Berita

Wakil Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman bertemu di Washington, DC, minggu ini dengan pejabat tinggi pemerintahan Biden/AP

Dunia

Apa Itu Kasus Khashoggi? Pemerintahan Joe Biden Jamu Saudara MBS Dengan Karpet Merah

JUMAT, 09 JULI 2021 | 02:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintahan Joe Biden kebanjiran kritik dari kelompok hak asasi manusia karena menjamu pangeran Arab Saudi yang juga merupakan adik dari Putra Mahkota Mohammed Bin Salman (MBS), yakni Khalid bin Salman di Washington, DC

Kunjungannya ke negeri Paman Sam itu dilakukan untuk pertemuan tingkat tinggi yang digelar minggu ini.

Pada tanggal 6 dan 7 Juli kemarin, Khalid bin Salman yang juga merupakan Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Amerika Serikat Jake Sullivan, Menteri Luar Negeri Antony Blinken, Menteri Pertahanan Lloyd Austin, Ketua Kepala Gabungan Jenderal Mark Milley dan pejabat senior Amerika Serikat lainnya.


Jamuan pemerintahan Joe Biden pada Khalid bin Salman mengundang sorotan dari sejumlah kelompok HAM dan advokat anti-perang, terutama dikaitkan dengan kasus pembunuhan wartawan senior Arab Saudi Jamal Khashoggi.

Pasalnya, sang kakak, MBS secara resmi secara resmi diidentifikasi awal tahun ini oleh badan-badan intelijen Amerika Serikat telah memberikan lampu hijau atas pembunuhan Khashoggi oleh regu pembunuh di Istanbul, Turki, pada tahun 2018 lalu.

Sementara itu, Biden pada pahun 2020 lalu sebagai kandidat presiden pernah lantang mengecam pembunuhan Khashoggi dan mengattakan bahwa Arab Saudi akan menjadi "pariah".

Hal inilah yang disinggung oleh para kritikus.

“Adalah kemunafikan yang luar biasa di pihak pemerintahan Biden untuk bertindak seolah-olah itu akan mengubah hubungan dengan Saudi,” kata salah satu pendiri Code Pink, sebuah kelompok advokasi perdamaian wanita di Washington, DC, Medea Benjamin.

“Pemerintahan Biden menentang semua yang dikatakan akan dilakukan,” kata Benjamin kepada Al Jazeera (Kamis, 8/7).

Dia juga mengatakan bahwa apa yang dikatakan Biden saat menjadi kandidat predisen berbeda dengan sikapnya saat telah menjabat.

“Biden berbicara tentang MBS menjadi paria, dan bagaimana dia akan memastikan bahwa Amerika Serikat tidak mendukung fasilitas dalam perang mereka di Yaman," kata Benjamin.

“Namun kenyataannya, dia menggelar karpet merah untuk saudara laki-laki MBS. Dia terus menjual senjata ke Arab Saudi. Dan dia menyimpan informasi dari publik tentang pembunuhan Khashoggi," sambungnya.

Kritik senada juga dilontarkan oleh Sarah Leah Whitson, direktur eksekutif Demokrasi untuk Dunia Arab Sekarang (DAWN).

“Presiden Biden telah membicarakan permainan yang bagus tentang meminta pertanggungjawaban pembunuh Khashoggi, bahkan menjanjikan selama kampanyenya untuk mengakhiri penjualan senjata ke Arab Saudi,” kata Whitson dalam sebuah op-ed yang diterbitkan di The Washington Post pada 6 Juli kemarin.

DAWN didirikan oleh Khashoggi yang menulis kolom opini untuk The Washington Post yang mengkritik monarki Arab Saudi pada saat dia terbunuh.

“Tetapi bukan saja pemerintahannya menolak untuk memberikan sanksi kepada MBS, dan melanjutkan penjualan senjata di bawah moniker 'senjata defensif', sekarang tampaknya mereka menyembunyikan informasi penting tentang pembunuhan Khashoggi,” tulis Whitson.

Sebagai informasi, agen mata-mata Amerika Serikat, dalam laporan rahasia yang disiapkan oleh CIA dan dirilis pada 26 Februari 2021 lalu, mentelah mengaitkan tanggungjawab atas operasi yang membunuh Khashoggi dengan MBS.

Pasca dirilisnya laporan itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menempatkan lebih dari 70 warga negara Arab Saudi dalam daftar larangan bepergian. Selain itu, Departemen Keuangan Amerika Serikat juga memberlakukan sanksi keuangan kepada pejabat yang terlibat langsung dalam pembunuhan Khashoggi. Namun MBS secara khusus tidak termasuk dalam sanksi tersebut.

Pada saat pembunuhan Khashoggi terjadi, Khalid bin Salman adalah duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat. Pada saat itu dia mengecam kebocoran berbahaya dan desas-desus suram seputar hilangnya Khashoggi pada tanggal 2 Oktober 2018.

Kecaman itu dibuat untuk membantah kabar bahwa dia hilang di konsulat Arab Saudi di Istanbul dan ditahan atau dibunuh di sana.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya