Berita

Sebuah bom yang diasang tentara Kepang di jjembatan Kereta Api Manchuria Selatan meledak, menewaskan Panglima Zhang Zuolin pada 4 Juni 1928/Net

Histoire

Insiden Huanggutun 1928: Tewasnya Panglima Tiongkok Zhang Zuolin Oleh Sekutunya Sendiri

JUMAT, 04 JUNI 2021 | 11:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Konflik China dan Jepang telah terjadi sejak lama. Konflik itu pula yang membawa Panglima Perang Tiongkok Zhang Zuolin tewas terbunuh dalam kereta yang diledakkan agen Jepang, yang kemudian dikenal sebagai Insiden Huanggutun, 4 Juni 1928.
 
Zhang Zuolin dijuluki sebagai Komandan Besar, Komandan Hujan, dan yang lebih populer adalah Harimau Mukden. Dia adalah panglima perang untuk wilayah Manchuria dan pernah menguasai daerah yang luas di bagian utara Tiongkok.

Ia lahir dari keluarga sederhana. Dalam karier militernya, di bawah pemerintahan Republik Tiongkok, dia menduduki beberapa jabatan penting. Dia juga pernah membantu Jepang dalam perang Rusia-Jepang (1904-1905) sebagai pemimpin dari milisi Manchuria.


Setelah Revolusi Xinhai 1911, Tiongkok terpecah menjadi kelompok-kelompok militer, yang mengantarkannya pada periode yang sekarang dikenal sebagai Era Panglima Perang. Di dalam struktur masyarakat inilah Zhang berubah dari anak desa miskin yang nakal dan sering disebut 'jerawat' menjadi penguasa tertinggi Manchuria setelah ia tergabung dengan sebuah geng.

Manchuria adalah sebuah wilayah kuno di sebelah timur laut Tiongkok dekat perbatasan dengan Korea Utara dan Rusia. Manchuria sekarang ini meliputi provinsi-provinsi Republik Rakyat Tiongkok seperti Liaoning, Jilin dan Heilongjiang.

Sejak diangkat sebagai inspektur jendral Manchuria, dia memegang kendali efektif atas wilayah itu. Namun, dia tidak pernah berpuas diri. Dia tak henti-hentinya melancarkan peperangan untuk memperluas wilayah kekuasaannya ke daerah selatan.

Zhang kemudian dianggap sebagai kekuatan oleh Kekaisaran Jepang, yang sangat memperhatikan sumber daya alam yang sebagian besar belum dimanfaatkan di kawasan itu. Jepang yang ingin menduduki Manchuria  membuat kesepkatan dengan Zhang.

Zhang setuju untuk memberikan keamanan bagi kepentingan ekonomi Jepang yang luas, menekan masalah bandit endemik Manchuria, sementara Tentara Kekaisaran Jepang membantunya dalam melawan pemberontakan oleh faksi-faksi saingan.

Ambisi besar telah memperbudak Zhang. Selain semakin memperluas wilayah, yang tentu saja didukung oleh Jepang. Zhang juga mulai menebar arogansinya. Ambisi dan arogan itulah yang belakangan menjadi beban bagi  Manchuria.

Zhang kemudian terlibat dalam pertikaian tiga pihak dengan panglima perang lainnya Wu Peifu dan Feng Yuxiang untuk memperebutkan kontrol atas Beijing.

Meskipun ia kemudian berhasil merebut Beijing pada Juni 1926, dan memproklamirkan dirinya sebagai Marsekal Agung Republik Tiongkok, namun, wilayah-wilayah yang dikuasainya mengalami kejatuhan ekonomi pada musim dingin 1927-1928, seperti dikisahkan oleh Daily Telegraph.

Perut yang lapar dan rakyat yang marah, meninbulkan kerusuhan sipil di Manchuria -yang dipimpin oleh Zhang dan diduduki Jepang- pada akhir Januari 1928.

Penduduk yang kelaparan di kota-kota Manchuria selatan kemudian merencanakan pemberontakan pada Februari 1928, setelah harga pangan berlipat ganda dalam keruntuhan mata uang yang direkayasa oleh Zhang. Kaum Nasionalis, yang dipimpin oleh Chiang Kai-shek dan didukung oleh Uni Soviet --saingan strategis Jepang-- menyerang pasukannya pada Mei 1928.

Di sinilah kemudian muncul akhir yang dramatis. Bukan petani China yang marah yang membunuh Zhang, tetapi  justru sekutu Zhang sendiri, yaitu agen Jepang di Tentara Kwantung.

Militer Jepang melalui serangkaian diskusi, akhirnya memandang bahwa sudah waktunya untuk menggantikan Zhang, dan meminta Zhang pulang ke Manchuria. Tanpa berkonsultasi dengan atasan militer, seorang perwira junior di Tentara Kwantung Jepang, Daisaku Komoto, mengambil inisiatif untuk mendorong pendudukan militer Jepang secara penuh dan membunuh Zhang.

Dia memerintahkan agar sebuah bom ditanam di jembatan Kereta Api Manchuria Selatan, di jalur 1249 km yang menghubungkan Beijing dengan Harbin, di mana kereta Zhang akan melintas di situ. Bom itu ditempatkan di sebelah timur stasiun Huanggutun di Shenyang, yang kemudian dikenal sebagai Mukden atau Fengtian.

Saat kereta pribadi Zhang mencapai Huanggutun pada 4 Juni 1928, pukul 05.23 pagi hari, bom yang telah disiapkan itu pun meledak. Beberapa pejabat tewas, termasuk gubernur provinsi Wu Junsheng.

Zhang terluka dan dikirim ke rumahnya di Shenyang, di mana dia meninggal beberapa jam kemudian.

Jepang berusaha merahasiakan insiden itudan berita kematiannya dikirim dari Manchuria beberapa hari kemudian.

Meski Zhang telah tewas, kematiannya gagal memberikan efek yang diinginkan. Putra Zhang,  Zhang Xueliang, diam-diam menjalankan kebijakan rekonsiliasi dengan Chiang Kai-shek, yang menjadikannya sebagai penguasa Manchuria yang diakui, alih-alih penerus pilihan Jepang, Jenderal Yang Yuting.

Ini melemahkan posisi politik Jepang di China Timur Laut. Mereka terpaksa menunggu beberapa tahun sebelum membuat episode lain untuk membenarkan Invasi Manchuria, yaitu Insiden Mukden September 1931.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya