Berita

Pemimpin Al-Qaeda Osama Bin Laden/Net

Dunia

Veteran AS: Seandainya AS Menanggapi Serius Ancaman Osama Bin Laden 25 Tahun Lalu

SELASA, 24 AGUSTUS 2021 | 08:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pada 23 Augustus 1996, dari perbukitan Hindu Kush, mendiang pemimpin Al-Qaeda Osama Bin Laden pernah memperingatkan Amerika Serikat bahwa dia akan datang untuk mereka.

Dan saat ini, setelah kebangkitan Taliban di Afghanistan, orang-orang hanya bisa bertanya-tanya seperti apa dunia hari ini jika semua menganggap ancaman tersebut benar-benar serius.

Saat dunia menyaksikan krisis kemanusiaan yang berlangsung di dalam dan sekitar Bandara Internasional Kabul, di Afghanistan, di mana ribuan tentara Amerika berjuang untuk memfasilitasi evakuasi puluhan ribu warga, pertanyaan pertama yang muncul adalah "bagaimana ini bisa terjadi?"


Scott Ritter, seorang mantan perwira intelijen Korps Marinir AS dalam pendapatnya yang dimuat di kolom RT, Senin (23/8) mengatakan, setiap perjalanan akan dimulai dari suatu tempat. Setelah melalui jalan panjang dan berliku, mereka hanya berakhir di Bandara Internasional Kabul yang ricuh. Ini sama persis seperti sejarah terulang, ketika langkah pertama diambil jauh sebelum Menara Kembar jatuh pada 9/11.  

"Langkah pertama tentang apa yang akan menjadi jalan menuju kekalahan bagi Amerika Serikat di Afghanistan diambil pada 23 Agustus 1996, ketika seorang pengusaha Saudi yang berubah menjadi jihadis bernama Osama Bin Laden menyatakan perang terhadap Amerika Serikat," katanya.

Namun, katanya, deklarasi perang Bin Laden tidak diperhatikan oleh semua kecuali segelintir analis intelijen AS. Para intelijen ini juga telah memperingatkan tentang ancaman itu kepada yang lain tetapi juga tidak didengarkan.  

Ritter mengatakan, upaya untuk membawa Bin Laden ke pengadilan seperti tidak bersungguh-ungguh, bahkan setelah teroris dari organisasinya meledakkan dua  kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, pada 7 Agustus 1998, dan hampir menenggelamkan USS Cole selama pemberhentian pelabuhan di Yaman pada 12 Oktober 2000.

"Penargetan Bin Laden yang tidak efektif oleh AS setelah serangan terhadap kedutaan besar AS di Afrika terbukti menjadi titik balik dalam hubungan Al Qaeda dengan Taliban. Mullah Omar, kepala Taliban, secara terbuka menyatakan bahwa Taliban tidak akan pernah serahkan Bin Laden kepada siapa pun dan (akan) melindunginya dengan darahnya dengan segala cara," ujar Ritter.

Ritter mencatat, pernyataan Mullah Omar penting jika dilihat dari tawaran yang dibuat oleh Taliban setelah 9/11 untuk menyerahkan Bin Laden ke pihak ketiga. Termasuk mengusir Al Qaeda dari Afghanistan jika AS mampu dan mau berbagi intelijen yang meyakinkan soal hubungan antara Al Qaeda dengan serangan 9/11.

"Kegagalan AS untuk menahan Bin Laden melalui diplomasi, dan sulitnya  menyeret Bin Laden dan organisasi yang dipimpinnya ke pengadilan, secara langsung terkait dengan banyak bencana kebijakan luar negeri yang telah menimpa AS selama dua dekade terakhir," katanya.

Keberadaan Bin Laden akhirnya terlacak. Ia dibunuh pada Mei 2011 oleh pasukan AS. Namun begitu, unsur-unsur Al Qaeda tetap beroperasi di Pakistan dan Afghanistan, bergabung dengan Taliban, yang secara efektif dinyatakan perang oleh Amerika Serikat pada Oktober 2001.

Banyak pengamat berbicara tentang runtuhnya pemerintah Afghanistan pada Agustus 2021 sebagai kemenangan jelas bagi Taliban.  

"Tetapi kenyataannya adalah bahwa apa yang terjadi di Afghanistan hari ini adalah kemenangan Al Qaeda," tulis Ritter.

"Berkat kebijakan Amerika Serikat yang tidak efektif setelah Bin Laden pada 23 Agustus 1996, deklarasi perang tidak hanya mengarah pada tindakan yang membuat Al Qaeda lebih menonjol, tetapi juga akhirnya menciptakan aliansi dengan Taliban yang berlanjut hingga hari ini," lanjutnya.

"Kita hanya perlu mendengarkan dengan seksama kata-kata yang diucapkan oleh Taliban yang menang di Afghanistan hari ini, untuk mengingat  seruan Bin Laden untuk berjihad. Kemenangan yang dia deklarasikan telah menjadi kenyataan. Mitos bahwa AS tidak terkalahkan, pada kenyataannya, runtuh," lanjutnya.

Orang hanya bisa bertanya-tanya seperti apa dunia saat ini seandainya Amerika Serikat menerima pernyataan perang Bin Laden begitu saja,  dan menggunakan kekuatannya yang besar untuk memburun dia dan organisasinya, mengakhiri mereka dengan prasangka ekstrem, dan dengan demikian mencegah peristiwa 9/11 dan semua yang mengikutinya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya