Berita

Pasukan Amerika Serikat/Net

Dunia

Veteran AS: Afghanistan Jatuh dalam Penderitaan, Taliban Mengambil Hak Perempuan Saat Kami Pergi

SENIN, 23 AGUSTUS 2021 | 09:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan masih terus menjadi topik panas hingga saat ini, terutama ketika dampak besar yang terjadi dari keputusan itu adalah 'kejatuhan Afghanistan'. Ketika saat ini Taliban berjaya lagi, semua orang berteriak: apa yang tersisa dari perjuangan selama 20 tahun?

Orang Amerika bereaksi dengan emosi yang campur aduk terhadap keputusan Presiden Joe Biden.

Jajak pendapat publik menunjukkan orang Amerika memiliki pandangan yang beragam tentang keputusan tersebut.


Kembali ke belakang, menengok hasil jajak pendapat yang dilakukan Gallup, lebih dari 40 persen orang Amerika menganggap upaya militer AS di Afghanistan adalah sebuah kesalahan sementara lainnya mendukung agar pasukan tetap bertahan di Afghanistan.

Survey ini dilakukan jauh sebelum Taliban akhirnya berkuasa. Namun, beberapa pendapat dari dua veteran AS ini masih sangat layak untuk dicerna, terutama jika melihat kondisi saat ini di mana Taliban sudah berkuasa.

Michelle Dunkley, anggota dari Cadangan Angkatan Udara AS ini dikerahkan ke Afghanistan pada 2016. Ia merupakan kepala perawat di tim medis. Menurutnya, penarikan pasukan AS hanya membuat lemah posisi Afghanistan dan negara itu menjadi tempat berkembang biaknya teroris.

Ia mengatakan, selama 20 tahun pasukan AS menjaga Afghanistan, tidak ada yang bisa mereka tunjukan jika penarikan dilakukan di saat-saat ini tanpa persiapan matang. Ia mengajak orang melihat kembali bagaimana Afghanistan menjadi sebuah negara yang tertata pada sekitar tahun 1970-an dan kemudian menjadi negara dengan banyak rakyat yang ketakutan.

Dunkley yakin, banyak masyarakat Afghansitan yang juga memiliki pemikiran yang sama untuk menolak penarikan pasukan yang hanya akan membawa negara itu jatuh dalam penderitaan.

Selama pasukan AS bercokol di Afghanistan, mereka mengajari banyak hal kepada masyarakat Afghanistan bagaimana cara untuk bertarung.  

AS telah membangun sebuah rumah sakit kecil di tepi Pangkalan Angkatan Udara Bagram, dengan 20 tempat tidur yang disumbangkan untuk Afghanistan. sayangnya rumah sakit itu terbengkalai karena karena tidak ada listrik dan air karema pemerintah Afghanistan tidak memiliki pengetahuan dan dana untuk mengelolanya.

"Apa yang Anda ketahui tentang negara ini? Kami hanya mengajari mereka cara bertarung satu sama lain," kata Dunkley seperti dikutip dari BBC.

Saat ini, keuntungan bagi Afghanistan adalah lebih banyak kebebasan bagi perempuan. Saya khawatir, ketika AS pergi, Taliban akan mengeluarkan mereka dari sekolah lagi dan mengambil beberapa hak yang mereka miliki di negara itu.

Mwenurutnya, sementara AS berupaya mengirim pasukan ke luar negeri untuk perdamaian, di sisi lain ada China dengan agendanya untuk membangun infrastruktur di negara-negara lain.

Tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh Svott Nolan, yang bertugas di Angkatan Laut AS di beberapa negara selama tahun 1980-an. Dia tidak mendukung penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Menurutnya itu adalah keputusan yang mengerikan. Dengan membawa pasukan keluar dari Afghanistan,  militer akan kehilangan semua yang telah diperjuangkan.  

Ia menggambarkan bagaimana hasil penempatan pasukan AS di Jerman dan Jepang.

"Faktanya, Jerman dan Jepang sangat diuntungkan dengan kehadiran AS di sana dan masih melakukannya. Tujuan memiliki pasukan di Afghanistan adalah untuk menstabilkan Afghanistan dan untuk memungkinkan orang-orang yang memiliki niat baik dan kerja keras di sana untuk memiliki kehidupan yang normal," katanya.

Menurutnya, setiap anggota pasukan yang diberangkatkan tahu bahwa mereka mempertaruhkan hidup mereka. Mereka ada di sana sebagai sukarelawan, untuk menciptakan keamanan di Amerika Serikat dan untuk menciptakan stabilitas bagi orang-orang yang sangat membutuhkannya.

Ia mengakui banyak nyawa dan dana yang telah dikorbankan. Namun, pengorbanan itu justru untuk menyelamatkan Afghanistan di masa depan.

"Menghabiskan miliaran sekarang untuk menjaga pasukan kita di tempat-tempat perang mungkin akan menyelamatkan kita puluhan miliar atau bahkan triliunan di masa depan, belum lagi ribuan dan ribuan nyawa," katanya.

Ia mengakui, jika ia adalah warga Afghanista dan kemudian mengetahui bahwa AS menarik pasukannya, maka ia memilih akan segera pergi meninggalkan negara itu karena akan ada pembantaian ketika Taliban mengambil alih.

Isaiah Revees, putra seorang veteran AS yang bertugas di Afghanistan mengatakan keputusan penarikan pasukan adalah sangat tepat. ia berusia sekitar delapan tahun ketika ayahnya, seorang Tentara Cadangan, dikirim ke Afghanistan.

Ia mengatakan, sudah terlalu lama keluarganya dan keluarga tentara lainnya berada di Afghanistan. Mereka telah banyak berkontribusi, waktunya bagi keluarganya melanjutkan masa depan mereka.

"Saya pikir (berlama-lama penempatan pasukan AS di Afghanistan) hanya membuang-buang nyawa dan uang. Secara materi, berapa total dolar yang dihabiskan untuk perang ini? Belum lagi Irak. Setiap sen bisa lebih baik dihabiskan di Amerika Serikat atau melalui USAID. Dan itu hanya biaya material. Sementara ada korban nyawa yang tidak bisa tergantikan."

Ia bercerita ayah ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Bagram sebagai satu-satunya dokter mata di Afghanistan negara ini. Sebagian besar dokter sipil telah meninggalkan negara itu. Dia tidak hanya merawat tentara AS, tetapi juga warga sipil, tentara Afghanistan, dan pemberontak.

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

Trump Ancam Kenakan Tarif 25 Persen ke Delapan Negara Eropa

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:48

Arsitektur Hukum Pilkada Sudah Semakin Terlembaga

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:40

Serpihan Badan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Ditemukan

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:08

Rekonstruksi Kontrol Yudisial atas Diskresi Penegak Hukum

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00

KAI Commuter Rekayasa Pola Operasi Imbas Genangan di Kampung Bandan

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:51

Seluruh Sumber Daya Harus Dikerahkan Cari Pesawat ATR yang Hilang Kontak

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:45

Tujuh Kali Menang Pilpres, Museveni Lanjutkan Dominasi Kekuasaan di Uganda

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:20

Belasan RT dan Ruas Jalan di Jakarta Terendam Banjir

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:13

Ongkos Pilkada Langsung Tak Sebesar MBG

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:50

Delik Hukum Pandji Tak Perlu Dicari-cari

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:45

Selengkapnya