Berita

Ilustrasi/Net

Histoire

Perjanjian Munster, Berakhirnya Perang Delapan Puluh Tahun Penjajahan Spanyol Atas Belanda

SENIN, 24 MEI 2021 | 06:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tujuh belas Provinsi di Belanda melakukan pemberontakan terhadap Spanyol. Mereka merasa sangat tidak puas dengan kebijakan Raja Spanyol Phillip II. Pemberontakan itu kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Belanda yang berlangsung selama 1566 – 1648 atau dikenal sebagai 'Perang Delapan Puluh Tahun'.

Dalam sejarah, Spanyol dan Portugis dikenal sebagai penguasa dunia. Dengan kekuatan armada lautnya, keduanya berlomba-lomba mendapatkan daerah jarahan. Termasuk di Belanda.

Di masa kekuasaan Phillip II, otoritas Spanyol memerintah di Belanda dengan kesewenangan sehingga menimbulkan pemberontakkan. Sebagaimana halnya penyebab perang, gesekan yang terjadi pada pemerintahan Phillip II ini juga dipicu oleh kebencian terhadap otoritas, kecemburuan, dan agama. Yang terakhirnya ini lebih mendominasi.


Di bawah kendali Spanyol, ada kebijakan yang ketat untuk keseragaman agama bagi gereja Katolik. Para penganut Protestan di Belanda sudah sangat tertindas di masa lalu dan di tahun-tahun sebelum Pemberontakan Belanda, seperti yang tertuang dalam The Political Thought of the Dutch Revolt 1555–1590 karya  Gelderen, M. van, 2002. 
Pada saat itu, Tujuh Belas Provinsi yang dikenal di kekaisaran sebagai 'De landen van herwaarts' atau dalam bahasa Prancis sebagai 'Les pays de par deça', atau 'Tanah di sekitar sana' mendapat kritikan keras dan perlakukan tidak menyenangkan karena dianggap bertindak tanpa izin dari takhta. Sementara bagi tujuh belas provinsi itu, adalah tidak praktis bagi mereka untuk meminta ijin atas tindakan di wilayah mereka sendiri, terutama setiap mengajuan akan memakan waktu setidaknya empat minggu untuk mendapatkan persetujuan dari takhta.

Kehadiran pasukan Spanyol di bawah komando Duke of Alba, yang dibawa untuk mengawasi ketertiban semakin memperkuat keresahan ini, yang kemudian melahirkan pemberontakan.

Awalnya, Spanyol berhasil meredam pemberontakan ini, tetapi pada tahun 1572, pihak pemberontak berhasil menguasai Brielle, dan pemberontakan kembali merebak.

Perang meletus dan berlanjut selama bertahun-tahun. Pada 1576, tujuh belas provinsi itu bersatu dalam Perdamaian Gent, yang dibentuk untuk mempertahankan kedamaian.

Pada 1579, perjanjian Utrecht ditandatangani dengan kesepakatan bagian utara dari 17 provinsi untuk saling mendukung untuk melawan Spanyol. Perjanjian ini dikenal sebagai awal terbentuknya Republik Belanda.

Pada 1581, Belanda mendeklarasikan kemerdekaan resminya dari Spanyol. Namun, itu bukan berarti perang selesai.

Meskipun Belanda mengakui kemerdekaannya dari Spanyol, butuh bertahun-tahun kemudian untuk Spanyol bisa menerima fakta itu.

Belanda Selatan (kini Belgia, Luxembourg, dan Prancis Utara) awalnya tetap berada di bawah kekuasaan Spanyol. Penindasan terus-menerus oleh Spanyol di wilayah selatan akhirnya mengakibatkan larinya kaum elit keuangan, intelektual, dan budayawan ke wilayah utara, yang turut menyumbangkan suksesnya Republik Belanda. Pada 1648, sejumlah besar wilayah selatan jatuh ke tangan Prancis.

Sementara, provinsi-provinsi utara kemudian bergabung  secara de facto pada 1648 dan menandatangani Perjanjian Perdamaian Münster. Mereka menyatakan diri menjadi Republik Belanda.

Perdamaian Munster ini adalah perjanjian yang sangat penting dan merupakan pengakuan resmi Republik Belanda. Perjanjian ini mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun dan Perang Delapan Puluh Tahun yang dianggap sebagai awal Masa Kejayaan Belanda.

Spanyol kemudian harus menyerah, dan mengakui kemerdekaan Belanda.

Pernyataan kemerdekaan Belanda akhirnya secara cepat berkembang menjadi kekuatan dunia melalui kapal-kapal dagangnya serta mengalami periode pertumbuhan ekonomi, ilmu, serta budaya.

Selama Masa Kejayaan Belanda, kekaisaran Belanda menjadi kekuatan ekonomi pertama di Eropa bersamaan dengan Portugal, Spanyol, Prancis, dan Inggris.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya