Berita

Michael Bloomberg/Net

Dunia

Terseret Skandal Blokir Vaksin Di Filipina, Michael Bloomberg Gunakan Kekayaan Untuk Atur Pemerintah

MINGGU, 23 MEI 2021 | 18:50 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Nama pengusaha Michael Bloomberg ikut terseret dalam skandal pemblokiran vaksin Covid-19 di Filipina yang menargetkan sektor swasta, seperti industri tembakau.

Pemerintah Filipina telah dikecam karena menolak akses vaksin Covid-19 untuk karyawan dari perusahaan tembakau, susu, gula, minuman ringan, hingga alkohol.

Sejumlah anggota parlemen menyebut pemblokiran tersebut jahat, diskriminatif, dan tidak dapat diterima secara moral


Anggota parlemen Filipina menyebut larangan itu semuanya dari "jahat" hingga "diskriminatif" hingga "secara moral tidak dapat diterima" dan akhirnya membatalkannya.

Usut punya usut, pemblokiran dilakukan pemerintah berdasarkan kesepakatan antara Manila dan Bloomberg 10 tahun lalu, yang saat ini diadopsi oleh Komisi Layanan Sipil dan Departemen Kesehatan Filipina.

Ketika itu, pemerintah Filipina setuju untuk menerima "The Manila Standard" demi mendapatkan hibah besar-besaran dari Bloomberg Initiative demi Program Pengendalian Tembakau Nasional.

Persyaratan untuk mendapatkan hibah itu, pemerintah dilarang untuk berinteraksi dengan sejumlah industri, termasuk tembakau.

Kabar tersebut lantas membuat banyak pejabat Filipina geram. Beberapa di antaranya bahkan mendesak pemerintah mengembalikan uang hibah yang diberikan Bloomberg.

Dimuat Inside Source, "diplomasi dolar" yang dilakukan oleh Bloomberg juga sudah banyak meresahkan di Amerika Serikat, dan bahkan praktik tersebut diduga melanggar konstitusi.

Misalnya sejak 2017, Bloomberg telah menyalurkan uang ke kantor jaksa agung di sembilan negara bagian dan District of Columbia untuk menjamin tuntutan hukum pemerintah terhadap perusahaan minyak. Sebagian besar dana tersebut berasal dari Pusat Dampak Lingkungan dan Energi sekolah hukum Universitas New York.

Mereka menggunakan hibah Bloomberg Philanthropies senilai 6 juta dolar AS untuk mendanai perekrutan "asisten khusus jaksa agung" untuk membantu negara bagian menuntut perusahaan minyak atas tuduhan kesalahan mereka atas perubahan iklim.

Di antara tindakan yang paling terlihat adalah gugatan negara bagian New York tahun 2018 yang menuduh bahwa ExxonMobil telah menyesatkan investor tentang dampak finansial dari perubahan iklim. Di antara mereka yang memimpin dakwaan itu adalah Asisten Jaksa Agung Matthew Eisenson yang merupakan jebolan dari program hibah Bloomberg.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya