Berita

Senior Lecture at the International Islamic Academy of Uzbekistan Dr. Avazbek Ganiyev dalam Online Open Lecture On Islamic Civilization In Uzbekistan/RMOL

Dunia

Mengenal Lebih Dekat Al-Biruni, Cendekiawan Muslim Nan Jenius Dari Uzbekistan

JUMAT, 07 MEI 2021 | 09:42 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Islam lekat dengan perdaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Salah satu sosok cendekiawan Islam yang namanya harum dikenang sejarah adalah Abu Rahyan Mohammed ibn Ahmad al-Biruni, atau juga dikenang sebagai Al-Biruni.

Bukan hanya pada lembaran sejarah, nama dan warisan ilmiahnya abadi hingga saat ini. Dia merupakan tokoh jenius yang mengangkat matematika ke tingkat di mana dia merangkul dan melengkapi hukum alam.

Dalam Free Online Open Lecture On Islamic Civilization In Uzbekistan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Uzbekistan di Indonesia dan International Islamic Academy Of Uzbekistan pada Kamis (6/5), Senior Lecture at the International Islamic Academy of Uzbekistan Dr. Avazbek Ganiyev menuturkan bahwa sepanjang hidupnya, Al Biruni dari Khwarazm, Uzbekistan (973 hingga 1048) mendedikasikan diri untuk kemajuan ilmu pengetahuan.


Untuk orang yang hidup di masa tersebut, Al Biruni adalah seseorang yang memiliki pemikiran melampaui zamannya.

Dia berkontribusi nyata dalam banyak aspek sains, seperti terigonometri, astronomi, geografi, sejarah, geologi serta geosedi.

"Dia tidak pernah mengeksploitasi karyanya sebagai sarana untuk mencapai ketenaran, otoritas, atau keuntungan materi," ujar Ganiyev.

"Ketika Sultan Masood mengirimikan kepadanya tiga unta yang membawa koin-koin perak sebagai penghargaan atas karya ensiklopedisnya "Al-Qanooon al-Masoodi" (Kanon Mas'ud), Al-Biruni dengan sopan mengembalikan hadiah kerajaan itu sambil berkata, 'Saya mengabdi demi ilmu dan bukan demi uang'," sambungnya.

Begitu harumnya nama Al-Biruni serta kontribusinya dalam ilmu pengetahuan, sampai-sampai banyak akademisi di zaman selanjutnya yang mengapresiasi dan memberikan penghormatan tertinggi padanya.

Salah satu apresiasi datang dari sejarawan Jerman, Max Meyerhoff. Dia pernah menyebut bahwa Al-Biruni mungkin adalah tokoh paling terkemuka dalam kelompok cendekiawan Muslim yang dikagumi secara universal.

"Dia juga merupakan tokoh yang kontribusinya di berbagai bidang membuatnya mendapatkan gelar "al-Ustadh" sang guru atau professor par excellence," terang Ganiyev.

Bukan hanya itu, lanjutnya, pada tahun 1975, akademisi Tajik yang terkenal, Bobojon Gafurov, mendeskripsikan Biruni dalam artikel Unesco Courier sebagai seorang jenius universal yang jauh lebih maju dari masanya sehingga penemuannya yang paling cemerlang tampaknya tidak dapat dipahami oleh sebagian besar sarjana pada masanya.

Sedangkan George Sarton , pendiri disiplin ilmu Sejarah, menamakan abad ke-11 sebagai Zaman Al Biruni.

Lantas apa saja kontribusi Al-Biruni dalam ilmu pengetahuan?

Lebih dari seribu tahun yang lalu, Al Biruni menghitung radius bumi. Dia pertama kali mengukur ketinggian sebuah bukit di dekat Benteng Nandana di provinsi Punjab Pakistan saat ini. Dia kemudian mendaki bukit untuk mengukur cakrawala. Dengan menggunakan persamaan trigonometri dan aljabar, dia mendapatkan nilai yang setara dengan 3928.77 mil Inggris, yaitu sekitar 99 persen dekat dengan jari-jari bumi saat ini.

Berdasarkan perhitungannya, Al-Biruni juga mulai memikirkan kemungkinan bumi berputar mengelilingi matahari, sebuah gagasan yang akan diabaikan oleh polimatik waktu itu.

Tapi Al-Biruni begitu yakin dengan logika dan nalurinya, sehingga dia banyak menulis tentang matahari, pergerakannya, dan gerhana.

Bukan hanya itu, Al-Biruni juga menemukan instrumen astronomi, dan menggambarkan bagaimana bumi berputar pada sumbu, membuat perhitungan garis lintang dan bujur yang akurat.

Dia mencatat teori dan pengamatannya dalam bukunya, "Al-Athar Al-Baqiya." Ia juga menulis risalah tentang bagaimana ketepatan waktu terjadi pada 1000 M, periode yang juga dikenal sebagai Era Kristen.

Al-Biruni juga menemukan beberapa cara untuk menemukan utara dan selatan, dan menemukan teknik matematika untuk menentukan dengan tepat permulaan musim.

Mengutip TRT World, Al-Biruni mengamati gerhana matahari 8 April 1019, dan gerhana bulan 17 September 1019. Yang pertama dilihatnya di Lamghan, sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan antara kota Qandahar dan Kabul.

Dia menulis, “Saat matahari terbit kami melihat bahwa sekitar sepertiga dari matahari gerhana dan gerhana itu memudar”.

Dia mengamati gerhana bulan di Ghazna dan memberikan detail yang tepat tentang ketinggian yang tepat dari berbagai bintang terkenal pada saat kontak pertama. Dia juga menggambarkan Bima Sakti sebagai kumpulan pecahan bintang samar yang tak terhitung jumlahnya.

Sementara itu dalam bukunya, "Al-Tafhim-li-Awail Sina'at al-Tanjim", dia merangkum karyanya tentang Matematika dan Astronomi. Karya tersebut diterjemahkan oleh Ramsay Wright pada tahun 1934.

Kontribusi Biruni pada fisika mencakup pekerjaan pada mata air dan penentuan yang akurat dari berat spesifik delapan belas unsur dan senyawa termasuk banyak logam dan batu mulia. Bukunya "Kitab-al-Jamahir" membahas properti dari berbagai batu mulia. Dia adalah pelopor dalam studi tentang sudut dan trigonometri. Dia mengerjakan bayangan dan tali lingkaran, dan juga mengembangkan metode untuk memotong sudut. Dia menguraikan prinsip posisi dan juga membahas angka India.

Sedangkan di bidang geologi dan geografi, Al-Biruni berkontribusi pada letusan geologi dan metalurgi. Dia menjelaskan cara kerja mata air alami dan sumur artesis dengan prinsip hidrostatik kapal komunikasi. Berdasarkan karya ilmiahnya, dia disebut sebagai pendiri geodesi. Bukunya "Al-Athar Al-Baqiyah fi Qanun al-Khaliyah", dia membahas sejarah kuno dan geografi, dan diterjemahkan oleh Edward Sachau.

"Warisan ilmiah Al-Biruni telah menginspirasi para ilmuwan dan ahli matematika selama beberapa abad dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Namanya tetap dikenang dan dihormati bahkan hingga hari ini," kata Ganiyev.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Wall Street Keluar dari Tekanan, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 08:14

Binar Emas Kembali Berkilau, Harga Melesat Lebih dari 2 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 07:35

Bursa Eropa Menguat Tajam setelah Harga Minyak Turun

Jumat, 18 September 2026 | 07:02

UMKM Binaan Peratamina

Jumat, 18 September 2026 | 05:52

KPK Harus Hati-hati Buka Informasi Dugaan Korupsi Bea Cukai ke Publik

Jumat, 18 September 2026 | 05:25

PPN Kejawanan Diproyeksikan jadi Magnet Pertumbuhan Ekonomi Pesisir

Jumat, 18 September 2026 | 04:57

Momentum Memperkuat Akuntabilitas Belanja Negara

Jumat, 18 September 2026 | 04:25

Pembangunan di Papua Perlu Libatkan Kelembagaan Adat

Jumat, 18 September 2026 | 03:48

Perhutani Dorong Ekonomi Desa Lewat Penyaluran PUMK

Jumat, 18 September 2026 | 03:20

Mengawal Garibaldi

Jumat, 18 September 2026 | 02:55

Selengkapnya