Berita

Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS), Gde Siriana Yusuf/Ist

Politik

Desak Pemerintah Gelontorkan Anggaran Bantu Rakyat Selama Lockdown, Gde Siriana: Jangan Pelit Untuk Rakyat Sendiri

MINGGU, 25 JULI 2021 | 01:40 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Rencana pelonggaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dilakukan secara bertahap mulai 26 Juli dinilai sebagai kebijakan yang salah kaprah.

Sebab, kondisi penyebaran Covid-19 di tanah air saat ini masih sangat mengkhawatirkan. Bahkan angka kematian akibat Covid-19 pun terus merangkak naik tak terkendali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun sudah mendesak Pemerintah Indonesia untuk menerapkan penguncian wilayah lebih ketat dan luas alias lockdown agar lonjakan kasus Covid-19 bisa ditekan secara maksimal.


Sejalan dengan desakan WHO, Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS), Gde Siriana Yusuf, memberi usulan lebih terperinci. Menurutnya, pemerintah tak perlu melakukan lockdown secara nasional, cukup per pulau.

Prioritas utama tentu saja di Pulau Jawa sebagai wilayah penyumbang terbanyak kasus positif Covid-19 di Indonesia.

"Selama empat minggu tidak ada migrasi dari maupun ke luar Jawa. Ada 2 macam lockdown, yaitu lockdown pulau selama 4 minggu dan lockdown di rumah saja pada 2 minggu pertama," paparnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (24/7).

Tentu saja, selama menjalani lockdown, seluruh rakyat mendapat bantuan untuk tetap bertahan hidup karena tak bisa beraktivitas seperti biasa.

Pada 2 minggu pertama, tutur Gde, lockdowndi rumah saja untuk semua penduduk Jawa. Semua orang, kaya atau miskin, harus diberikan bantuan makanan yang nilainya Rp 50 ribu per orang.

Dirinci oleh Gde Siriana, anggarannya seluruh penduduk Jawa adala 150 juta x 50 ribu x 14 hari adalah Rp 105 triliun. Plus listrik digratiskan.

Pada 2 minggu berikutnya, lanjut Gde Siriana, saat lockdown di rumah sudah dibuka dengan diasumsikan virus sudah mati di orang-orang yang tertular, hanya rakyat yang miskin diberikan insentif uang.

Yaitu untuk belanja konsumsi sebanyak Rp 5 juta per Kepala Keluarga (KK). Dengan jumlah KK mencapai 10 juta maka total anggaran yang dibutuhkan adalah Rp 50 triliun.

Jadi untuk me-lockdown Pulau Jawa, cukup dengan anggaran Rp 165 triliun, kata Gde Siriana.

"Mekanismenya tidak perlu pakai aplikasi yang bikin repot. Setiap KK punya rekening di Bank BUMN seperti BSI, BRI, Mandiri, BNI, BTN. Langsung transfer rekening. Cepat dan praktis," tambahnya.

Ditambahkan Gde Siriana, untuk kebutuhan nasional dengan anggaran Rp 300 triliun rasanya cukup. Termasuk biaya operasional pengawasan lockdown di rumah saja oleh TNI-Polri, di luar anggaran insentif Nakes dan UMKM.

Untuk Nakes sendiri, pemerintah telah mengalokasikan anggaran tahun 2021 sebesar Rp 215 triliun. Juga untuk insentif UMKM sudah dialokaskan anggaran Rp 185 triliun untuk 2021.

"Dalam situasi ini, berpikirnya adalah bagaimana menghindari potensi kerugian ekonomi yang lebih besar lagi. Misalnya 2020 kerugian ekonomi menurut Sri Mulyani Rp 1.400 triliun.  Sangat mungkin jika saat itu dilakukan lockdown dengan biaya Rp 300 triliun, kerugian ekonominya hanya katakanlah Rp 500 triliun," bebernya.

"Jadi ini seperti cut-loss dalam dunia saham. Mencegah kerugian yang lebih dalam, baik ekonomi maupun nyawa manusia. Bahkan kondisi yang kita inginkan seperti 70% vaksinasi dan herd immunity dapat tercapai lebih cepat," sambung Gde Siriana.

Soal vaksinasi massal, dijelaskan Gde Siriana, dilakukan secara massif setelah lockdown di rumah kembali dibuka. Atau dilaksanakan pada minggu ke-3 dan ke-4. Sehingg vaksinasi penduduk Jawa dalam 2 minggu kedua capai 70%.

Selanjutnya, setelah 4 minggu, Pulau Jawa dibuka lagi dengan pengetatan orang masuk dari luar pulau. Ketika kemudian diidentifikasikan ada kasus baru, segera dilokalisir lagi per distrik/kecamatan. Tidak perlu lockdown pulau.

Dituturkannya, di beberapa negara yang sudah melakukan lockdown seperti negara-negara Eropa, Vietnam, Australia, memang tidak menjamin kasus naik lagi sehingga kemudian dilakukan lockdown lagi.

Tapi setidaknya itu dapat mencegah banyak korban nyawa dan RS kolaps. Dan kuncinya adalah efektifitas pengetatan di wilayah imigrasi/bandara/pelabuhan.

Lalu lockdown pulau diterapkan di pulau-pulau lain yang kasusnya naik.

Dirinya menilai pemerintah masih bisa mengalokasikan 165 triliun untuk diberikan kepada rakyat selama lockdown 2 minggu di rumah saja  untuk penduduk Jawa.

Pertanyaannya, pemerintah mau atau tidak menggelontorkan anggaran sebanyak itu untuk diberikan secara cuma-cuma kepada rakyat?

"Pemerintah jangan pelit-pelit untuk rakyat sendiri, apalagi itu bukan uang pemerintah. Pemerintah bisa mudah dan cepat untuk mutusin bantu keuangan para taipan, kenapa untuk bantu rakyat sendiri tidak bisa cepat?" tutupnya.

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya