Berita

Ilustrasi nelayan/RMOLJateng

Nusantara

Cerita Nelayan Pesisir Utara yang Bahagia Dengar Suara Anaknya Melalui Telepon Saat Melaut

MINGGU, 22 AGUSTUS 2021 | 03:51 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Keberadaan alat komunikasi seperti smartphone saat ini memang sudah tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Termasuk para nelayan yang banyak beraktivitas di tengah lautan.

Adalah Tri Asmoro (40), seorang nelayan di pesisir utara Jawa, tepatnya di Kabupaten Batang, yang tidak pernah membayangkan benda sekecil smartphone bisa mengubah lingkungan komunitasnya.

Saat mengawali profesi sebagai nelayan pada 23 tahun lalu, ia bercerita teknologi informasi belum sesakti sekarang ini.


"Saya bilang sakti karena sekarang saat melaut bisa dengar suara anak dan istri. Dulu melaut tidak pegang smartphone, sekarang semua nelayan rata-rata punya," katanya mengawali cerita kepada Kantor Berita RMOLJateng, Sabtu (21/8).

Warga Kelurahan Karangasem Utara, Kecamatan Batang itu mengenang pada awal menjadi nelayan.

Ketika itu, setiap kali melaut berarti meninggalkan keluarga dengan berbagai risikonya, semisal tenggelam dan sebagainya.

Satu-satunya jalur komunikasi waktu itu adalah interkom yang berada di ruang nahkoda. Itupun hanya nyala pada waktu tertentu.

"Kalau Anak Buah Kapal (ABK) seperti saya ya bisanya kerja, kalau pas tidak nangkap ikan (istirahat) biasanya untuk guyon dan tidur," ucapnya.

Sekali melaut, Tri Asmoro menghabiskan waktu sebulan hingga dua bulan terapung di tengah laut jawa.

Melaut Pakai Smartphone

Pada pertengahan 2000-an, ponsel dan jaringan internet mulai meluas. Lambat laun, dirinya dan para nelayan pun mulai berinteraksi dengan perkembangan teknologi.

Hingga akhirnya, ia pun membeli smartphone untuk aktivitasnya sehari-hari, termasuk melaut. Diakuinya, jaringan telekomunikasi di tengah laut tidak selalu ada.

"Kadang mulai dari 10 mile sinyal mulai naik turun, kalau sudah tengah laut lepas (untuk kapal besar antarpulau) tidak ada sinyal," tutur ayah satu anaknya.

Tapi jika sudah dekat sebuah pulau, maka sinyal akan kembali muncul. Ketika itulah para ABK memanfaatkan waktu untuk berkomunikasi dengan daratan.

Ia pun ingat ketika berada di dekat kepulauan Karimunjawa. Demi mendapat sinyal, teman-temannya bergantian naik tiang kapal. Hal itu menjadi momen kocak setiap kali berlayar.

"Benar-benar rasanya luar biasa ketika di tengah laut bisa mendengar suara anak. Semangat jadi tambah," tuturnya.

Tidak hanya secara pribadi, perkembangan teknologi itu juga membantu pelayaran. Dulu, ketika berlayar hanya bermodal kompas manual, kini bisa melihat posisi melalui satelit.

Bahkan, kadang hanya menggunakan smartphone bisa melihat posisi terakhir dan kepulauan terdekat. Lalu, komunikasi dengan teman-temannya ketika sedang butuh bantuan pun lebih lancar.

"Misal ketika ada kapal atau perahu butuh tambahan ABK, cukup komunikasi lewat smartphone bisa saling bantu," ujarnya.

Ubah Gaya Hidup

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, mengakui teknologi informasi membuat gaya hidup nelayan berubah.

"Kalau dulu, ketika melaut, nelayan benar-benar terisolasi dari daratan baik secara fisik maupun informasi," ucap Teguh.

Hal yang paling susah ketika di tengah laut ketika nelayan sakit di tengah laut. Kru kapal hanya bisa mengandalkan koneksi interkom dengan kapal lain.

Lalu, para nelayan juga minim informasi perkembangan di daratan. Tidak ada asupan informasi yang masuk ketika melaut.

"Akhirnya, ketika sampai di darat, maaf, mungkin untuk pelampiasan, setelah jual ikan hasilnya untuk minum-minuman (keras). Dulu juga sering tawuran di kawasan nelayan sini," lanjutnya.

Kini, ia melihat perubahan besar dalam gaya hidup nelayan Batang. Teguh menilai nelayan sekarang ini jauh lebih cerdas.

Warga kelurahan Proyonanggan Utara itu menyebut asupan informasi para nelayan di lautan sekarang sama seperti daratan. Tidak ada lagi 'gap' informasi antara laut dan darat.

Sekarang sudah jarang ia mendengar para nelayan muda berkumpul untuk mabuk-mabukkan. Sebagai gantinya, para nelayan muda memilih nongkrong di spot populer yang viral di media sosial.

Buktinya? Mereka tidak ketinggalan informasi adalah saat ada penawaran rumah bersubsidi, para nelayan yang melaut intens berkomunikasi dengan istrinya di daratan. Mereka turut mengambil keputusan meski dari jarak jauh.

Saat ini di Batang ada 10.331 nelayan, mayoritas berusia produktif antara 20-40 tahun. Dan, hampir seluruhnya punya smartphone.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya