Berita

Kepala bidang pengembangan profesi Perhimpunan Ahli Epidemologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane/Repro

Kesehatan

Pemerintah Kebobolan, Warning Epidemolog: Masyarakat Hentikan Sementara Aktivitas Di Luar Rumah

RABU, 16 JUNI 2021 | 22:36 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Lonjakan pasien yang terpapar Covid dalam 10 hari terakhir ini memiliki tingkat mutasi yang relatif lebih tinggi dari varian yang heboh di tahun 2020.

Begitu epidemiolog Masdalina Pane memberikan warning kepada masyarakat mengenai bahaya Covid-19 sekarang ini.

Sehingga, ia menyarankan agar masyarakat menghentikan sementara aktivitas yang tidak perlu di luar rumah.


"Virus covid yang berkembang saat ini merupakan varian Delta 1617.2 yang berasal dari India. Jenis ini memiliki mutasi atau penyebaran yang lebih cepat walaupun virulensi atau keganasannya relatif lebih rendah," jelas Masdalina dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/6).

Masdalina menegaskan, varian asal India tersebut yang mendorong hampir empat provinsi di pulau Jawa kini menjadi zona merah kembali, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa barat dan DKI Jakarta.

Sementara itu, untuk wilayah Bali tidak terjadi lonjakan. Tetapi berdasarkan temuan terakhir, terdapat orang yang meninggal akibat Covid varian B.1.351 asal Afrika Selatan.

"Bedanya, yang varian dari Afrika Selatan itu virulensi atau keganasannya tinggi, namun tidak menyebar cepat. Jadi sekali orang terkena varian Afrika dalam waktu 3 hari bisa langsung meninggal," tegasnya.

Kini, lanjut Masdalina, banyak daerah di pulau Jawa yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19. Misalnya Kudus, Bandung, dan Jakarta.

Meskipun tidak semua daerah dalam satu provinsi yang menunjukkan gejala, lanjut Masdalina, namun data Satgas Covid menunjukkan bahwa secara agregat menunjukkan DKI Jakarta mengalami kenaikan hingga mencapai 400 persen, Depok 305 persen, Bekasi 500 persen, Jateng 898 persen dan Jabar 104 persen.

Kepala bidang pengembangan profesi Perhimpunan Ahli Epidemologi Indonesia (PAEI) ini menuturkan, lonjakan Covid bukan merupakan dampak dari mudik lebaran.

Namun, lonjakan justru terjadi karena kegagalan dalam hal mencegah atu menangkal penyebaran Covid-19 yang berakibat masuknya varian India dan Afrika ke Indonesia.

"Lonjakan ini harus disebut kebobolan karena banyak orang masuk ke Indonesia dari luar negeri dengan ketentuan karantina hanya lima hari," paparnya.

"Padahal, seharusnya 14 hari berdasarkan ketentuan masa optimum inkubasi dan ini menjadi standar organisasi kesehatan dunia (WHO)," sambung Masdalina.

Karena itu, Masdalina menyebut lonjakan Covid-19 kali ini sebagai transmisi penularan lokal. Artinya, orang yang terpapar sebagian besar tidak melakukan perjalanan luar negeri, namun terdampak varian baru.

"Ini menandakan sudah ada penularan lokal, jadi new emerging desease di Indonesia," tegas Masda yang merupakan ASN di Kementerian Kesehatan ini.

Lebih lanjut, Masda mengajak masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 3M. Terutama, menghindari kerumunan, baik dalam aktivitas sosial masyarakat biasa maupun kegiatan olahraga dalam waktu dekat ini.

"Maka, dalam situasi ini sebaiknya tidak boleh ada mobilitas lanjutan, terlebih di bulan depan umat Islam akan merayakan lebaran Idul Adha. Sebaiknya dilakukan pengetatan kembali untuk mencegah lonjakan lebih besar," terangnya menambahkan.

"Dibutuhkan waktu kurang lebih satu bulan lamanya jika melihat masa inkubasi, sampai lonjakan ini dapat ditekan. Oleh karena itu, tugas pemerintah adalah memastikan penerapan Keputusan Menkes No. 4641 tentang testing, tracing, isolasi, dan karantina secara lebih ketat lagi," tutupnya.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya