Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin/Net
Baik intelijen maupun Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon tidak pernah mengira pemerintahan Afghanistan yang dipimpin Ashraf Ghani dapat runtuh hanya dalam 11 hari.
Begitu yang dikatakan oleh Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dalam wawancara dengan ABC pada Minggu (22/8). Austin mengaku Washington sangat terkejut dengan serangan kilat Taliban yang menguasai ibukota Afghanistan, Kabul pada pekan lalu.
"Itu adalah evolusi yang sangat cepat, bergerak cepat, dan serba cepat," kata Austin.
"Ini semua terjadi dalam rentang waktu sekitar 11 hari. Tidak ada yang memperkirakan bahwa, Anda tahu, pemerintah akan jatuh dalam 11 hari," tambahnya.
Pentagon sebelumnya telah memperkirakan kerangka waktu kisaran beberapa bulan hingga dua tahun hingga akhirnya Taliban merebut kendali, setelah AS menarik pasukannya.
Namun Austin mengatakan, Taliban mulai mendapat keuntungan lantaran banyak wilayah di Afghanistan yang akhirnya menyerahkan diri tanpa pertempuran.
"Kami akan mencoba yang terbaik untuk membuat semua orang, setiap warga negara Amerika yang ingin keluar, keluar," tambahnya.
Austin kemudian menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump lantaran menempatkan AS ke situasi yang tidak menguntungkan.
Berdasarkan kesepakatan damai antara AS era Trump dengan Taliban pada Februari 2020, Washington akan menarik pasukan dari Afghanistan dengan syarat Taliban menghentikan kekerasan dan mulai melakukan perundingan dengan pemerintah di Kabul.
"Melihat apa yang diwarisi pemerintah, kami dihadapkan pada tenggat waktu 1 Mei untuk mengeluarkan semua pasukan dari negara itu. Kesepakatan ini telah dicapai dengan Taliban. Jadi dia (Presiden Joe Biden) harus dengan cepat menilai dan melihat semua opsi," jelasnya.
Sejak perebutan Kabul pada 15 Agustus, sekitar 17 ribu orang telah dievakuasi oleh AS dari Afghanistan. Sementara sejak akhir Juli, sudah ada sekitar 22 ribu orang yang dievakuasi.