Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Wakili Puluhan Ribu Orang Tua, Yayasan Belanda Gugat TikTok Bayar Rp 24,3 Triliun Karena Langgar Keamanan Dan Privasi Anak

KAMIS, 03 JUNI 2021 | 09:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebuah yayasan riset pasar yang berbasis di Amsterdam Market Information Research Foundation (SOMI) menggugat platform media sosial video pendek populer TikTok karena dianggap telah melakukan kelalaian dalam memastikan keamanan dan privasi anak-anak.

Dalam sebuah pernyataan, SOMI mengatakan telah mengajukan klaim ganti rugi senilai 1,4 miliar euro (24,3  triliun rupiah) atas nama 64.000 orang tua.

“Secara total, klaim massal dapat berjumlah lebih dari 1,4 miliar euro, berdasarkan lebih dari 1 juta pengguna di bawah umur Belanda,” kata SOMI kepada media lokal, seperti dikutip dari NL Times, Kamis (3/6).


Sejauh ini lebih dari 64 ribu orang tua di Uni Eropa bergabung dalam kasus ini, kata yayasan tersebut.

Menurut SOMI, TikTok telah melanggar beberapa undang-undang Eropa, termasuk undang-undang privasi dan undang-undang yang melarang penargetan iklan pada anak-anak.  Aplikasi juga tidak meminta izin dengan benar untuk penggunaan data, dan tidak mengatakan data mana yang dikumpulkan untuk tujuan apa.

“Dan perusahaan China di belakang aplikasi mengumpulkan dan menyimpan lebih banyak data daripada yang diperlukan, dan tidak memenuhi persyaratan hukum untuk menjaga keamanan data itu,” kata yayasan itu.

SOMI juga percaya bahwa TikTok tidak mematuhi aturan media Eropa yang dimaksudkan untuk "melindungi anak-anak dari konten berbahaya", sebagian mengacu pada tantangan online di mana anak-anak saling menantang untuk melakukan hal-hal berbahaya.

Yayasan tersebut juga percaya bahwa video yang lebih umum di TikTok dapat berbahaya bagi anak kecil, misalnya karena iklan tersembunyi untuk produk dan konten berbahaya yang mempromosikan cita-cita kecantikan yang tidak realistis, yang dapat menyebabkan masalah seperti melukai diri sendiri dan gangguan makan.

“Keputusan pengadilan dapat secara langsung membatasi praktik TikTok - dan platform media sosial lainnya," kata salah satu pendiri SOMI Cor Wijtvliet.

“Kami telah mengirim surat pengaduan ke TikTok dan beberapa otoritas pengawas Eropa pada tahun lalu, tetapi belum melihat hasil yang substantif. Itulah sebabnya kami memutuskan untuk tidak menunggu penyelidikan oleh pihak berwenang dan mengambil tindakan hukum sendiri,” ujarnya.

Menanggapi aduan tersebut, seorang juru bicara TikTok mengatakan bahwa privasi dan keamanan penggunanya memiliki ‘prioritas tertinggi’.

“Kami mengambil langkah-langkah terdepan di industri untuk mempromosikan keamanan remaja di TikTok, seperti menyetel akun ke Pribadi secara default untuk pengguna di bawah usia 16 tahun, dan memungkinkan orang tua untuk menautkan akun mereka ke anak remaja mereka melalui Family Pairing. Kami terus mengevaluasi dan meningkatkan kebijakan, proses, dan sistem kami, dan terus berkonsultasi dengan pakar eksternal,” ujarnya.

Secara resmi, TikTok hanya dapat digunakan oleh anak-anak berusia 13 tahun ke atas, dan anak di bawah umur memerlukan izin orang tua mereka. Namun, dalam praktiknya batasan usia ini tidak ditegakkan dengan baik.

Awal tahun ini, pengadilan di Italia memerintahkan TikTok untuk memblokir pengguna yang tidak mengonfirmasi usia mereka, setelah seorang gadis berusia 10 tahun meninggal dalam tantangan berbahaya di platform media sosial.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

OIKN Siapkan Rangkaian Prosesi Penghormatan dan Pemakaman Troy Pantouw

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25

Tugu Koperasi Tasikmalaya Direvitalisasi Jadi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:18

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Gelombang Tinggi di Beberapa Perairan Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:11

Lesley Simpson Racik Drama Psikologis Bunga di Tepi Jurang

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05

Indonesia Harus Terdepan Gerakkan Dunia Internasional Selamatkan Gaza

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00

SMRC Catat Kepuasan Publik terhadap Prabowo Turun 30 Persen

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:58

Mantri BRI Jangkau Masyarakat Pegunungan Toraja Utara Hadirkan Layanan Perbankan

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:28

Sudaryono Jangan Sesatkan Publik soal Mitos Telur Penyebab Bisul

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:19

KPK Usut Dugaan Suap ke Pejabat Pemkot Bengkulu

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:12

Kemenkes Perluas Skrining HIV, Putus Rantai Penularan di Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 12:42

Selengkapnya