Berita

Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution/Net

Politik

Syahrial Nasution: Menggantungkan Kehidupan Negara dengan China Justru Menyudutkan Posisi Indonesia

RABU, 11 AGUSTUS 2021 | 12:41 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Indonesia masuk fase kerumitan secara ekonomi dan geopolitik. Arah penanganan Covid-19 idealnya selain melindungi nyawa rakyat, juga membuka ruang lebih demokratis untuk kesejahteraan.

Begitu tegas Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution dalam kultwitnya yang berjudul “Jokowi dan Sinovacnya”, Rabu (11/8).

“Menggantungkan kehidupan negara secara bilateral dengan China, tentu sangat tidak bijaksana,” tegasnya.


Cara itu justru akan menyudutkan posisi negara pada decoupling economy (polarisasi) di antara 2 raksasa dunia, yaitu Amerika dan China.

“Bagaimana kapasitas adaptasi Indonesia terhadap kondisi ini? Polarisasi pasca Covid-19 sudah membuat posisi Indonesia terkucil di dunia diplomasi internasional,” ujarnya.

Salah satu contohnya adalah kebijakan dominasi vaksin Sinovac yang justru membuat rakyat jadi kerepotan. Sebab, penerbangan ke Singapura jadi ditolak karena Indonesia menggunakan vaksin tersebut.

Di Thailand, sambung Syahrial, masyarakat bahkan sudah demo besar-besaran menolak Sinovac. Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin juga sedang digoyang akibat kebijakan Covid-19 dan untuk berangkat umroh pun pengguna Sinovac ditolak.

Syahrial melihat kapasitas negara begitu lemah. Penyebabnya bisa jadi dua hal, pilihan politik pemerintahan Jokowi atau karena kurang piawainya pemerintah pada diplomasi vaksin.

“Sangat terasa, dominasi China di bidang ekonomi dan kesehatan. Negara kita terjebak pada polarisasi dunia, tapi dalam posisi tidak berdaulat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Syahrial juga merasa peran ASEAN juga tidak terasa karena masing-masing negara sibuk mengurus diri masing-masing. Padahal seharusnya, para presiden bisa mengutus orang-orang terbaiknya demi menyelamatkan nyawa rakyat.

“Orang-orang yang mampu berkisah kepada dunia untuk sama-sama mengatasi virus corona ini. Bukan menciptakan polar baru di tangan Pak Luhut,” ujar Syahrial.

Atas alasan itu juga, dia menilai wajar jika kini banyak yang bertanya-tanya tentang siapa panglima perang melawan Covid-19 di tanah air.

Pola komunikasi yang sampai ke telinga rakyat terasa buram. Sebab yang disampaikan presiden dan Menko Luhut dengan yang diterima dan dirasakan rakyat tidak sinkron.

“Ruang demokrasi berpikir pun, kian sempit,” sambungnya.

Sementara mengenai decoupling economy, belakangan vaksin Pfizer, Moderna, Astra Zeneca, dan sebagainya mulai berdemokrasi di negara ini. Syahrial berharap kondisi ini bisa membuka ruang bagus untuk terbebas dari belenggu kesehatan.

Hanya saja, jumlah vaksin-vaksin ini masih sangat kecil dibandingkan Sinovac.

“Dan jangan-jangan hanya cara bertahan untuk berkuasa?” duganya.

Diingatkan Syahrial bahwa di Malaysia, mantan PM Mahathir Mohamad sempat diinterogari polisi karena diduga terlibat dalam demi menuntut PM Muhyiddin mundur.

Demo itu sendiri dilakukan karena Muhyiddin dinilai tidak becus menangani Covid-19 di negeri jiran.

“Ingat, keduanya pernah bersekutu sebelum akhirnya PM Muhyiddin disebut-sebut mengkhianati Dr. Mahathir,” tekannya.

Bagi Syahrial, kebijakan ekonomi untuk pemulihan daya beli dan peningkatan sektor produksi melalui PPKM berlevel-level cukup membingungkan.

Dia ragu kebijakan itu mampu menggenjot realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang terus turun 3 tahun terakhir. Belum lagi ongkos stimulus Covid-19 yang masih dikorupsi.

Presiden Jokowi sebagai mantan walikota dan gubernur sebaiknya didampingi pihak-pihak yang berpikir moderat.

“Bukan komandan perang yang pilihannya hidup atau mati. Melainkan, tetap hidup dan damai. Kecuali, langkah-langkah sekarang memang jadi keputusannya, termasuk mengadopsi kemauan bilateral China,” demikian Syahrial.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya