Berita

Wakil Presiden Pertama Afghanistan, Amrullah Saleh/Net

Dunia

Wapres Amrullah Saleh: Afghanistan Terlalu Besar untuk Diperintah Taliban dan Dicaplok Pakistan

JUMAT, 20 AGUSTUS 2021 | 10:01 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Ketika Presiden Ashraf Ghani buru-buru meninggalkan Afghanistan setelah Taliban merebut ibukota Kabul, ada wakilnya, Amrullah Saleh yang masih berdiri menantang kelompok itu.

Sebagai wakil presiden pertama, Amrullah Saeh telah menyatakan diri menjadi penjabat presiden. Dalam berbagai pernyataannya, ia mendorong agar Taliban tidak melakukan kekerasan.

Dalam sebuah cuitan, ia berani menantang Taliban dengan mengatakan Afghanistan terlalu besar untuk diperintah oleh kelompok yang ia sebagai "militan" itu.


"Afghanistan terlalu besar untuk diperintah oleh militan Taliban dan terlalu besar untuk dicaplok Pakistan," cuitnya pada Kamis (19/8).

"Jangan biarkan sejarah Anda memiliki bab tentang penghinaan dan tunduk pada kelompok-kelompok teror," tambahnya.

Pernyataan Amrullah Saleh itu sebagai tanggapan atas cuitan mantan pejabat Gedung Putih, Michael Johns yang mengkritik penarikan diri pasukan AS secara tiba-tiba dan tidak rasional dari Afghanistan.

Saleh, yang merupakan penduduk asli Provinsi Panjshir, diyakini telah membangun Front Perlawanan Nasional Afghanistan melawan Taliban.

Saleh menerima pelatihan militernya dari Pakistan dan menjadi kepala Direktorat Keamanan Nasional pada tahun 2004, ketika Hamid Karzai menjadi presiden. Dia kemudian menjabat sebagai menteri dalam negeri di rezim Ashraf Ghani dan kemudian menjadi Wakil Presiden Pertama negara itu.

Amrullah Saleh sangat kritis terhadap dugaan peran Pakistan dalam konflik Afghanistan dan menyalahkan negara tetangga itu karena memicu krisis.

Afganistan jatuh ke dalam ketidakpastian setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan pada April bahwa ribuan tentara AS yang ada di negara itu selama 20 tahun terakhir akan ditarik. Beberapa minggu sebelum batas waktu penarikan, Taliban melancarkan serangan terhadap pasukan Afghanistan.

Dua bulan terakhir, dunia telah menyaksikan Taliban menguasai bagian-bagian Afghanistan hingga akhirnya merebut Kabul pada 15 Agustus. 

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

RH Singgung Perang Bubat di Balik Sowan Eggi–Damai ke Jokowi

Jumat, 09 Januari 2026 | 20:51

UPDATE

Trump Ancam Kenakan Tarif 25 Persen ke Delapan Negara Eropa

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:48

Arsitektur Hukum Pilkada Sudah Semakin Terlembaga

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:40

Serpihan Badan Pesawat ATR 42-500 Berhasil Ditemukan

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:08

Rekonstruksi Kontrol Yudisial atas Diskresi Penegak Hukum

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00

KAI Commuter Rekayasa Pola Operasi Imbas Genangan di Kampung Bandan

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:51

Seluruh Sumber Daya Harus Dikerahkan Cari Pesawat ATR yang Hilang Kontak

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:45

Tujuh Kali Menang Pilpres, Museveni Lanjutkan Dominasi Kekuasaan di Uganda

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:20

Belasan RT dan Ruas Jalan di Jakarta Terendam Banjir

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:13

Ongkos Pilkada Langsung Tak Sebesar MBG

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:50

Delik Hukum Pandji Tak Perlu Dicari-cari

Minggu, 18 Januari 2026 | 07:45

Selengkapnya