Berita

Warga Suriah berbondong-bondong ke perbatasan Suriah-Turki/Net

Dunia

Erdogan Ingatkan Brussel, Turki Tolak Bertanggung Jawab atas Gelombang Migran Baru di Tengah Gejolak Afghanistan

SABTU, 21 AGUSTUS 2021 | 07:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Uni Eropa mengkhawatirkan krisis migran baru akan muncul dan membludak, jauh lebih hebat dari sebelumnya setelah Taliban menguasai Afghanistan dan orang-orang berbondong-bondong menyerbu bandara untuk pergi meninggalkan negara itu.

Meski biaya yang dikeluarkan begitu tinggi, mereka tetap mendesak untuk dikeluarkan dari Afghanistan. Banyak yang cemas, Afghanistan di bawah Taliban tidak lagi aman.

Beberapa negara menyerukan bantuan evakuasi terhadap warga Afghanistan, tetapi tak ada yang tahu pasti negara mana yang akan menerima mereka.


Sebelum mata Eropa tertuju kepada Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan telah memberi isyarat penolakan. Dalam sebuah wawancara di televisi, pemimpin Turki itu mengatakan, negaranya tidak akan menjadi tempat untuk 'gudang pengungsi'.

“Turki tidak memiliki tugas, tanggung jawab, atau kewajiban untuk menjadi gudang pengungsi Eropa,” kata Erdogan.

Sebaliknya, Turki menunjuk Eropa untuk ikut memikul tanggung jawab atas gelombang migrasi, meskipun pada saat yang sama Turki sedang menuju negosiasi dengan Brussels untuk masa depan Turki.

Kebangkitan Taliban yang cepat dan tak terduga di Afghanistan menjadi babak baru untuk beberapa negara, termasuk  dalam hubungan antara Ankara dan Brussel.

Sepanjang tahun ini saja, warga Afghanistan yang mengungsi telah mencapai 400.000 orang, menurut data yang dikumpulkan oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). Hanya sebagian kecil dari mereka yang berhasil keluar dari negara itu.

Kemudian, dalam beberapa hari terakhir, setelah Afghanista jatuh ke tangan Taliban, ratusan pengungsi Afghanistan telah tiba di Turki dngan melintasi perbatasan Iran.

Meskipun Turki tidak memiliki kewajiban untuk menjadi tempat pengungsian mereka, tetapi para migran telah 'terlanjur' masuk Turki. Menghindari lonjakan pengungsi, Ankara menyetujui pembangunan tembok di sepanjang perbatasan Iran. Penyeberangan di perbatasan juga diperkuat dengan mengirimkan militer, gendarmerie dan polisi.

Selama ini Turki adalah penampung pengungsi terbesar. Sebanyak lima juta warga negara asing, sebagian besar adalah pengungsi Suriah yang berjumlah 3,5 juta, mencari perlindungan di Turki.

Dari jumlah itu, hanya sekitar satu juta orang yang memiliki izin tinggal di Turki. Selebihnya adalah ilegal. Masalah migran ini cukup membuat pusing pemerintahan Erdogan selama bertahun-tahun.

Pada Maret 2016, Turki mencapai kesepakatan bersejarah dengan Uni Eropa menyusul gelombang migrasi yang disebabkan oleh perang saudara di Suriah. Lebih dari satu juta orang datang ke Eropa untuk mengajukan suaka, yang kemudian diterima dengan tangan terbuka oleh Kanselir Jerman Angela Merkel.

Namun, keputusan Merkel menimbulkan gesekan antara negara-negara anggota atas distribusi persentase penerimaan, yang kemudian membuat Jerman menunjuk Turki. Jerman mengajukan negosiasi dengan Erdogan melalui Uni Eropa dengan satu tujuan: untuk menghentikan masuknya besar-besaran warga Suriah ke Eropa, dan mengalihkannya ke Turki.

Ketentuan dalam negosiasi itu melahirkan keputusan bahwa Turki akan bertanggung jawab atas migran gelap di  Eropa dan juga Yunani, dan mencegah pembukaan rute migrasi baru. Sebagai imbalannya, UE akan memberikan bantuan 6 miliar Euro, melonggarkan pembatasan visa bagi warga negara Turki dan membawa Ankara lebih dekat ke keanggotaan UE.

Namun, retorika Brussel telah bergeser. Pengganti Kanselir Jerman Angela Merkel, Amin Laschet, mengubah keputusan, menentang gelombang baru pengungsi. Hal itu karena kekhawatiran akan munculnya gerakan sayap kanan di seluruh benua dan ancaman terorisme.

Saat ini, Erdogan juga tidak ingin lagi menerima arus migran.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya