Berita

Direktur Eksekutif Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia, Bambang Istianto/Net

Politik

Konflik Internal PDIP Bukan Rekayasa, Bambang Istianto: Oligarki Sulit Diterima Generasi Milenial Di Dalam

KAMIS, 27 MEI 2021 | 20:54 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Publik kembali dipertontonkan kisruh internal partai politik yang kali ini terjadi di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Kesan cekcok antara dua kader partai, yaitu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan Ketua DPR Pua Maharani, dinilai Direktur Eksekutif Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia, Bambang Istianto, bukan suatu rekayasa.

"Kami menilai bahwa konflik di tubuh PDIP yang belakangan ini kian hangat diperbincangkan di ruang publik bukan sebatas rekayasa untuk menaikan rating partai," ujar Bambang kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (27/5).


Hal itu, lanjut Bambang, makin nyata ketika muncul pernyataan yang membandingkan nasib Ganjar akan sama dengan mantan wakil gubernur Jateng Rustriningsih. Padahal menurutnya, membadingkan apel to apel tidaklah tepat.


Dalam menghadapi kisruh yang bermula dari elektabilitas Ganjar yang lebih moncer ketimbang Puan, di sejumalh lembaga survei, seharusnya tidak menjadikan organisasi politik seperti PDIP tidak terbuka dan tidak demokratis.

"Sementara, petinggi partai itu menyatakan bahwa kader PDIP harus tegak lurus kepada satu komando, yaitu ibu ketum," imbuhnya.

Pernyataan harus tegak lurus kepada satu komando ketum partai, menurut Bambang, tidak sejalan dengan semangat anak-anak muda yang ada di dalam tubuh PDIP itu sendiri.

"Ssepertinya sulit diterima oleh kelompok generasi milenial anti oligarki yang ada di internal partai tersebut. Karena organisasi partai berbeda dengan institusi militer," tuturnya.

Dalam posisi ini, figur Ganjar dinilai Bambang lebih bisa mewakili semua kelompok yang ada di internal partai baik kalangan milenial maupun tokoh senior yang menghendaki perubahan di PDI Perjuangan.

"Yang pada gilirannya hasil surveinya (memang) selalu dipuncak ketimbang Puan Maharani. Adapun adanya pendapat bahwa hasil survei itu tidak menjadi jaminan, itu tidak perlu diperdebatkan. Karena metode survei di berbagai negara kerap dijadikan acuan bagi partai dalam mengusung calon kandidat capres," ungkapnya.

"Jadi hasil survei tidak juga kita nafikkan. Terkait elektabiitas Puan Maharani, bila ingin tinggi di survei, tentunya perlu kerja keras yang ekstra," demikian Bambang Istianto.

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Penggorengan Saham yang Mau Diberantas Purbaya Dipertanyakan

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:53

Prabowo Izinkan Danantara Rekrut WNA untuk Pimpin BUMN

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:38

Purbaya Klaim Bisa Pantau Rekening Semua Pejabat Kemenkeu

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:34

Di WEF Davos, Prabowo Sebut RI Tak Pernah Sekalipun Gagal Bayar Utang

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:14

Polda Metro Turunkan Puluhan Ribu Personel Siaga Banjir

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:13

KPK Obok-Obok Rumah dan Kantor Bupati Sudewo

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:29

Kemlu RI Tegaskan Tak Ada Kewajiban Bayar Rp16,9 Triliun setelah Gabung Dewan Perdamaian

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:28

Prabowo Resmi Teken Piagam Dewan Perdamaian di Davos

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:07

Wisuda ke-II UNOSO Dihadiri Mahfud MD hingga Rocky Gerung

Kamis, 22 Januari 2026 | 21:55

KPK: Pengabaian Pengawasan Kredit Bisa Berujung Pidana

Kamis, 22 Januari 2026 | 21:36

Selengkapnya