Berita

Warga Afghanistan yang akan di evakusi berada di dalam pesawat angkatan udara AS di Kabul pada 20 Agustus/Net

Dunia

Survey: 81 Persen Warga AS Mendukung Pemerintah Menampung Pengungsi Afghanistan

SENIN, 23 AGUSTUS 2021 | 14:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebagian besar warga Amerika Serikat, baik itu yang berasal dari Partai Republik maupun Demokrat menyatakan mendukung upaya pemerintah membantu evakuasi warga Afghanistan yang selama ini membantu militer AS selama perang di Afghanistan.

Hal itu terungkap dalam sebuah jajak pendapat CBS News dan YouGov yang dirilis pada Minggu (22/8). Sebanyak 81 persen dari 2.142 orang dewasa AS yang disurvei mengatakan AS harus membantu orang-orang Afghanistan itu datang ke AS, sementara hanya 19 persen lainnya mengatakan itu tidak seharusnya dilakukan.

Juga tercatat bahwa 90 persen Demokrat, 79 persen independen dan pemilih Trump serta 76 persen dari Partai Republik mendukung pemerintah untuk membawa orang-orang Afghanistan yang bekerja sebagai penerjemah, sumber intelijen, pengemudi dan peran pendukung lainnya.


Dalam laporannya pada Senin (23/8), Forbes mencatat bahwa lusinan anggota parlemen dari Partai Republik telah menyatakan dukungan untuk segera mengevakuasi pengungsi Afghanistan – seperti halnya mantan Presiden Donald Trump, terlepas dari pandangan anti-imigrasi garis kerasnya – sementara setidaknya sembilan gubernur Republik telah berjanji untuk memukimkan kembali pengungsi di negara bagian mereka.

Seruan untuk menerima pengungsi juga telah tersebar luas di antara anggota parlemen dan gubernur Demokrat, dengan Kaukus Progresif Kongres menyerukan untuk memperluas dan mempercepat visa dan meningkatkan batasan AS pada pengungsi.

Sebelumnya Mayor Jenderal Hank Taylor mengatakan selama pengarahan Sabtu (21/8), bahwa sekitar 22.000 warga Afghanistan telah dievakuasi oleh militer AS sejak akhir Juli, menambahkan bahwa pemeriksaan dan pemeriksaan keamanan akan diperlukan sebelum mereka diizinkan memasuki Amerika Serikat.

Pengangkutan sejauh ini telah dilakukan di negara ketiga termasuk Qatar dan Kuwait , meskipun militer dilaporkan berencana untuk menggunakan beberapa pangkalan di AS untuk menyaring warga Afghanistan juga.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya