Berita

Lajpat Nagar, banyak pengungsi Afghanistan yang tinggal di wilayah bisnis ini/Net

Dunia

Derita Pengungsi Afghanistan di India: Tidak Ada Harapan untuk Kembali, tapi di Sini Kami Juga Dibatasi

SABTU, 21 AGUSTUS 2021 | 09:44 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Jauh sebelum Taliban menguasai Afghanistan, ada banyak warga yang melarikan diri dari negara itu untuk mencari perlindungan. Status mereka selama dalam pelarian kebanyakan adalah migran ilegal. Kalaupun mendapat ijin tinggal, status kewarganegaraan mereka belum berubah.

Mereka berharap kelak dapat kembali lagi ke Afghanistan jika keadaan telah membaik.
Namun, kapan Afghanistan membaik?

Pada Minggu (15/8) Taliban berhasil menduduki Afghanistan dan menggulingkan Presiden Ashraf Ghani. Banjir migran pun terjadi. Bandara Kabul membludak. Banyak yang menjerit meminta bisa keluar dari negara itu alih-alih bertahan di bawah rezim Taliban.

Pada Minggu (15/8) Taliban berhasil menduduki Afghanistan dan menggulingkan Presiden Ashraf Ghani. Banjir migran pun terjadi. Bandara Kabul membludak. Banyak yang menjerit meminta bisa keluar dari negara itu alih-alih bertahan di bawah rezim Taliban.

Mimpi para migran yang berharap bisa kembali ke Afghanistan suatu saat, kandas.

Di India, ada banyak migran asal Afghanistan. Mereka tinggal Lajpat Nagar di New Delhi, tempat banyak pengungsi Afghanistan tinggal.

Salah satuya adalah Nangis yang pergi meninggalkan Afghanistan pada 2018 lalu. Saat ini, ia terjebak dalam keadaan yang membingungkan.

Nangis datang ke India dengan harapan keadaan akan membaik dan dia akan segera kembali ke tanah airnya. Namun, ketika Taliban menguasai Afghanistab, harapannya hancur.

"Sekarang tidak ada harapan untuk kembali. Saya pikir saya mungkin harus tinggal di sini (di India) sampai saya mati. Jika saya kembali ke tanah air saya, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada gadis-gadis seperti saya?" kata Nargis, seperti dikisahkan oleh TRT World.

Nargis adalah di antara lebih dari 10.000 pengungsi Afghanistan yang secara resmi tinggal di India. Jumlah itu akan bertambah dalam beberapa hari ke depan.

Pada Minggu malam (15/8), penerbangan Air India membawa 129 penumpang dari Afghanistan. Di antara mereka adalah para diplomat India dan warga Afghanistan biasa.

Akbar Farhad, 42 tahun, ia adalah dokter di Afghanistan yang kemudian beralih menjadi seniman ketika mengungsi ke India. Menurutnya, sementara ini India menyediakan ruang yang aman untuk karya seninya, walaupun dia tidak yakin tentang masa depan keluarganya.

“Saya tidak bisa kembali ke Afghanistan. Tapi di sini di India, anak-anak saya tidak bisa terdaftar di sekolah karena mereka adalah pengungsi. Mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan nanti. Kita tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan normal," katanya dengan sedih.

Biaya hidup di India juga tinggi terutama untuk sewa tempat tinggal.
 
Karena tidak memiliki kewarganegaraan India, para pengungsi menghadapi banyak kesulitan dalam mengakses fasilitas seperti SIM, surat-surat, bahkan sampai urusan dapur seperti tabung gas.

TRT menulis, warga negara Afghanistan pertama kali bermigrasi ke India selama perang Soviet pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, dan banyak lagi yang melarikan diri dari rezim Taliban pada pertengahan 1990-an.

Baik Nargis maupun Farhad, tidak pernah mendapat kewarganegaraan tetapi harus bertahan tinggal di negara itu dengan visa jangka panjang yang disediakan oleh pemerintah India. Ini karena India bukan penandatangan Konvensi PBB 1951 tentang Pengungsi, juga tidak memiliki undang-undang khusus tentang pengungsi.

Harapan pengungsi semakin tipis saat Pemerintah India memperkenalkan Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan (CAA) yang kontroversial pada 2019. Di bawah undang-undang itu, proses untuk mendapatkan kewarganegaraan India akan dipercepat hanya untuk non-Muslim dari negara-negara tetangga seperti Afghanistan, Pakistan dan Bangladesh. Sementara pengungsi dari Afghanistan, sebagian besar adalah Muslim.

Menurut Kementerian Dalam Negeri India, mereka yang mencari kewarganegaraan juga harus membuktikan bahwa mereka telah berada di India pada atau sebelum 31 Desember 2014.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya