Berita

Terkait dengan situasi pandemi Covid-19, Singapura menilai bahwa Myanmar sedang dalam kondisi serius/Net

Dunia

Singapura Imbau Warganya Di Myanmar Untuk Segera Pulang

JUMAT, 16 JULI 2021 | 23:20 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Warga Singapura yang masih berada di Myanmar diimbau untuk segera angkat kaki sesegera mungkin.

Begitu keterangan yang disampaikan oleh Kedutaan Besar Singapura di Yangon pekan ini, dalam sebuah email tertanggal 15 Juli, sebagaimana diwartakan oleh Channel News Asia.

Pemerintah Singapura mmenilai bahwa situasi di Myanmar semakin memburuk, baik dalam aspek keamanan maupun situasi Covid-19. Pemerintah Singapura pun menyediakan penerbangan bantuan reguler bagi warga negaranya yang hendak pulang dari Myanmar.


"Kedutaan tidak dapat menjamin bahwa penerbangan bantuan akan berlanjut secara teratur, atau bahwa para pelancong akan dapat meninggalkan negara itu dengan bebas pada tanggal perjalanan yang mereka inginkan," begitu kutipan dari pernyataan tersebut.

"Kedutaan mungkin tidak dalam posisi untuk mengatur penerbangan repatriasi khusus untuk warga Singapura di kemudian hari," sambung pernyataan yang sama.

Dalam ringkasan situasi keamanan di Myanmar, kedutaan mengatakan bahwa darurat militer telah diumumkan pada 15 Maret di enam kotapraja di Wilayah Yangon, yakni Hlaing Thayar, Shwepyithar, Dagon Utara, Dagon Selatan, Dagon Seikan dan Okkalap Utara.

Sementara itu, terkait dengan situasi pandemi Covid-19, Singapura menilai bahwa Myanmar sedang dalam kondisi serius.

"Sistem perawatan kesehatan telah mencapai kapasitas penuh dan ada daftar tunggu yang sangat panjang untuk masuk," begitu kutipan dari pihak kedutaan besar Singapura di Myanmar.

"Saat ini tidak ada tempat tidur ICU atau (untuk pasien) Covid-19 yang tersedia di rumah sakit umum dan swasta di Yangon, serta sangat kekurangan obat-obatan dasar dan pasokan oksigen di pasar," sambung pernyataan yang sama.

Pemerintah Singapura menyarankan warga Singapura dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya untuk secara serius mempertimbangkan meninggalkan negara itu sesegera mungkin.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya