Berita

Pewayang sedang memainkan dalang/Net

Jaya Suprana

Panyondro Ki Dalang

SABTU, 24 JULI 2021 | 13:14 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MAHAGURU kemanusiaan saya, Sandyawan Sumardi berkenan menanggapi naskah Kreatifitas Wayang Purwa (22 Juli 2021) dengan sebuah hadiah berjudul Panyondro Ki Dalang sebagai berikut:

Hong wilaheng..! Candraning goro-goro bumi gonjang-ganjing langit gumarang, tangising bumi kelawan langit.

Tangising bumi ketiga dawa lemah bengkah, lindu kang tanpa sangkan sedina kaping pitu mangambal-ambal, kluwung pating palengkung teja mangkara-kara, nganti kontrang-kantringan para kawula, awit akeh sato tan antuk boga, mina kesatan warih, anom tuwa kang sirna kapenthang teluh, gagrak roning mandura.


Tangising langit udan barat salah mongso banjir bandang kang tanpa sangkan.

Gunung longsor kawur pada dene gunung, bleduk mangampak panjering sapi gumarang, guro gurnita jagad kagiri-giri, tempuhing goro-goro akeh para pandita kang sami ngeningaken cipta nenuwun marang Jawata, ratu-ratu kang samiya jegreg ing penggalih.

Genging panuwun murih tata tentreming jagad raya prandene datan katarima, mulat bumi kalawan langit kaya katangkep-tangkepa lintang lir rinanta-ranta lidat thatit pating klawer claret taut pating clorot.

Mbaleduk swaraning kawah candra, tirta kang kinebur-kebur kinoclak-kocla lir gambiralaya.

Pintu séla matangkeb kaya bujat-bujato mèncèng woting ogal-agil, ngakak tutuking sang hyang ananta, boga kopat-kapit tan pethite lir pecut penjalin tingal, nganti akeh para widadara widadari kang sami anjeli kepati, gunung jamur dipa kaya ambruk-ambruka, rikala semana sang paramesthi prisa kawontenaning goro-goro enggal ngasta tirta kamandanu, katetesake sirep pada sanalika.

Sireping goro-goro ana swara kang tanpa sangkan, jumleguring angkasa pinda gundala sasra, gundala sewu gelap byar padang terawang jagad sumilak gumelaring jagad anyar...


Penjelasan

Menyadari keterbatasan daya saya berbahasa Jawa, Sandyawan Sumardi berbaik hati memberikan penjelasan tentang suluk panyondro ki dalang sebagai berikut:

"Panyondro: atau paparan situasi dan kondisi yang menggambarkan suatu fase "goro-goro" atau geger, yakni situasi kehidupan manusia yang sedang dilanda ontran-ontran, musibah dan bencana alam. Candraning goro-goro bukan hanya dalam cerita pewayangan saja.

Bisa terjadi pada kehidupan manusia nyata. Disebut fase goro-goro kalau hampir seluruh elemen alam terjadi pergolakan yang mengarah pada terjadinya suatu bencana alam maupun musibah kemanusiaan. Seperti halnya bencana wabah pandemi Covid-19 yang selama 2 tahun ini tengah melanda umat manusia hampir di seluruh jagad dewantara.

Tatkala elemen air, elemen api, elemen udara dan elemen tanah itu bergolak. Akibat pergolakan elemen air memungkinkan terjadi berbagai macam bencana alam seperti misalnya tsunami, banjir bandang, hujan lebat.

Pergolakan elemen api memungkinkan terjadi berbagai macam bencana alam seperti gunung meletus, kebakaran hutan, kebakaran rumah-rumah penduduk, hawa yang sangat panas, badai halilintar.

Pergolakan elemen udara dapat menimbulkan bencana berupa badai, tornado atau puting beliung, perubahan cuaca ekstrem.

Sedangkan pergolakan elemen tanah dapat mengakibatkan suatu bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, likuifaksi, kekeringan dan sebagainya.

Biasanya bencana alam terjadi secara pergantian untuk masing-masing elemen alam itu.

Disebut goro-goro apabila bencana alam yang terjadi merupakan pergolakan dari keempat elemen alam itu secara bersama-sama pada waktu yang sama pula. Fase goro-goro bukan merupakan bentuk hukuman dari Tuhan, apalagi dikait-kaitkan dengan perilaku yang dianggap dosa menurut pandangan religi.

Saya melihatnya secara holistik, universal dan ilmiah, fase goro-goro sebagai siklus yang bersifat alamiah. Setiap siklus merupakan akhir suatu putaran orde sengkala atau waktu dan sekaligus merupakan awal suatu orde sengkala yang baru.

Artinya setiap siklus tentu akan membawa suatu perubahan. Itu terjadi dan berlangsung terus-menerus, sebagai sebuah dinamika kehidupan di planet bumi ini.

Memahami datangnya fase goro-goro, artinya suatu perubahan akan atau sedang terjadi.

Perubahan yang berhubungan dengan tatanan kehidupan manusia. Sedangkan pemicunya adalah adanya mekanisme alam untuk mengkoreksi tata keseimbangan kosmos yang telah mengalami pergeseran karena perjalanan waktu maupun rusaknya tata keseimbangan alam akibat ulah manusia, misalnya kerusakan lingkungan alam.

Jika alam semesta ini diumpamakan sebagai seismograf, neraca atau kompas, maka secara berkala perlu dilakukan kalibrasi ulang agar dapat bekerja secara akurat lagi.

Demikian pula dengan adanya sistem tata hukum keseimbangan alam ini, maka goro-goro merupakan siklus alamiah yang terjadi secara periodik guna mengkalibrasi sistem keseimbangan alam.

Untuk itu, setiap fase goro-goro di dalamnya terjadi mekanisme seleksi alam. Semua hal yang tidak selaras dan harmonis dengan ritme dan tata hukum keseimbangan alam akan tergulung dan tergilas oleh kekuatan alam.

Secara awam orang pada umumnya merasakan dan melihat hukum karma berlangsung secara cepat dan spontan. Atau populer disebut sebagai karma yang terjadi secara instan (instant karma).

Kebobrokan akan menuai kehancuran, kebohongan dan tipu daya segera terbongkar. Kepalsuan menuai penderitaan dan kesengsaraan.

Orang-orang oportunis akan berbalik menjadi pengemis. Tukang fitnah dan suka memutar balik fakta akan terjungkal oleh ulahnya sendiri. Sing salah, seleh..!

Semua pihak, perseorangan maupun organisasi yang secara terang-terangan maupun terselubung hendak merusak integritas bangsa, negara dan rakyat pasti terhempas oleh ulahnya sendiri. Karena mereka bukan sekedar berhadapan dengan hukum positif produk manusia, lebih dari itu, tindakannya berseberangan dengan hukum alam.

Sukma Tergetar


Saya membaca Panyondro Ki Dalang beserta penjelasan sumbangsih mahaguru kemanusiaan saya dengan sukma tergetar di lubuk sanubari akibat keindahan seni pedalangan wayang purwa besanding kedahsyatan kedalaman, keluasaan serta keadiluhuran makna terkandung di dalam virtuositas Ki Dalang mengungkap kearifan pemikiran warisan leluhur bangsa Indonesia nan tiada dua apalagi tara di marcapada ini.

Sireping goro-goro ana swara kang tanpa sangkan, jumleguring angkasa pinda gundala sasra, gundala sewu gelap byar padang terawang jagad sumilak gumelaring jagad anyar.

Penulis adalah budayawan, filsuf, pakar kelimurologi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya