Berita

Moh. Nizar/RMOL

Publika

Albert Camus Membaca Pagebluk Covid-19

RABU, 18 AGUSTUS 2021 | 19:22 WIB

ENTAH sampai kapan virus corona baru (Covid-19) ini akan berlalu, bahkan varian baru pun menunggu, kondisi ini membuat hidup semakin tak menentu. Menghadapi pegebluk yang semakin suntuk ini, penulis teringat kembali kepada Albert Camus melalui novel “Samparnya”.

Bagi Camus, penderitaan tak mengenal orang baik atau jahat, siapa saja bisa tertular lalu sakit dan mati. Sebagai seorang penghayat absurditas, Camus memandang wejangan keagamaan sia-sia dalam menjelaskan wabah sebagai hukuman kolektif dari Tuhan.

Saat menghadapi pagebluk, Camus percaya sepenuhnya pada kekuatan manusia meski menyadari ketaksempurnaannya. Mereka yang berserah diri mengharapkan keajaiban dari luar dirinya, menunggu sesuatu di luar bayangannya, maka mereka ini tak akan menemukan jawaban.


Mereka mungkin menemukannya setelah kematian, tapi ketika itu sudah tak ada artinya. Kebalikannya, mereka yang menghadapi realitas dengan menerima apa adanya, menurut Camus di penghujung kisah ia menulis….mereka telah mendapatkan apa yang mereka idamkan. Karena selama itu mereka mengharapkan satu-satunya yang tergantung kepada mereka sendiri (Buku Obor, 2020: 375).  

Dan persis untuk konteks sekarang, bayangkan Anda yang beberapa hari yang lalu segar bugar lalu tiba-tiba terserang demam, sesak nafas, cepat lelah, dan mulai kehilangan penciuman.

Berdasarkan diagnosis dokter Anda dinyatakan positif Covid. Sisa hidup Anda, terhenti di kamar isolasi menanti datangnya kesembuhan. Dalam kondisi demikian, mungkin Anda akan mengutuk dunia atau menuntut keadilan Tuhan.

Bagi Camus, dalam kisah Sampar ia mengajak manusia untuk berfikir dan bertindak dengan bertolak dari manusia sebagai penentu sejarahnya.

Dengan kata lain jika membandingkan jumlah kematian akibat Covid di beberapa negara, kita mendapati perbedaannya secara signifikan, lantas apakah itu berarti menggambarkan perbedaan kasih sayang Tuhan?

Meminjam bahasa Camus, perbedaan angka korban Covid bukanlah suatu keajaiban atau sebaliknya hukuman: Covid tak mengenal negara sekuler atau negara berbasis agama.

Bertolak dari pengyahatan Camus atas sampar, manusia di hadapan pegebluk sama: tak berdaya. Namun meski tak ada manusia yang sempurna. Sama seperti tidak ada makhluk lainnya yang sempurna.

Maka dalam menghadapi pagebluk, manusia tak bisa hanya menganggapnya sebagai mimpi buruk yang segalanya pasti berlalu. Hal ini sama saja menolak adanya kontradiksi dalam kehidupan.

Lantas kepada siapa manusia minta pertolongan?

Bagi Camus, dalam ketakberdayaan manusia seharusnya memberontak mencari pelbagai upaya untuk mengakhiri pagebluk ini. Namun yang menyedihkan terkadang manusia menggunakan Tuhan sebagai penjelasan atas ketadakberdayaannya.

Maka mungkin yang dibutuhkan ialah bertemu Tuhan langsung (baca: mati), tetapi sebagaimana kata Camus, ketika itu sudah tak berarti lagi.

Di dalam menghadapi kontradiksi, kata Camus yang dibutuhkan manusia ialah berjuang keras untuk mengakhiri penderitaannya meski menyadari ketaksempurnaannya.

Dengan kata lain meski manusia mengetahui ketaksempurnaannya tapi tak berarti boleh menyerah. Manusia harus memberontak atas ketakberdayaannya. Karena keajaiban tidak jatuh dari langit.

Dalam hal ini, sikap kemasabodohan terhadap pagebluk yang semakin hari semakin membesar, seperti tak lagi mengharapkan akhir pertempuran, melalaikan protokol kesehatan, mengambil paksa jenazah pasien Covid (tanpa mempersiapkan diri terhadap penularan).

Maka di situlah letak bahaya sesungguhnya akibat kelalaian mereka dalam menghadapi pandemi. Mereka bertaruh dengan keberuntungan, sementara keberuntungan sendiri tak dapat dijadikan jaminan.

Berserah diri dalam pengertian Camus ialah mempersilahkan hidup menghadapi ketegangan atau kontradiksi lalu memberontak untuk melampauinya.

“Apakah Anda kira sampar akan berhenti begitu saja? Tiba-tiba? Tanpa memberi tahu?” Begitu Cottard bertanya kepada dokter Rieux.

Tetapi ia bukan mewakili  relawan, agamawan, padagang, wartawan, atau warga Oran, melainkan seorang pengambil manfaat, pengambil kesempatan dalam kesempitan, dan manusia egois di dalam menghadapi sampar. 

Moh. Nizar
Penulis adalah Dosen Fisip Universitas Lampung/Mahasiswa S3 Universiti Utara Malaysia

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya