Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Lithium Afghanistan Senilai 1 Triliun Dolar, Akan Menjadi Milik Taliban atau Jatuh ke Tangan China?

JUMAT, 20 AGUSTUS 2021 | 08:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia. Meskipun demikian, ternyata negara   yang terkurung daratan di Asia Selatan dan Asia Tengah ini memiliki kekayaan mineral besar yang belum dimanfaatkan, yang mungkin saja bisa menjadikannya negara paling kaya.

Pada 2010, seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Afghanistan memiliki cadangan mineral alam yang melimpah yang dapat mengubah situasi ekonominya. Bahkan, mereka menggambarkan Afghanistan sebagai kandidat untuk menjadi 'seperti Arab Saudi dalam lithium', mengacu pada kelimpahan logam mulia di dalam wilayahnya, yang semakin hari semakin penting dalam pembuatan baterai dan elektronik.

Ilmuwan dan pakar keamanan yang mendirikan kelompok Ecological Futures, Rod Schoonover, mengatakan bahwa Afghanistan sebenarnya adalah salah satu wilayah yang paling kaya akan logam mulia tradisional dengan nilai cadangan mineral  mencapai satu triliun dolar.


AS telah memperkirakan bahwa cadangan litium Afghanistan dapat menyaingi cadangan di Bolivia, yang terbesar di dunia.

Logam seperti besi, tembaga, dan emas, serta logam langka seperti lithium merupakan elemen kunci dalam baterai isi ulang. Lithium dan kobalt juga semakin diminati karena dunia mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi energi bersih lainnya untuk mengurangi emisi karbon.

Sayangnya, Afghanistan memiliki tantangan keamanan, kurangnya infrastruktur, dan kekeringan parah sehingga penambangan mineral paling berharga itu tidak mungkin dilakukan. Kemungkinan, situasi ini tidak bisa segera berubah setelah Taliban menguasai negara itu.

Para pengamat mengatakan, meski situasi Afghanistan saat ini dikepung oleh kekacauan, tidak menyurutkan minat dari negara-negara seperti China, Pakistan, dan India, mencoba untuk terlibat dalam penambangan mineral ini.

Selama ini, China menjadi rumah utama dan produsen logam tanah jarang. Para ahli memperkirakan kemungkinan China akan menjadi mitra bisnis yang dapat dituju oleh Taliban setelah kelompok itu menguasai Afghanistan.

Beijing telah menjangkau kepemimpinan Taliban pada bulan Juli, jauh sebelum runtuhnya pemerintah yang didukung AS di Kabul, dan telah menjadi salah satu dari sedikit kekuatan besar yang tetap membuka kedutaannya di ibu kota Afghanistan dalam beberapa hari terakhir.

Upaya China untuk mengembangkan lapisan tanah Afghanistan semasa pemerintahan Presiden Ashraf Ghani sejauh ini berakhir dengan kegagalan.

Rata-rata mobil listrik membutuhkan logam enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional, menurut Badan Energi Internasional, dengan lithium, nikel dan kobalt menjadi komponen utama dalam baterai.

Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen/logam tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin angin.

CNN menulis pada Kamis (19/8), Badan Energi Internasional mengungkapkan bahwa pasokan global lithium, tembaga, nikel, kobalt dan logam tanah jarang perlu meningkat tajam atau dunia akan gagal dalam upayanya untuk mengatasi krisis iklim. Tiga negara, yaitu China, Republik Demokratik Kongo, dan Australia, saat ini menyumbang 75 persen dari produksi global lithium, kobalt, dan logam tanah jarang

"Jika Afghanistan memiliki stabilitas beberapa tahun yang memungkinkannya untuk mengembangkan sumber daya mineralnya, itu bisa menjadi salah satu negara terkaya di kawasan ini dalam satu dekade," kata Mirzad dari Survei Geologi AS mengatakan kepada Science pada tahun 2010.

Bisnis penggalian emas, tembaga, dan besi, eksploitasi litium dan logam tanah jarang, membutuhkan banyak investasi dan pengetahuan teknis, serta waktu.

Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa dibutuhkan rata-rata 16 tahun dari penemuan untuk memulai produksi yang sebenarnya.

Kurangnya pengembangan sumber daya mineral membuat Afghanistan hanya menghasilkan satu miliar dolar AS setiap tahun dalam perekonomiannya, menurut Musin Khan, seorang rekan non-residen di Dewan Atlantik dan mantan direktur untuk Timur Tengah dan Asia Tengah di Dana Moneter Internasional.

Khan memperkirakan bahwa 30 hingga 40 persen dari pendapatan itu telah dibajak oleh korupsi, seperti halnya para panglima perang dan Taliban, yang memimpin usaha pertambangan kecil.

Schoonover, pakar gejolak lingkungan global dan perubahan iklim, mengatakan masih ada kemungkinan bahwa Taliban akan menggunakan kekuatan baru mereka untuk mengembangkan sektor pertambangan.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya