Berita

Abdul Qahar Balkhi dari Komisi Kebudayaan Taliban melkukan wawancara resmi perdana dengan media/Al Jazeera

Dunia

Pejabat Top Taliban: Rencana Awal Kami Bukan Merebut Kekuasaan, Tetapi Mencari Solusi Politik

SENIN, 23 AGUSTUS 2021 | 19:48 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Afghanistan tengah menjadi sorotan publik dunia, terutama sejak kelompok militan Taliban merebut ibukota dan mendepak pemerintah sah di bawah kepemimpinan Presiden Ashraf Ghani pada 15 Agustus lalu.

Sejak saat itu, kekacauan tidak terhindarkan di negara yang masih berjuang menemukan kata "damai" itu. Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul pun dipadati ribuan orang yang berusaha mencari bantuan dan evakuasi asing agar bisa melarikan diri negara tersebut.

Dinamika perkembangan keamanan dan politik sejak Taliban berkuasa kembali di negara itu pun masih terus berkembang. Tidak sedikit negara yang telah mengeluarkan kecaman atau memojokkan Taliban atas kekacauan yang terjadi di Afghanistan saat ini.


Meski begitu, bagaimana sebenarnya sudut pandang Taliban mengenai situasi yang terjadi di Afghanistan saat ini? Apakah kondisi ini adalah hal yang mereka inginkan, atau justu sebaliknya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada satu wawancara menarik yang berhasil dilakukan oleh Al Jazeera dengan salah seorang tokoh berpengaruh di Taliban baru-baru ini. Dia adalah Abdul Qahar Balkhi dari Komisi Kebudayaan Taliban. Ini adalah kali pertama Balkhi muncul dalam wawancara resmi sejak kelompok tersebut merebut kekuasan di Afghanistan.

Meski begitu, ini bukan kali pertama wajahnya muncul di media. Balkhi pertama kali menunjukkan wajahnya kepada publik pada Selasa pekan lalu (17/8), tepatnya ketika Taliban melakukan konferensi pers perdana. Balkhi pada saat itu menerjemahkan untuk juru bicara Zabihullah Mujahid.

Dalam wawancara terbaru dengan Al Jazeera yang dipublikasikan akhir pekan kemarin, Balkhi menjawab sejumlah aspek yang dipertanyakan publik terkait dengan perebutan kekuasaan oleh Taliban.

Dia menuturkan, para pemimpin Taliban ingin bergerak maju dan berharap para pemangku kepentingan, baik di tingkat domestik maupun internasional, dapat bekerjasama untuk kepentingan bersama.

Balkhi menambahkan, saat ini Taliban sedang melangsungkan konsultasi untuk menentukan formasi pemerintah.

"Konsultasi sedang berlangsung, dan tentu saja ini akan menjadi sistem yang inklusif," kata Balkhi.

"Pembicaraan termasuk apakah ibu kota akan tetap di Kabul atau pindah ke (tempat kelahiran Taliban) Kandahar," sambungnya.


Pada waktu yang bersamaan, Taliban juga tetap menjalin komunikasi dan pembicaraan dengan Amerika Serikat terkait dengan pengaturan keamanan di Afghanistan.

"Pos pemeriksaan luar berada dalam kendali kami, dan di dalam berada di bawah kendali pasukan Amerika Serikat, dan kami terus-menerus berhubungan satu sama lain," papar Balkhi.

Akan tetapi, dia menyayangkan bahwa situasi yang berkembang saat ini menciptakan jurang kepercayaan yang semakin dalam mantara warga Afghanistan dengan Taliban. Kondisi itu terlihat dari banyaknya warga Afghanistan yang berbondong-bondong ke bandara dan mencari cara agar bisa dievakuasi.

"Sangat disayangkan orang-orang bergegas ke bandara seperti saat ini," kata Balki.

Padahal, pada hari-hari pertama Taliban menguasai Afghanistan, kelompok itu telah menegaskan akan memberikan amnesti atau pengampunan bagi mereka yang pernah bekerja melawan Taliban.

"Karena kami telah mengumumkan amnesti umum untuk semua orang di pasukan keamanan dari tingkat senior hingga junior. (Sehingga) ketakutan ini, histeria yang telah terjadi ini tidak berdasar," sambungnya.

Dia pun mengakui bahwa situasi yang terjadi di negara itu berkembang dengan sangat cepat dan bahkan di luar rencana yang disiapkan oleh Taliban sebelumnya.

"Perkembangannya begitu cepat sehingga semua orang terkejut," ujar Balkhi.

"Ketika kami memasuki Kabul, dan itu tidak direncanakan karena pada awalnya kami mengumumkan bahwa kami tidak ingin memasuki Kabul, dan kami ingin mencapai solusi politik sebelum memasuki Kabul dan membuat pemerintahan bersama dan inklusif," sambungnya.

Akan tetapi, pada saat itu aparat keamanan justru pergi dan meninggalkan tempat mereka sehingga terjadi kekosongan.

"Kami terpaksa meminta pasukan kami untuk masuk dan mengambil alih keamanan," jelasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya