Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Peneliti CISS: Setelah Sindrom Perang Vietnam, Kini Amerika Dibayangi Munculnya Sindrom Perang Afghanistan

SELASA, 24 AGUSTUS 2021 | 07:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintahan Joe Biden hingga kini terus mengalami tekanan kuat dari berbagai pihak terkait keputusannya untuk menarik pasukan AS. Komitmennya saat ini sedang dipertanyakan dan dikritik secara luas.

Kegagalan Washington di Afghanistan telah memicu reaksi keras dari masyarakat AS, dan kemungkinan besar dapat memicu gelombang baru keletihan perang, sentimen anti-perang, dan skeptisisme terhadap pemerintah di dalam masyarakat Amerika.

Sun Chenghao, asisten peneliti Center for International Security and Strategy (CISS), Universitas Tsinghua mengungkapkan hal itu dalam tulisannya yang dimuat media pemerintah China Global Times, Senin (23/8).


Pernyatan Sun merujuk pada evakuasi tergesa-gesa yang dilakukan militer AS terhadap personelnya yang menurutnya telah menyebabkan krisis kemanusiaan dan korban sekunder bagi rakyat Afghanistan.

Sun mencatat, meskipun pemerintahan Biden telah berulang kali menekankan bahwa penarikan AS bukanlah alasan kekalahan Afghanistan, penarikan pasukan yang tidak diperhitungkan masak-masak telah menjadikannya sasaran kritik publik.

"Secara kebetulan, durasi perang di Afghanistan mirip dengan Perang Vietnam, keduanya berlangsung sekitar 20 tahun. Dan kegagalan AS dalam kedua perang itu layak untuk direnungkan oleh anak cucu," ujarnya.

Sun mengungkapkan bahwa setelah Perang Vietnam berakhir, banyak orang Amerika menderita 'Sindrom Perang Vietnam', sebuah istilah yang awalnya merujuk pada penyakit yang diderita beberapa veteran, seperti neurasthenia dan kerusakan saraf.

Belakangan sindrom tersebut secara bertahap berkembang, merujuk pada perbedaan pandangan kedua pihak tentang masalah perang, kecurigaan militer Amerika memasuki perang asing, mentalitas anti-perang, dan kecurigaan pemerintah dalam masyarakat Amerika.

"Meskipun sentimen ini sampai batas tertentu menghilang dari waktu ke waktu, hal itu masih terus membentuk kebijakan luar negeri AS hari ini," kata Sun.

Kegagalan Washington di Afghanistan kemungkinan juga dapat memicu sindrom baru di AS, 'Sindrom Perang Afghanistan'.

Washington memikul tanggung jawab yang tak terhindarkan atas runtuhnya pasukan pemerintah Afghanistan. Selama 20 tahun terakhir, Washington telah menyediakan senjata dan peralatan yang unggul kepada tentara Afghanistan, tetapi sebagian besar justru melupakan unsur penting dari pelatihan tempur, menurut Sun.

"AS telah terlalu menekankan pengajaran keterampilan taktis infanteri. Tetapi gagal mengembangkan kemampuan tempur komprehensif pasukan pemerintah Afghanistan," lanjutnya.

Apa yang dilakukan AS telah membuktikan bahwa meskipun militernya memiliki kemampuan operasional yang kuat di luar negeri, sulit untuk membangun mekanisme jangka panjang untuk menjaga stabilitas sesuai dengan kondisi lokal.

Sindrom Perang Afganistan' nantinya akan membuat Biden melanjutkan tradisi penggunaan militer yang hati-hati yang menentukan kebijakan era Obama.

"Ini akan menggantikan fist diplomacy berdasarkan kekuatan keras dengan value diplomacy yang menekankan kekuatan lunak," kata Sun.

Karena situasi di Afghanistan masih sangat tidak pasti, penarikan pasukan AS akan berdampak lebih besar pada perdamaian dan stabilitas regional. Hal ini, menurutnya, dapat menyebabkan kebangkitan ekstremisme dan terorisme.

Dalam hal ini, AS tidak akan sepenuhnya mengadopsi isolasionisme. Sebaliknya, ia masih akan secara aktif menerapkan strategi intervensi, memainkan peran yang tidak konstruktif, dan campur tangan di Afghanistan.

Tentunya, itu akan memanfaatkan sekutu dan mitra regional untuk mencapai tujuan strategisnya di kawasan.

Namun begitu, pergeseran sumber daya strategis AS dari Timur Tengah dan Eropa ke kawasan Indo-Pasifik tidak akan berubah, menurut Sun.

Selain mempengaruhi kebijakan dalam dan luar negeri AS, 'Sindrom Perang Afghanistan' juga akan sangat membentuk persepsi sekutu dan mitra Washington tentang AS.

Bagi Sun, pidato pengalihan kesalahan Biden baru-baru ini tentang apa yang telah terjadi di Afghanistan hanya akan memperkuat pandangan negatif dunia tentang AS sebagai negara adidaya yang tidak dapat diandalkan.  

"Sekutu dan mitra regional juga akan menilai kembali kredibilitas komitmen keamanan AS. Semua ini akan membatasi kemauan dan kemampuan AS untuk melancarkan operasi militer di luar negeri di masa depan," demikian pendapat Sun.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya