Berita

Ilustrasi tarian dari Bali/Net

Jaya Suprana

Mantra Sivalaya Stava

SENIN, 26 JULI 2021 | 11:36 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

GETARAN sukma pada naskah Panyondro Ki Dalang (24 Juli 2021) dilanjutkan oleh mahaguru Hindu-Bali saya, Guru Sugi Lanus dengan bermurah hati berbagi keadiluhuran warisan kearifan leluhur peradaban Bali sebagai berikut:

Mantra Sivalaya Stava


Dalam tradisi puja berbahasa Sansekerta kita mewarisi puja perlindungan dari penyakit, segala marabahaya, dan pengaruh negatif akibat ketidakseimbangan kosmik, yang jika diucapkan setiap saat, dipercaya akan melindungi kehidupan seseorang dari gunjangan yang bisa memporak-porandakan kehidupan.


Mantra Śivâlaya Stava antara lain menyebutkan energi penjaga keseimbangan alam:

Tathā Padmaḥ sthito madhye, Śivâlaye śūddha-sthāne ye vā sthitāḥ Nāga-sarvāḥ, krameôcyanta eva ca Nahuṣo Dhṛta-rāṣṭraś ca, Kālako Kambalas tathā Kadrū vā Vāsuki[rj jñeyāḥ, Karkoṭaka-Dhanañ-jayau. Takṣako Nikumbhas tathā, Haridro Rohiṇîti ca ‘Nanta-bhogaḥ sthito madhye, iti Nāgāḥ parivṛttāḥ.

(Dan Bunga-Teratai berada di tengah-tengah. Dan semua para Nāga yang hadir di tempat-kediaman Sang Hyang Śiva yang murni / suci disebutkan sekarang dalam urutan yang seharusnya: Nahuṣa dan Dhṛta-rāṣtra, Kālaka dan Kambala, Kadrū dan Vāsuki, Karkoṭaka dan Dhanañ-jaya; Tatṣaka dan Nikumbha, Haridra dan Rohinī; Ananta-bhoga berada di tengah-tengah; demikianlah kedudukan-kedudukan para Nāga di alam semesta).

Kearifan Leluhur Nusantara

Sama dengan ketika menghayati Panyondro Ki Dalang, sukma di lubuk sanubari saya tergetar oleh Mantra Sivalaya Stava. Dari para kearifan leluhur Nusantara itu saya memperoleh kesadaran betapa tak terhingga ketinggian, kedalaman dan keluasan makna warisan peradaban leluhur bangsa Indonesia.

Kearifan yang dibutuhkan umat manusia masa kini termasuk demi menghadapi malapetaka peradaban dahsyat seperti pagebluk Corona ternyata sudah dimiliki oleh kakek-nenek moyang bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Jauh sebelum peradaban Barat dipaksakan masuk ke persada Nusantara oleh kaum penjajah.

Jauh sebelum ilmu kedokteran, virologi serta epidemiologi hadir di bumi Indonesia serta jauh sebelum pagebluk virus Corona dibawa oleh bangsa asing merambah masuk ke bumi Ibu Pertiwi, nenek-moyang bangsa Indonesia sudah menyadari kearifan lahir-batin untuk bijak menghadapi malapetaka pagebluk

Sang Astika


Fakta telah membuktikan bahwa apa yang disebut sebagai sains sebagai warisan peradaban Barat tidak berhasil menanggulangi pagebluk Corona. Terbukti alih-alih pagebluk Corona mereda malah makin ganas merusak kesehatan bahkan merenggut nyawa jutaan manusia.

Leluhur bangsa Indonesia sudah menyadari bahwa pada hakikatnya kedatangan sang tercerahi, Astika, adalah titik balik. Dari apa yang semula “musuh yang harus dimusnahkan” telah berbalik akhirnya dipahami dan disadari
sebagai penyangga kehidupan.

Sang Astika “mendamaikan” dan membuka mata bahwa bangsa Naga sebenarnya adalah pelindung alam. Menjadi kekuatan yang mengikat dan menopang kehidupan. Penjaga keseimbangan.

Namun sambil menunggu ketibaan Astika adalah hukumnya wajib bagi segenap warga Indonesia tidak bersikap pasrah namun tetap secara ketat disiplin mencegah kerumunan sambil senantiasa memakai masker apabila ke luar dari rumah masing-masing selaras kearifan sedia payung sebelum hujan demi preventif dan promotif meningkatkan daya tubuh masing-masing agar tidak terpapar virus Corona.

Matur Suksma.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya