Berita

Koalisi untuk keadilan hukum/Ist

Politik

Marak Diskon Hukuman, Aktivis Deklarasikan "Koalisi Untuk Keadilan Hukum"

SENIN, 02 AGUSTUS 2021 | 19:16 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Sejumlah aktivis serta masyarakat sipil melakukan deklarasi Koalisi Untuk Keadilan Hukum, Senin (2/8).

Deklarasi gerakan tersebut guna merespons fenomena pengurangan diskon masa hukuman koruptor. Deklarasi juga diklaim sebagai upaya menguatkan kembali konsolidasi aktivis untuk mengawasi penegak hukum dan lembaga peradilan.

"Kami muak dan marah dengan fenomena diskon masa hukuman ini. Koalisi ini bentuk komitmen kami mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum (rechstaat) dan bukan menjadi negara kekuasaan (matchstaat)," kata Koordinator Koalisi Untuk Keadilan Hukum, Fuad Adnan dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/8).


Fuad menjelaskan, koalisi ini juga berkomitmen mendorong tegaknya keadilan bagi kalangan bawah. Hukum, kata dia, tidak boleh jadi alat penguasa untuk menindas kalangan yang lemah.

"Konstitusi UUD 1945 menjamin perlindungan hukum dan keadilan hukum bagi setiap warga negara. Hukum tidak boleh tajam ke atas, namun tumpul ke bawah," tambahnya.

Aktivis 98 ini juga menyatakan, koalisinya akan mendorong pengungkapan kasus-kasus hukum lama yang pernah terjadi dan kental dengan ketidakadilan. Menurut Fuad, banyak pihak yang merasa penegakan hukum tidak mampu memberikan rasa keadilan dan ditengarai sudah diatur mafia hukum dan penguasa.

"Kami mendorong sejumlah pihak yang menjadi korban mafia hukum dan kepentingan penguasa untuk bicara atau speak up di ruang publik," tegasnya.

 Koalisi Untuk Keadilan Hukum dibentuk oleh sejumlah unsur, di antaranya Fuad Adnan dari Rumah Perkara, Suhardin Mansyur dari Lembaga Advokat Muda Indonesia (LAMI), Damai Mendrofa dari Forum Rakyat Sumut, Megel Jekson dari Pusat Kajian Keuangan Negara, Mira Chrisnanda dari Solidaritas Perempuan Jakarta, dan Bonar Manurung dari Forum Bisnis Bogor Tengah.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya