Berita

Moh. Nizar/RMOL

Publika

Belajar dari Afghanistan

SENIN, 23 AGUSTUS 2021 | 17:01 WIB

DAHULU ketika melihat petir-petir merambat ke pucuk-pucuk pohon atau atap-atap rumah, kita mungkin percaya bahwa ia mengejar setan-setan yang tengah lari tunggang langgang ke sana ke mari.

Tetapi, ketika manusia telah menemukan pucuk besi penangkal petir, maka penjelasan itu (petir sebagai ‘penanda’ dan setan ‘petanda’) sudah tak masuk di nalar. Ini terjadi, meminjam teori Kuntowijoyo, karena manusia telah memasuki periode ilmu.

Namun bagi suatu negara, memasuki periode ilmu membutuhkan waktu tak sebentar: melampaui periode mitos dan ideologi.


Pada konteks ini, seseorang atau suatu generasi bisa begitu saja tercelup atau dicelupkan ke dalamnya, diantaranya melalui intervensi pendidikan. Karena hal paling mendasar dari fungsi pendidikan adalah mengaktifkan nalar: berkat nalar manusia bisa  menilai dan tak gampang dibohongi.

Dalam kaitan itu, perkembangan politik di Afghanistan mengagetkan dunia setelah pasukan Taliban berhasil mengambilalih kota Kabul dan kantor kepresidenan.

Dalam dinamika itu, masalah pendidikan tak kalah menyita perhatian karena akan selalu menyertainya. Satu contoh, ketika Taliban berkuasa (1996-2001) kaum perempuan tak memiliki akses terhadap pendidikan.

Baru setelah Taliban digulingkan, kondisi berubah: kaum perempuan menikmati pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Tetapi ketika Taliban kembali berkuasa, ketakutan terhadap pembatasan akses pendidikan pun mengemuka, karena sangat mungkin petaka itu akan berulang. Di bawah kekuasaan Taliban anak-anak perempuan dilarang pergi ke sekolah.

Dengan kata lain, kemungkinan pendidikan di Afghanistan akan kembali memasuki turbulensi lama terjebak diantara periode ideologi dan mitos hanyalah soal waktu.  

Sekilas, perbedaan antara ideologi dan mitos terletak pada; dalam mitos orang bergerak mengikuti kehendak Sang Pemimpin (namun hanya modal prasangka). Sementara ideologi adalah merujuk pada sistem pendapat, nilai, dan pengetahuan yang berhubungan dengan kepentingan kelas tertentu dengan cara berfikir yang tak bisa diseragamkan.

Dalam mitos orang tak peduli ada tidaknya realitas karena yang utama adalah mengikuti pendapat pemimpin.

Sementara dalam idologi orang melihat realitas berdasarkan subjektivitas, dan tak peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi (Kuntowijoyo, MataBangsa: 2017).

Pada konteks ini, periode ilmu adalah sebuah fase yang menjungkirbalikkan kedua periode sebelumnya dengan memandang realitas apa adanya.

Namun untuk mencapai fase ketiga tersebut tidaklah mudah, salah satu contohnya Afganistan tadi.

Di bawah rezim Taliban, budaya mengontrol hidup dengan kekerasan yang sudah mendarah daging mematikan daya nalar. Sebab, pendidikan yang menekankan keterbukaan nalar hanya bisa hidup di alam merdeka: di bawah moncong senjata manusia hanyalah seonggok daging yang rapuh.

Dan betapapun Taliban telah berjanji akan memberikan kebebasan itu, “Mereka akan mendapatkan semua haknya, mulai dari hak untuk memperoleh pendidikan hingga hak untuk bekerja, sesuai dengan hukum Islam” (Kompas: 25 Februari 2020). Namun orang-orang masih skeptis terhadap pernyataan tersebut.

Sampai di sini belajar dari Afghanistan, sungguh beruntung Indonesia. Betapapun dihuni beragam suku bangsa, agama, dan pelbagai mitos dan ideologinya namun hingga ini masih berdaulat sebagai negara-bangsa yang aman dan merdeka.

Tidak hanya itu, Indonesia juga turut mengambil peran menciptakan perdamaian dunia.

Moh. Nizar
Penulis adalah Dosen Fisip Universitas Lampung dan Mahasiswa S3 Universiti Utara Malaysia

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya