Berita

Nama Prof Sarah Gilbert mengundang perhatian publik dunia akhir pekan ini. Dia merupakan seorang ahli imunologi berkewarganegaraan Inggris yang menemukan vaksin Covid-19 AstraZeneca/Net

Dunia

Sarah Gilbert, Melawan Covid-19 Bukan Karena Uang

MINGGU, 18 JULI 2021 | 17:10 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Nama Prof Sarah Gilbert mengundang perhatian publik dunia akhir pekan ini. Dia merupakan seorang ahli imunologi berkewarganegaraan Inggris yang menemukan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Dia mendapatkan apresiasi besar dari banyak pihak, lantaran profesor vaksinologi di Universitas Oxford itu melepaskan hak patennya atas vaksin tersebut, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar dan dengan harga murah.

Karena itulah, tidak berlebihan rasanya jika dia mendapatkan standing ovation di Lapangan Tengah Kejuaraan Wimbledon 2021 kemarin. Wimbledon sendiri adalah sebuah turnamen tenis terkemuka yang diselenggarakan selama sekitar dua minggu setiap tahunnya.


Pada kesempatan itu, Gilbert termasuk salah satu individu inspiratif yang diundang untuk menonton pertunjukan hari pertama pertandingan dari zona kerajaan Inggris.

Lantas, siapakah sebenarnya Sarah Gilbert?

Bermula Dari Malaria

Mengutip BBC, Sarah Gilbert merupakan wanita kelahiran Kettering, Northamptonshire pada April 1962. Ayahnya bekerja di bisnis sepatu sementara ibunya adalah seorang guru bahasa Inggris dan anggota masyarakat opera amatir lokal.

Setelah menyelesaikan gelar doktornya, dia mendapat pekerjaan di pusat penelitian pembuatan bir. Di sana dia mempelajari cara memanipulasi ragi pembuatan bir, sebelum kemudian beralih bekerja di bidang kesehatan manusia.

Dalam sebuah wawancara, Gilbert mengaku bahwa dirinya tidak pernah bermaksud untuk menjadi spesialis vaksin. Namun pada pertengahan 1990-an, dia berada dalam pekerjaan akademis di Universitas Oxford dan melihat genetika malaria. Hal itulah yang membuatnya tertarik pada pekerjaan pada vaksin malaria.

Ibu Dari Anak Kembar Tiga

Karirnya yang cemerlang tidak lantas membuatnya lupa akan perannya menjadi seorang ibu. Dia mengaku bahwa hidupnya menjadi sedikit lebih rumit ketika dia melahirkan anak kembar tiga.

Meski begitu, dia menjalankannya dengan sebaik mungkin. Salah seorang putranya, Freddie, menggambarkan ibunya sebagai sosok yang selalu mendukung dan mengutamakan kepentingan anak-anak.

Gilbert sendiri mengaku bahwa dia membebaskan anak-anaknya untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Meski begitu, semua anaknya pada akhirnya memilih untuk belajar biokimia di universitas.

Rekam Jejak Pembuatan Vaksin

Dari Oxford, Dr Gilbert naik pangkat, menjadi profesor di Jenner Institute yang bergengsi di universitas. Dia membentuk kelompok penelitiannya sendiri dalam upaya untuk membuat vaksin flu universal, yang berarti vaksin yang akan efektif melawan semua jenis varian yang berbeda.

Pada tahun 2014, dia memimpin uji coba pertama vaksin Ebola. Dan ketika virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) menyerang, dia pergi ke Arab Saudi untuk mencoba mengembangkan vaksin untuk bentuk virus corona ini.

Uji coba kedua vaksin itu baru saja dimulai ketika pada awal 2020, Covid-19 mulai menyebar ke sejumlah negara di dunia. Pada saat itu, dia segera menyadari bahwa dia mungkin bisa menggunakan pendekatan yang sama.

Melawan Covid-19 Bukan Untuk Uang

Di masa pandemi Covid-19, dia dan sejumlah rekannya menghabiskan waktu beberapa minggu untuk membuat vaksin yang bekerja melawan Covid-19 di laboratorium.

Gilbert menggambarkan proses tersebut lebih sebagai serangkaian langkah kecil daripada menjadi momen terobosan besar.

"Sejak awal, kami melihatnya sebagai perlombaan melawan virus, bukan perlombaan melawan pengembang vaksin lain," kata Gilbert awal tahun ini.

"Kami adalah universitas dan kami tidak berada di sini untuk menghasilkan uang," tegasnya.

Nama Indonesia Di Deretan Tim Prof Sarah Gilbert

Di antara deretan ilmuwan yang berada di dalam tim Prof Sarah Gilbert, terdapat peran serta peneliti asal Indonesia. Dia adalah dr. Indra Rudiansyah, PhD, peneliti Biofarma yang sedang melanjutkan studi di University of Oxford.

BBC mengabarkan bahwa Indra sebelumnya juga pernah melakukan penelitian vaksin malaria.

Murid lain dari Gilbert di Oxford bergabung di dalam TFRIC-19 dan mengembangkan kit test PCR merah putih, mBio CoV-19 adalah Fara Rangkuti dari Nusantics.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Realisasi Penerimaan Pajak Tembus Rp1.607 Triliun, Naik 24,1 Persen

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:26

Isu Parliamentary Threshold 1 Persen Mengemuka untuk Keadilan Demokrasi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:23

Pertamina Kerek Kualitas Pengelola Homestay Lokal Naik Kelas

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:12

TNI Harus Terbuka Ungkap Tuntas Judi Online di Rumah Dinas

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:09

Jelang Akhir Pekan Harga Minyak Dunia Bertahan di 103 Dolar AS

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:59

Putin Janji Bantu Iran Akhiri Perang di Timur Tengah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:57

DPR Kebanjiran Aspirasi Masyarakat Soal Putusan MK tentang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:50

Tanpa Restu Gerindra, DPR Diyakini Tidak akan Berani Makzulkan Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:47

Usut Tuntas Aktor di Balik Praktik Judi Online di Rumah Dinas TNI

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:37

Loncat dari Lantai Dua, Wanita Ini Selamatkan Anak saat Kebakaran di Rawamangun

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:36

Selengkapnya