Berita

Wakil Menteri Pertahanan Jepang Yasuhide Nakayama/Net

Dunia

Jepang: Taiwan Adalah Garis Merah, Kita Harus Melindunginya

SELASA, 29 JUNI 2021 | 08:21 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Jepang menyoroti tekanan yang diberikan oleh China terhadap Taiwan yang terus meningkat. Untuk itu, Jepang mendesak negara-negara untuk bangun dan melindungi Taiwan.

Wakil Menteri Pertahanan Yasuhide Nakayama menggarisbawahi kebijakan "Satu China" yang diakui oleh banyak negara, termasuk Jepang. Ia mempertanyakan apakah kebijakan untuk mengakui Beijing daripada Taipei tersebut akan bertahan.

"Apakah itu benar? Saya tidak tahu," ujarnya ketika hadir dalam acara lembaga think tank, Hudson Institute, pada Senin (28/6).


Walau begitu, Nakayama mengatakan negara-negara demokratis harus melindungi satu sama lain dan mencatat bahwa Taiwan adalah "garis merah".

"Jadi kita harus melindungi Taiwan sebagai negara demokratis," kata Nakayama.

Nakayama menilai, dengan letak geografis Jepang dan Taiwan yang dekat, maka situasi keamanan Taiwan akan memengaruhi Jepang, khususnya Prefektur Okinawa yang menjadi rumah bagi pasukan AS.

Nakayama menyoroti meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh China di luar angkasa, teknologi rudal, domain siber, serta kekuatan nuklir dan konvensional. Ia mengatakan bahwa di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China memiliki pemikiran dan kemauan agresif.

Ia juga menekankan kolaborasi yang dilakukan oleh China dan Rusia yang dapat mengancam, khususnya ketika mereka meningkatkan latihan militer di wilayah yang disengketakan dengan Jepang.

"Anda dapat melihat China dan Rusia berkolaborasi bersama, ketika mereka melakukan beberapa latihan militer di sekitar tetangga kita," kata Nakayama.

Lebih lanjut, Nakayama mendorong AS untuk bisa lebih kuat. Sementara pemerintah Jepang harus menghapus batas 1 persen dari PDB yang dikeluarkan untuk pertahanan. Ia menyebut Jepang perlu menghabiskan lebih banyak uang untuk bertahan.

"Washington dan Tokyo harus meningkatkan kolaborasi teknologi dalam menghadapi kerja sama China dan Rusia yang lebih erat," pungkasnya.

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Penggorengan Saham yang Mau Diberantas Purbaya Dipertanyakan

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:53

Prabowo Izinkan Danantara Rekrut WNA untuk Pimpin BUMN

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:38

Purbaya Klaim Bisa Pantau Rekening Semua Pejabat Kemenkeu

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:34

Di WEF Davos, Prabowo Sebut RI Tak Pernah Sekalipun Gagal Bayar Utang

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:14

Polda Metro Turunkan Puluhan Ribu Personel Siaga Banjir

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:13

KPK Obok-Obok Rumah dan Kantor Bupati Sudewo

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:29

Kemlu RI Tegaskan Tak Ada Kewajiban Bayar Rp16,9 Triliun setelah Gabung Dewan Perdamaian

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:28

Prabowo Resmi Teken Piagam Dewan Perdamaian di Davos

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:07

Wisuda ke-II UNOSO Dihadiri Mahfud MD hingga Rocky Gerung

Kamis, 22 Januari 2026 | 21:55

KPK: Pengabaian Pengawasan Kredit Bisa Berujung Pidana

Kamis, 22 Januari 2026 | 21:36

Selengkapnya