Berita

Pasukan keamanan Afghanistan berjaga-jaga di sebuah pos pemeriksaan di distrik Guzara di provinsi Herat/Reuters

Dunia

Taliban Semakin Agresif di Afghanistan, DK PBB Soroti Peran Pakistan di Balik Layar

SELASA, 10 AGUSTUS 2021 | 13:36 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Taliban dan Pakistan menjadi pembahasan di atas meja dalam sidang khusus Dewan Keamanan PBB yang digelar pekan lalu, tepatnya pada Kamis (5/8). Sidang khusus ini diadakan atas permintaan Menteri Luar Negeri Afghanistan Mohammad Haneef Atmar karena melihat situasi keamanan yang memburuk dengan cepat di negaranya.

Dalam pertemuan tersebut, sebagian besar dari 15 anggota tetap dan tidak tetap di Dewan Keamanan PBB satu suara mengecam kelompok militan Taliban yang semakin agresif melancarkan serangan di Afghanistan beberapa bulan belakangan. Anggota Dewan Keamanan PBB menyoroti soal kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran yang dilakukan oleh Taliban di Afghanistan.

Dalam pertemuan itu, India sebagai negara yang memimpin sidang, mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera melakukan tindakan demi menciptakan gencatan senjata yang abadi dan menyeluruh, demi menghentikn kekerasan yang terjadi di Afghnistan. Pasalnya, situasi kemanan yang semakin memburuk di Afghanistan menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan regional.


“Oleh karena itu, sudah waktunya bagi masyarakat internasional dan, khususnya, Dewan ini untuk melihat situasi, dan memutuskan tindakan yang akan membantu membawa gencatan senjata permanen dan komprehensif dan memastikan penghentian segera kekerasan,” kata utusan India untuk PBB TS Tirumurti.

"Untuk perdamaian abadi di Afghanistan, tempat perlindungan teroris dan tempat perlindungan di kawasan itu harus segera dibongkar dan rantai pasokan teroris terganggu," sambungnya, seperti dimuat India Narrative.

Sementara itu, masih dalam kesempatan yang sama, perwakilan Afghanistan untuk PBB Ghulam M, Isaczai menunjuk hidung Pakistan karena dianggap memberikn dukungan bagi Taliban. Di mengatakan, Afghanistan siap untuk memberikan bukti material kepada Dewan Keamanan PBB untuk mendukung klaimnya bahwa Pakistan bertanggung jawab untuk membangun rantai pasokan bahan perang.

"Taliban terus menikmati tempat berlindung yang aman dan jalur pasokan dan logistik diperluas ke mesin perang mereka dari Pakistan. Laporan grafis dan video pejuang Taliban yang berkumpul di dekat Garis Durand untuk memasuki Afghanistan, acara penggalangan dana, pemindahan mayat untuk penguburan massal dan perawatan Taliban yang terluka di rumah sakit Pakistan muncul dan tersedia secara luas," jelas Isaczai.

“Jika anggota Dewan Keamanan menginginkan bukti itu, kami siap memberikannya,” tambahnya.

Dia juga menambahkan bahwa sejak pertengahan April lalu, Taliban dan kelompok teroris asing yang berafiliasi dengan mereka melancarkan lebih dari 5.500 serangan di 31 provinsi, dengan dukungan langsung lebih dari 10 ribu pejuang asing dari 20 kelompok, termasuk Al-Qaeda, LeT, TTP, ISIL yang memasuki Afghanistan dan berjuang bersama Taliban.

Isaczai juga memperingatkan negara-negara Asia Tengah bahwa ada bukti bahwa Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM) dan Gerakan Islam Uzbekistan (IMU), yang telah berjanji setia kepada ISIS, bertempur bersama Taliban di wilayah Faryab, Jowzjan, Takhar dan Badakhshan, yang kini telah diduduki dan dikuasai oleh Taliban. Oleh karena itu, dia menggarisbawahi, tidak ada lagi bukti yang diperlukan untuk membangun hubungan erat Taliban dengan teror internasional.

“Hubungan antara Taliban dan kelompok teroris transnasional ini lebih kuat hari ini daripada di titik mana pun belakangan ini,” kata Isaczai.

Masih dalam kesempatan yang sama, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons menyimpulkan sesi tersebut dengan memperingatkan bahwa Afghanistan sedang berada dalam titik balik yang berbahaya.

"Dalam beberapa minggu terakhir, Afghanistan telah memasuki fase destruktif baru. Taliban telah mencapai keuntungan teritorial yang signifikan,” katanya.

Situasi ini menyebabkan masyarakat internasional dihadapkan pada dua kemungkinan hal yang akan terjadi, yakni apakah negosiasi damai yang sejati atau serangkaian krisis yang tragis. Jika kemungkinan kedua itu terjadi, maka dampaknya akan sangat mungkin menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia yang semakin buruk dan potensi pertumpahan darah yang smakin meluas.

Oleh karena itu, Lyons mendesak para duta besar untuk mengambil kesempatan dan menunjukkan komitmen.

"Untuk mencegah Afghanistan dari situasi bencana yang begitu serius," tandasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya