Berita

Amerika Serikat mendakwa dua warga negara Myanmar karena berencana melakukan penyerangan terhadap dutabesar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun/Net

Dunia

AS Tangkap Dua WN Myanmar yang Siapkan Rencana Penyerangan Dubes di PBB

SABTU, 07 AGUSTUS 2021 | 14:14 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat mendakwa dua warga negara Myanmar karena berencana melakukan penyerangan terhadap dutabesar Myanmar untuk PBB.

Kedunya adalah Phyo Hein Htut berusia 28 tahun dan Ye Hein Zaw, berusia 20 tahun. Mereka didakwa di pengadilan federal di Westchester dengan tuduhan di mana mereka dapat dijatuhi hukuman hingga lima tahun penjara.

Menurut keterangan otoritas keamanan Amerika Serikat, keduanya memiliki rencana untuk menyerang dutabesar Myanmar untuk PBB, Kyaw Moe Tun. Dia merupakan utusan Myanmar untuk PBB yang ditunjuk sejak masa pemerintahan sipil pimpinan Aung San Suu Kyi.


Ketika militer mengambil alih kekuasaan pada awal Februri lalu, di dipecat dari jabatannya karena dianggap mengkhianati negara. Dia diketahui merupakan seorang pendukung gerakan demokrasi yang menolak perintah pemerintah militer untuk mundur.

Kyaw Moe Tun menolak pemecatannya dan bertahan di posisinya. Sementara itu, PBB juga belum mengakui pengambilalihan pemerintahan Myanmar oleh militer tersebut, sehingga memperkuat alasan Kyaw Moe Tun untuk bertahan.

Sementara itu, terkait rencana penyerangan ini, menurut jaksa Amerika Serikat untuk distrik selatan New York Audrey Strauss, kedua tersangka berkomplot untuk melukai atau membunuh dutabesar Myanmar untuk PBB.

"Serangan direncanakan terhadap seorang pejabat asing yang akan terjadi di tanah Amerika," kata Strauss.

Sementara itu, penjabat asisten direktur FBI Jacqueline Maguire, mengatakan bahwa penegak hukum bertindak cepat setelah mengetahui rencana penyerangan dan potensi pembunuhan di Westchester County, daerah pinggiran utara New York City.

“Hukum kami berlaku untuk semua orang di negara kami, dan orang-orang ini sekarang akan menghadapi konsekuensi karena diduga melanggar hukum itu,” jelasnya, seperti dikabarkan Al Jazeera.

Sementara itu, menurut pengaduan hukum, seorang tersangka yakni Phyo Hein Htut mengatakan kepada penyelidik FBI bahwa pedagang senjata di Thailand telah menghubunginya secara online dan menawarkan uang untuk menyewa penyerang untuk melukai sang dutabesar dan memaksanya mundur.

Jika dutabesar tidak mau mundur, maka pedagang senjata itu mengusulkan agar para penyerang membunuhnya. Phyo Hein Htut dan pedagang senjata pun kemudian menyetujui rencana untuk merusak mobil dutabesar untuk menyebabkan kecelakaan.

Kemudian tersangka lainnya, Ye Hein Zaw menghubungi Phyo Hein Htut dan melakukan dua kali transfer uang dengan total 4.000 dolar AS pada akhir Juli lalu. Phyo Hein Htut mengatakan kepada FBI bahwa dia seharusnya menerima tambahan 1.000 dolar AS setelah serangan itu selesai.

Di sisi lain, seorang penjaga keamanan sukarelawan di misi PBB Myanmar mengatakan kepada FBI pada awal pekan ini bahwa Phyo Hein Htut telah memberitahunya tentang rencana untuk menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh atau melukai duta besar.

Menurut pengaduan hukum yang sama, Ye Hein Zaw mengakui bahwa dia mentransfer uang itu ke Phyo Hein Htut. Dia juga mengaku secara teratur mengirim uang kepada orang lain atas nama pedagang senjata dan baru-baru ini memesan perjalanan ke Amerika Serikat untuk dua orang lainnya atas permintaan pedagang senjata.

"Para terdakwa ini mencapai lintas batas dan lautan dalam merancang plot kekerasan terhadap seorang pemimpin internasional di tanah Amerika Serikat," kata Komisaris Departemen Kepolisian New York Dermot Shea dalam sebuah pernyataan.

Menanggapi rencana penyerangan ini, Pelapor Khusus PBB tentang situasi hak asasi manusia di Myanmar Tom Andrews mengtakan bahwa hal tersebut mengerikan.

"Siapa yang berada di balik kemarahan ini dan siapa yang akan meminta pertanggungjawaban mereka?" tulisnya dalam sebuh pernyataan di media sosial.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya