staf lab Wuhan, tetapi pasien yang dirawat di rumah sakit lokal tempat lab bekerja. Mereka memiliki gejala pada Januari 2020, bukan November 2019 seperti yang diklaim WSJ.

Zhang Tengjun, asisten peneliti di Institut Studi Internasional China, menegskan klaim tersebut. Semakin AS mencoreng China, semakin mencerminkan hati nurani Washington yang bersalah, menurutnya.

"Ini hanya memperjelas kepada dunia bahwa Washington ingin menggunakan penelusuran asal sebagai alat politik melawan China," kata Tengjun.

Perburuan asal-usul Covid-19 di Washington juga telah mengingatkan orang akan kebohongan 'bubuk pencuci' yang memicu Perang Irak tahun 2003.

"Goebbels modern di AS ini tidak memiliki dasar dalam hal menciptakan kebohongan. Tetapi pada akhirnya, pengulangan bukanlah kekuatan dan kebohongan tidak dapat membunuh kebenaran," demikian ditulis GT.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya