Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

China-AS: Dingin Di Politik Tetapi Bergelora Di Ekonomi, Perdagangan Tumbuh 52,3 Persen

SELASA, 08 JUNI 2021 | 06:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dinginnya hubungan politik antara China dan Amerika Serikat ternyata tidak banyak berpengaruh pada hubungan perdagangan bilateral mereka. Terbukti, pertumbuhan perdagangan kedua rival itu mencapai 52,3 persen di lima bulan pertama 2021, menjadi yang tercepat di antara semua mitra dagang utama China.

Bea cukai China melaporkan pada Senin (7/6), bahwa perdagangan China-AS melonjak 52,3 persen dalam dolar dari Januari hingga Mei menjadi 279,64 miliar dolar AS. Tingkat pertumbuhan tersebut merupakan yang tercepat di antara mitra dagang utama China, dibandingkan dengan pertumbuhan perdagangan dengan UE (38,7 persen) dan dengan ASEAN (39,1 persen).

Ekspor China ke AS juga tercatat meningkat 49,8 persen dan impor melonjak 59,8 persen, meskipun tingkat pertumbuhan lebih lambat dibandingkan dengan Januari-April.


Angka-angka itu menunjukkan bahwa tidak peduli bagaimana Washington mencoba memprovokasi konflik ideologis atau geopolitik dengan China, itu tidak dapat menghentikan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan.

Para ahli berpendapat, dengan melihat latar belakang persaingan politik domestik AS, situasi 'dinginnya politik tetapi hangatnya ekonomi' dengan China akan berlanjut.

Mereka juga menambahkan bahwa AS dapat mengintensifkan serangan kejamnya terhadap China, tetapi perdagangan dan pertukaran ekonomi antara kedua kekuatan ekonomi tersebut akan tetap dilanjutkan.

Angka perdagangan terbaru dirilis setelah tiga senator AS mengunjungi pulau Taiwan pada hari Minggu (6/6) dan pemerintahan Biden memperluas daftar sanksi era Trump untuk mencakup 59 perusahaan China di mana orang Amerika dilarang berinvestasi.

Tetapi pada saat yang sama, pejabat ekonomi China dan AS berbicara dua kali dalam seminggu, menandai dimulainya kembali komunikasi ekonomi yang normal dan juga menunjukkan bahwa upaya sedang dilakukan untuk memecahkan masalah secara pragmatis. Tapi taktik keras Washington tetap menjadi sumber utama ketidakpastian dalam hubungan bilateral.

Gao Lingyun, seorang ahli di Akademi Ilmu Sosial China di Beijing, mengatakan statistik perdagangan baru mencerminkan bahwa perdagangan China-AS saling menguntungkan karena mempertahankan pertumbuhan di tengah pandemi virus corona.

"Pertumbuhan yang lebih lambat, dibandingkan dengan empat bulan pertama, juga mencerminkan bahwa ekonomi AS dan situasi virus coronanya membaik," kata Gao, menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi kedua negara memainkan peran penting dalam mendorong dimulainya kembali ekonomi global.

Sementara Menurut Tian Yun, mantan wakil direktur Asosiasi Operasi Ekonomi Beijing, volume perdagangan antara China dan AS dalam lima bulan pertama cukup mencengangkan.

"Berdasarkan pertumbuhan, perdagangan bilateral dapat mencapai 4 triliun yuan, atau $600 miliar sepanjang tahun. Artinya, nilai perdagangan China-AS pada tahun 2021 sangat mungkin melampaui rekor tertinggi tahun 2018 dan mencapai 640-650 miliar dolar AS," kata Tian kepada Global Times, Senin (7/6).

Surplus perdagangan China dengan AS mencapai 132,46 miliar dolar AS dalam lima bulan pertama, dibandingkan dengan 100,68 miliar dolar AS pada periode Januari-April.

"Situasi 'dinginnya politik tetapi hangat di ekonomi' di bawah pemerintahan Biden tidak mungkin berubah dalam jangka pendek," menurut Tian.

"Di satu sisi, pemerintahan Biden ingin menunjukkan keuntungan dan kepentingannya dengan menjaga tatanan internasional yang didominasi AS. Juga, perlu mengatasi tekanan dan persaingan dari Partai Republik," katanya.

"Di sisi lain, orang Amerika jelas bahwa mereka mengandalkan kerja sama dengan China secara ekonomi, tidak peduli perdagangan atau keuangan," demikian Tian.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya