Berita

Pasien Covid-19/Reuters

Dunia

Pasca Kudeta Militer, Sistem Kesehatan Myanmar Babak Belur

MINGGU, 30 MEI 2021 | 09:23 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kudeta militer pada 1 Februari lalu telah meruntuhkan sistem kesehatan di Myanmar. Bahkan pasien Covid-19 tidak bisa mendapatkan bantuan oksigen yang sangat penting bagi mereka.

Kepala perawat di Rumah Sakit Cikha, Lu Za En mengungkap, ia hanya memiliki seorang teknisi lab dan asisten apoteker untuk membantunya merawat tujuh pasien Covid-19 siang dan malam.

"Kami tidak memiliki cukup oksigen, peralatan medis yang cukup, listrik yang cukup, dokter atau ambulans yang cukup. Kami beroperasi dengan tiga staf, bukan 11," ujar Lun Za En, seperti dikutip Reuters.


Seiring dengan krisis politik, penanganan Covid-19 di Myanmar ikut babak belur. Meski pemerintah telah berupaya meningkatkan pengujian, karantina, dan perawatan.

Layanan di rumah sakit juga runtuh ketika banyak dokter dan tenaga kesehatan lainnya bergabung dalam aksi Gerakan Pembangkangan Sipil, menolak kudeta militer.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, 13 petugas kesehatan di Myanmar terbunuh, sementara 150 lainnya ditangkap dan ratusan lainnya masih dicari sejak kudeta berlangsung.

Seorang pekerja di salah satu pusat karantina Covid-19 di Yangon mengatakan semua petugas kesehatan spesialis di sana telah bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil.

"Kemudian lagi, kami tidak menerima pasien baru lagi karena pusat tes Covid tidak memiliki staf untuk diuji," ujarnya.

Sepekan sebelum kudeta, Myanmar melakukan lebih dari 17 ribu tes Covid-19 sehari. Namun turun menjadi kurang dari 1.200 pada Rabu (25/5).

Sejauh ini, Myanmar sudah melaporkan lebih dari 140 ribu kasus Covid-19, dengan lebih dari 3.200 kematian.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya